Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ Part 63


__ADS_3

Atlanta nampak diam melihat wanita di depannya. Ingin sekali Atlanta memeluk tubuh tersebut, dia sangat kangen akan Leana. Apalagi saat ini Leana dua kali lipat lebih cantik dari sebelumnya. Badan yang sehat dan sedikit berisih.


"Ayo masuk, walaupun saya tidak meneima tamu pengkhianan, tapi saya masih mempunya sopan santun. Jadi silahkan masuk."


Alan dan Antala bermain begitu lama. Bahkan, mereka berdua begitu bahagia saat bermain. Leana mendengus kesal, ingin rasanya dia mengusir laki-laki tersebut dari rumahnya, karena sudah setengah jam berada di sana.


Leana tidak memberikan kopi maupun cemilan di meja. Hanya meja kosong yang Atlanta lihat.


"Kapan pulang?" tanya Leana membuka suaranya.


"Ha? Khawatir?"


"Saya tidak khawatir, saya cuma takut diomongin tetangga bawa laki-laki masuk ke dalam rumah. Apalagi saya cuma tinggal sendiri bersama dengan saya, anda juga sudah lama di sini. Jadi sebaiknya pulang."


"Aku suamimu, Leana."


"Kita udah bercerai."


"Aku belum menalak dan menandatangani surat yang kamu berikan, kamu masih sah menjadi istrku. Maka dari itu, terserah diriku saja mau ngapain!"


"Saya mohon pulang lah," mohon Leana merentangkan tangannya ke atas. "Alan harus belajar dan mandi sore, jika anda dan anak anda di sini, Alan tidak akan ingin belajar."


Atlanta menghela napas. Melihat wajah Leana setengah jam belum membuatnya puas, tetapi dia tak ingin membuat Leana semakin marah. Akhirnya dia mengajak anaknya pulang.


"Antala ayo pulang, nak. Papa banyak kerjaan," sahut Atlanta. Antala pun mendekati papanya.


Alan mendekati mereka. Wajahnya yang tadi bahagia, kini kusut karena Antala dan papanya sudah ingin pergi, tetapi dia masih ingin bermain dengan Antala.


"Kalian udah mau pulang? Enggak sebentar lagi?"


Atlanta menatap Leana yang membuang pandangannya ke luar dari rumah. Atlanta kembali menatap Alan, putranya dengan Leana.


Dia menyuruh Alan mendekat ke arahnya. Alan pun mendekati pria tersebut.


"Bukan pap-"


"Paman," sela Leana, tak ingin Atlanta menyebut nama papa kepada anaknya.


"Paman belum ingin pulang, tapi mamamu yang menyuruh paman cepar pulang, Lan."

__ADS_1


Alan menatap mamanya. Sedangkan Leana menatap juga putranya, Alan yang merasa mamanya marah, jadi tak jadi protes.


"Enggak apa-apa deh, paman. Nanti aku dan Tala main lagi, Alan mau belajar, mandi dan ngaji sama mama," jelas Alan membuat Atlanta yang tadinya anak itu membelanya, tapi dugannya malah salah.


"Yaudah deh paman pulang. Kalau begitu paman pamit, iya," ucap Atlanta berdiri dari sana.


Alan dan Antala saling memeluk. Alan mengantar mereka sampai di luar rumah, sedangkan Leana tidak sama sekali bergerak untuk mengantar pria yang masih berstatus suaminya itu.


"Dada paman ganteng, Antala. Nanti kita ketemu lagi, iya," seru Alan.


"Alan nanti main ke rumah Antala iya, Antala punya banyak mainan nanti kita main sama-sama. Terus nanti Antala perkenalkan oma dan opa Antala yang sayang Antala," jelas Antala membuat Alan menganggukan kepalanya.


Sepeninggalan mereka, Alan berlari ke gendongan mamanya. Leana pun langsung membersihkan tubuh Alan, setelah itu kerja pr. Sekalian mengaji sambil menunggu adzan magrib.


"Alan ikutin mama, iya!" perintah Leana membuat Alan buru-buru menganggukan kepalanya.


Ibu dan anak itu pun sholat bersama. Setelahnya, Alan kembali meminta untuk mengaji, dengan senang hati Leana mengajari putranya. Jarang-jarang, anak itu meminta duluan.


"Alan udah iqro dua mama," seru Alan mencium pipi Leana membuat Leana terkekeh lalu memeluk tubuh putranya dengan erat.


Bayangan tadi saat bertemu dengan Atlanta jadi melayang. Dia jadi mikir, gimana jika saat nanti pria itu akan mengambil putranya? Leana tidak akan membiarkan itu terjadi. Sebelum semuanya terlambat, Leana akan pindah rumah.


