Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ Part 25


__ADS_3

Leana menatap suami dan mertuanya. Dia jadi merasa bersalah membuat mereka kecewa.


"Maaf."


"Maaf kenapa, sayang?" tanya bunda Karen.


"Leana belum bisa ngasih cucu ke bunda," jawab Leana menangis dalam pelukan Atlanta.


Entah mengapa sikap sok arogannya seakan hilang saat ini di ganti dengan kemanjaan, tapi Atlanta senang melihat istrinya seperti kepadanya.


"Siapa bilang kamu belum bisa ngasih cucu kepada bunda? Buktinya ini." Bunda Karen menyodorkan benda kecil tersebut ke arah mereka berdua.


Leana menghapus air matanya dan menerima benda tersebut. Keduanya saling menandang, Atlanta tersenyum, Leana pun perlahan tersenyum.


"Jadi bunda tadi bilang gagal kenapa?" tanya Atlanta kesal, karena bisa-bisanya bundanya ngeprank dirinya dan sang istri.


"Oh itu, bunda cuma bercanda aja. Enggak usah di anggap serius, cuma pengen lihat reaksi kalian. Kalian udah siap belum punya anak."


"Sebenarnya kami belum siap bunda, tapi kalau Allah sudah menitipkan buah hati, kami akan menerimanya dengan segenap jiwa kami," jawab Atlanta mencium ubun-ubun kepala istrinya.


"Makasih, sayang," ucap Atlanta menghujamkan ciuman di wajah Leana. Membuat bumil tersebut mendengus kesal.


"Atlanta, aku belum percaya kalau aku hamil. Kan kita berhubungan cuma dua kali. Aku pikir aku mual karena kamu membawa telur rebus semalam dan aku memakannya," ucap Leana kepada Atlanta.


"Astaga aku lupa itu." Atlanta menepuk jidatnya, karena lupa bahwa Leana tidak bisa makan telur rebus. "Maaf."


"Enggak apa-apa."


Bunda Karen melihat kedua pasangan tersebut hanya mampu tersenyum. Semoga rumah tangga mereka awet, tidak seperti pernikahannya yang kandas saat melahirkan Cila ke dunia.


Di mana ada sang suami yang pergi meninggalkannya, dan menikah di belakangnya dengan wanita lain. Cuma ada Atlanta yang menemaninya di persalinan. Untung saja, Atlanta sudah dewasa waktu itu.


"Besok atau sebentar kalian ke rumah sakit, untuk mengecek kandungan Leana. Bunda bukan dokter kandungan, jadi kalian bisa memeriksa sekalian cari tahu apa dan tak bisa dilakukan untuk orang hamil."


"Baik bunda," ucao meereka berdua.


Bunda Karen melihat arloji yang ada di pergelangan tangannya. Dia menepuk jidat, karena terlambat untuk ke rumah sakit.

__ADS_1


"Astaga bunda terlambat, bunda tinggalin kalian berdua iya. Maaf banget." Bunda Karen mengambil tasnya dan berlari keluar kamar dan memanggil sopir untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Melihat wanita itu hebo, Leana dan Atlanta terkekeh bersama. Leana yang sudah sadar apa yang dia lakukan, langsung mejauhkan dirinya dari Atlanta dan berjalan keluar dari kamar.


"Ayo pulang," ajak Leana dengan dingin.


Atlanta tetap tersenyum, walaupun sikap istrinya seperti sok cuek, tapi Atlanta tahu bahwa dalam hati Leana sudah ada maaf untuknya.


"Tunggu, sayang," teriak Atlanta mengambil tas istrinya dan berlari mengikuti langkah sang istri.


"Aku bisa naik sendiri, Atlan!" tegas Leana saat menolak Atlanta mengangkatnya naik ke atas motor.


"Enggak bisa, kamu bisa saja jatuh. Kamu tuh pendek, mana bisa naik?" tanya Atlanta mengangkat tubuh Leana ke atas motor.


Leana pun mengerucut bibirnya karena disebut pendek oleh Atlanta.


"Aku enggak pendek!"


Atlanta menghela napas lalu menganggukan kepalanya. Dia tak ingin lagi merusak mood bumil itu yang nantinya akan berdampak buruk baginya.


"Pegangan yang erat," pinta Atlanta menarik tangan istrinya untuk memeluk pinggangnya. Leana pun terpaksa menurut.


