
"Ok, apa mau kalian?" tanya Altar, seakan sudah tak bisa berbuat apa-apalagi. "Gue turuti, tapi buang boom itu dari dekat istri dan mamah gue!"
Papa Aksa, bahkan ada Ilona di sana.
Papa Aksa menoleh ke arah Ilona, dan saling senyum.
"Saya mau, Anda lepaskan anak saya," sahut Baro, papa Aksa.
"Lo nikahin gue," ujar Ilona santai.
"Kalian gila?" tanya Altar berteriak. Menurutnya tindakan mereka sangat tidak masuk akal.
"Itu aja sih, kalau gak, istri dan mamah lo mati sia-sia di rumah lo sendiri," balas Ilona.
Altar berdecek. "Gue gak mau!" ujarnya.
"Altar, lo beneran mau istri lo mati?" tanya Ilona.
"Lakukan apa yang kalian mau," jawab Altar, tersenyum devil.
Baro dan Ilona saling tatap. Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari luar, membuat kedua manusia tersebut panik.
"Lo beneran mau istri lo mati?" tanya Ilona, kelihatan panik sambil memegang tombol peledak di tangannya.
"Lo kira, gue tolol?" tanya Altar. "Jelas-jelas tombol tersebut tidak berfungsi, dan istri gue aman saat ini, dia bukan di rumah gue sekarang. Rencana lo kurang lambat sayang," ujar Altar, sedikit demi sedikit melepaskan tali ikatannya yang terikat di kursi.
Altar memegang dagu Ilona namun tak lupa mamakai sapu tangannya.
"Lo salah, cara bermainnya," ketus Altar, mencengkram lebih kuat dagu Ilona.
__ADS_1
Sementara Baro berlari ke luar jendela namun pria itu tidak tau, kalau sebuah kejutaan sudah menunggunya di luar.
"Ck, manusia-manusia bodoh," umpat Altar.
"Altar, ma-fiin gue, gue janji tidak akan mengulanginya lagi, lo pasti maafin gue kan? Gue sahabat lo, lo gak akan setega itu melukai gue atau membuat gue masuk penjara," ujar Ilona dengan keringat membasahi wajahnya.
BRAK!
Altar melempar tubuh Ilona, sehingga gadis itu berteriak.
"Terus lo apa anjing? Lo hampir membuat istri gue di lac*r bangsad, jadi dimana letaknya gue harus membiarkan hidup lo tenang?" tanya Altar.
"Ok, gue gak akan membuat lo masuk penjara, jadi bangun dan berdiri di depan gue, sekarang!" pinta Altar penuh tekanan.
Mendengar ucapan Altar, Ilona berbinar dan berusaha membangunkan dirinya walaupun kepalanya hampir pecah karena terbentur di lantai.
Altar mengode ke arah luar dengan mengerakkan tangannya, dan tak lama Vier dan Evan datang.
"Jalankan rencana yang sempat tertunda," pinta Altar, dan di angguki oleh Kedua temannya.
Evan dan Vier menyeret tubuh Ilona, Ilona yang memang bodoh atau tak tau, hanya mengikut tanpa bertanya, dia sudah memikirkan kalau Altar tak setega itu padanya.
"Ini cewek, bloon atau apa?" bisik Vier.
"Udah tau, lakor memang bloon," balas Evan.
Ilona mendengar bisikan mereka hanya berdecak sebal.
Beberapa saat kemudian, Evan dan Vier berhenti di sebuah ruangan gelap, hanya ada cahaya dari ponsel Vier yang bisa membuat mereka melihat.
__ADS_1
"Eh, kok gelap? Altar mau ngapain gue di sini?" tanya Ilona, panik.
"Mau di lahap sama harimau Altar," jawab Evan berbisik di telinga Ilona.
"Harimau?" tanya Ilona, dan beberapa saat malah berbinar.
"Lah, gak bahaya ta?" tanya Vier ke Evan.
"Yaudah, cepat ikat gue," pinta Ilona, sehingga membuat kedua teman Altar melotot.
"Tolol emang, mungkin pikirannya harimau yang ada di tengah paha Altar kali," ujar Vier.
"Parn* mulu lo njing, tapi ada benarnya juga," timpal Evan menggerik ngerih.
Mereka mengingkat ke belakang tangan Ilona di kursi, gadis itu malah enteng.
"Berdo'a lah, semoga hidup lo selamat," bisik Evan, menarik lengan baju Vier keluar dari ruangan gelap itu.
"Apa besar ya, harimaunya Altar?" gumam Ilona.
Ilona sama sekali tidak melihat, ruangan itu benar-benar gelap.
beberapa saat, ada sebuah cahaya yang menyerapa wajahnya.
Yang pertama dia lihat adalah Altar, Ilona tersenyum, kayanya yang dia pikirkan memang benar.
Namun Ilona terkejut, saat Altar menjongkokan dirinya, dan melihatnya hewan besar di samping lelaki itu.
"Ombih, lapar tak?" tanya Altar, mengusap kepala kucing besar tersebut.
__ADS_1