Leana melepaskan pelukan putranya, dan membuka lemari untuk berkemas. Dia tak ingin bertemu kembali dengan Atlanta.


"Kita harus pergi, sayang. Kita balik ke Bandung, mama ada urusan di sana."


"Nanti Alan enggak ketemu dengan Antala dan paman ganteng lagi dong?"


Leana menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah anaknya. Dia mwmehang kedua pipi Alan.


"Alan enggak maukan pisah sama, mama?" tanya Leana membuat Alan langsung menggelemgkan kepalanya dengan keras.


"Nah maka dari itu, kita harus pergi sayang. Ada orang yang ingin memisahkan mama dari kamu, dan mama tak ingin itu terjadi."


"Siapa mama?"


"Orang jahat."


"Apa orang itu pernah lukai mama sampai mama sebut dia jahat?" tanya Alan.

__ADS_1


Leana menganggukan kepalanya. "Dia berulang kali melukai mama, makanya mama enggak mau nanti Alan juga di lukai. Mama enggak bisa. Jadi alan maukan kita pindah?"


Tanpa banyak pikir Alan langsung menganggukan kepalanya. Dalam kepala anak genius itu sudah menyimpan dengan dalam perkataan mamanya. Suatu nanti, dia akan membalas perbuatan orang jahat itu, karena berani membuat mamanya luka.


Sebelum pergi, Leana memberitahu Dito dan juga istrinya untuk pamit. Dia tak ingin mereka khawatir tak mendapati keberadaan dirinya dan sang anak


...Kak Dito...


"Kak, Kakak enggak perlu datang ke kontrakan Lea lagi. Saat ini Lea akan ke bandung. Atlan udah tahu keberadaan Leana, Leana tak ingin dia mengambil Alan dari Lea jadi Leana akan ke Bandung. Lea minta izin untuk menempati vila kakak sampai Lea membuka tokoh kue kembali, tolong buat Leona untuk menurusukan untuk mengelola tokoh kue lea, kak."


Setelah mengirimkan semua pesan kepada Dito, Leana menggendong putranya menuju halte bus yang akan ke bandung. Dia sengaja tidak meminta Dito untuk mengantarnya, karena menurutnya sudah malam pasti Dito dan istrinya pasti butuh istirahat. Lagian dia sudah meminta banyak bantuan dari pasangan tersebut.


Alan memegang robot-robot yang diberikan Atlanta kepadanya, walaupun Leana mengatakan jika mainan tersebut di simpan saja, tetapi Alan menangis dan kekeh untuk membawa mainan tersebut.


Untungnya di bus tersebut ada yang ingin membantunya mengangkat kopornya yang ada dua. Orang itu tahu, saat ini Leana sedang kesulitan.


Leana memangku putranya yang mulai tidur, dengan masih memeluk robot-robotnya.


Saat bus berhenti di tempat beristirahakan. Leana menggendong putranya turun dari bus, Leana akan membelikan susu untuk Alan.


"Alan bangun dulu, sayang. Mama udah beliin Alan susu, di minum dulu terus mams suapin makan," ucap Leana membuat Alan membuka matanya dan mengambil susu yang dipegang mamanya.


Leana pun menyuapi Alan makan. Sedangkan Alan juga ingin menyuapi mamanya. Terpaksa Leana juga membuka mulutnya agar anaknya leluasa.


"Mama kita udah mau sampai di Bandung?" tanya Alan.


"Udah mau sampai, semua orang harus beristirahat dulu sebelum lanjut lagi."


Alan manggut-manggut saja lalu membuka mulutnya kembali saat mamanya menyuapinya.


"Mama robot Alan mana?" tanya Alan tak melihat robotnya.


Leana yang juga baru menyadari jika Alan sudah tidak memegang robot-robot lantas menoleh kiri-kanan.


Leana berdiri saat melihat seseorang laki-laki yang sedang memegang robot-robot yang sangat mirip dengan punya anaknya.


"Alan itu robot kamu?" tanya Leana menunjuk seseorang pria yang memegang robot, karena dia juga tak yakin jika itu milik putranya kan malu saat dirinya mengambil robot tersebut?


Alan menatap pria tersebut agak lama. Dengan perlahan Alan menganggukan kepalanya, benar itu robot-robotnya.

__ADS_1


Leana pun mendekati pria tersebut dengan perlahan dia menepuk pundak pria tersebut seraya mengucapkan. "Permisi."


Pria itu menoleh sambil memegang sebuah robot di tangannya.


__ADS_2