Leana hanya berdehem saja, mengikut ke mauan Atlanta. Bukannya laki-laki itu yang mengendarai motor, kenapa harus minta izin kepadanya?


Atlanta berhenti tepat di depan markas anak geng motor Eroz. Atlanta membuka helmnya dan menoleh ke belakang. Dia turun dari motor lalu menurunkan istrinya.


Atlanta saling tosan dengan anggota Eroz sedangkan Leana hanya mengekor di belakang laki-laki tersenyum. Setelah bertahun-tahun tidak bersama lagi dengan Atlanta, Leana kembali canggung untuk menyapa semuanya, karena dulu mereka juga ikut menghujatnya.


"Atlanta, ayo kita pulang," ucap Leana memeluk lengan Atlanta merasa takut dengan mereka semua, karena menatapnya.


Atlanta yang menyadari tatapan mereka semua, langsung saja mengalihkan perhatiannya dan menyuruh mereka membuang pandangannya.


"Jangan ada yang menatap seperti itu istri gue, kalau mata kalian tak ingin gue colok satu-satu!" perintah Atlanta mengancam.


Mereka semu pun mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena takut akan ancaman. Atlanta sebelas dan dua belas dengan Altar, jika mengancam tidak pernah bermain-main.


"Halo WhatsApp, lama enggak mampir sekali mampir bawa pawang," sahut Dito dan Davin bersama saling tos dengan Atlanta. Mereka pun memberikan senyuman kepada Leana.

__ADS_1


Mereka jadi merasa bersalah, saat tahu jika video tersebut tidaklah benar. Bahkan, mereka ikut merendahkan diri Leana di depan umum.


Berulang kali mereka datang ke tempat Leana untuk meminta maaf, tapi satu di antara mereka tidak ada yang dapat maaf Leana.


"Gue datang ke sini bukan berdua, melainkan bertiga," ucap Atlanta membuat mereka saling memandang mencari satu orang lainnya yang datang bersama dengan mereka.


"Kalian mau nyari kepada?" tanya Atlanta.


"Nyari di belakang lo, lo bawa siapa sih? Bukannya lo cuma datang sama bu wakil?" tanya Dito.


Atlanta langsung tertawa mendengar pertanyaan sahabatnya. Hal tersebut mampu membuat mereka berdua kembali bingung dibuat Atlanta.


"Dalam sini." Atlanta mengusap perut istrinya membuat Dito dan Davin saling memandang sesaat lalu kembali menatap Atlanta dan Leana.


"Leana hamil, Ta?" tanya Dito membuat Atlanta berdehem.


Atlanta menyuruh istrinya duduk di sofa yang ada di sana. Leana pun hanya menurut.


"Jadi, bentar lagi kami akan jadi paman muda?" tanya Dito lagi membuat Atlanta kembali berdehem.


Kedua manusia soplak tersebut saling memeluk satu sama lain. Akhirnya mereka akan di panggil paman.


"Huaaa... Bentar lagi udah jadi paman, tapi tantenya belum ada gimana ini?" tanya mereka berdua berpelukan.


"Takutnya nanti kecebong Atlan, malah mengecek kita," sahut Dito.


"Benar banget, huaa."


Atlanta dan Leana hanya geleng-geleng saja. Dito dan Davin adalah duplikan Evan dan Vier. Enggak ada bedanya sama-sama absurd.


"Kita secepatnya nyari tante membuat kecebongnya sih Atlanta sih. Jangan sampai dia meledek kita, bisa mati harga diri ini jika dia mencari tantenya di mana."


"Hahaha." Atlanta tertawa keras mendengar mereka berdua, sialan sikap tengilnya mulai keluar juga.


Mahesa yang baru saja datang menjadi bingung melihat ketiga temannya yang sepertinya ke habiskan stok obat. Mahesa yang baru datang aja melihat sudah furstasi gimana dengan Leana?


"Ini ada apasih?" tanya Mahesa membuat mereka menoleh.

__ADS_1


Dito dan Davin berlari memeluk Mahesa. Mahesa pun mengerutkan keningnya melihat kedua temannya.


"Mahes, lo enggak ada niatan cari pasangan cok? Bentar lagi kita jadi paman, tapi tantenya belum ada."


__ADS_2