
Walaupun dapat omelan dari sang istri, tapi Atlanta sangat senang, karena diperhatikan.
"Sayang aku mau tidur di ranjang sama kamu, bisa iya?" tanya Atlanta saat Leana memberikannya selimut dan bantal.
Leana sedikit berpikir tidak langsung menerima Atlanta. Apakah dia harus mengizinkan Atlanta untuk tidur bersamanya?
"Sayang..."
"Baiklah, boleh," jawab Leana membuat Atlanta tersenyum dan beranjak menaiki ranjangnya.
Atlanta memperbaiki posisi tidurnya sambil memeluk istrinya dari belakang. Leana pun hanya terdiam tidak protes dengan apa yang dilakukan Atlanta.
Menurutnya dia juga merasa nyaman di posisi di mana Atlanta memeluknya dari belakang, apalagi menaroh kepalanya di tengkul lehernya.
mereka berdua pun terlelap sampai matahari terbit kembali. Tidur Atlanta begitu nyenyak, karena semalam bisa memeluk istrinya sampai pagi begitu pun yang dirasakan Leana.
"Huek..." Leana melepaskan pelukan Atlanta dan berlari memasuki kamar mandi.
__ADS_1
Atlanta yang mendengar suara orang muntah pun terbangun, dia menatap sekitar tidak menemukan istrinya. Dengan keadaan cemas, Atlanta berlari masuk ke dalam kamar mandi padahal saar ini dia hanya menggunakan boxser, karena sarung dia gunakan semalam sudah melorot sehabis sholat isya.
"Astaga, sayang. " Atlanta langsung memijat tengkuk leher istrinya dia kembali berlari keluar kamar mandi untuk mengambil segelas air putih dan memberikannya pada sang istri.
Atlanta memeluk istrinya, ada rasa cemas yang dia rasakan saat ini. Beberapa saat dia melepaskan pelukannya dan membersihkan aera bibir Leana.
"Kita ke rumah sakit? Aku takut kamu kenapa-napa," ucap Atlanta langsung menggendong istrinya keluar dari kamar dan menidurkannya di ranjang.
"Enggak usah, aku enggak mau," tolak Leana. Dia tahu jika dia mual, karena semalam makan sup telur. Dia akan mual saat makan telur di rebus.
"Tenggorokan ku serasa berminyak," aduh Leana. Tanpa masuk ke dalam dekapan Atlanta, menghirup bau khas tubuh Atlanta.
"Kita ke rumah bunda, iya? Kita untuk berkunjung sekalian untuk memeriksa keadaan kamu. Tidak ada penolakan kamu harus menerimanya!"
Atlanta mengambil pakaian istrinya yang berada di lemari. Dan membantu istrinya mengganti pakaian. Saat ini Atlanta masih bisa mengontrol dirinya.
"Ayo, sayang." Atlanta membantu istrinya keluar dari kamar. Padahal Leana janya mual, tapi perhatikan Atlanta sangat berlebihan.
__ADS_1
Sebab malas berdebak, Leana tidak banyak bicara sampai mereka di kediaman rumah bunda Karen. Semoga saja wanita tersebut ada di rumah.
"Assalamualaikum," ucap mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsslam," balas seseorang yang tak lain adalah bunda Karen yang baru saja ingin berangkat ke kliniknya.
"Astaga ternyata mantu bunda." Bunda Karen langsung memeluk Leana, Leana pun membalasnya.
"Huek..." Leana memberikan tas yang dia bawa ken Atlanta dan berlari ke arah wastafel untuk memuntahkan sesuatu dalam perutnya yang sedang bergelut.
"Istrimu kenapa, Ta?" tanya bunda Karen.
"Sebab itu yang membuat kami datang ke sini. Atlanta ingin bunda memeriksa Leana, tadi pagi dia terus saja muntah," jawab Atlanta dan berlari menghampiri istrinya.
Sedangkan bunda Karen bukannya panik malah tersenyum gembira.
"Duh apa ini tanda-tanda akan mempunyai seorang cucu menggemaskan?" tanya bunda Karen dalam hatinya.
__ADS_1