
"Huek." Pagi ini Altar keluar, masuk kamar mandi hanya karena mual, perutnya seakan beraduk-aduk.
Yang biasanya Aisha yang mengalami, kini entah mengapa Altar yang mengalami mual.
"Minum, dulu kak," pinta Aisha menyodorkan segelas air ke arah suaminya, sambil meminjat tengkuk leher sang suami.
Wajah Altar sudah merah padam, setiap ada yang masuk ke dalam mulutnya, akan dia keluarkan.
Aisha mengusap wajah suaminya lembut. "Kita periksa ke dokter ya? Ais gak tega lihat kakak seperti ini," jelas Aisha.
Altar menggeleng. "Kakak, takut sunting!" jawab Altar, memeluk pinggang Aisha.
"Gak akan, di sunting cuma di periksa aja!" jelas Aisha menenangkan Altar.
Altar mendongek ke atas. "Takut," keluhnya dengan wajah imut.
Beberapa saat, Marwa datang.
"Altar, kenapa Ais?" tanya Marwa, mendengar dari art rumahya, kalau anaknya itu sedang tidak baik-baik.
"Muntah-muntah, Mah," jawab Aisha.
Marwa malah tersenyum.
"Kok, Mama malah senyum sih? Anaknya menderita juga," ketus sang anak pada Mamanya.
"Emang, Mama suka kamu menderita!" cibir mamanya.
Altar hanya mencibikkan bibirnya ke arah sang mama.
"Pokoknya, Altar gak mau ke rumah sakit!" bantah Altar.
__ADS_1
Aisha yang ingin berucap namun tak jadi, karena di sela duluan oleh sang mertua.
"Gak usah, Ais, biarin gak usah ke rumah sakit, hal seperti ini memang sering terjadi. Istri yang hamil suami yang muntah-muntah. Papa kamu juga dulu sering begitu, saat tengah mengandungnya," jelas Marwa menyela.
"Emang, bisa gitu ya?" tanya mereka berdua secara bersamaan.
Marwa mengangguk.
Altar menatap istrinya lalu tersenyum. "Baguslah, mending aku aja yang muntah-muntah dan mual terus setiap pagi, dari pada kamu, kakak gak tega lihatnya," keluh Altar.
Marwa yang melihat Altar begitu nempel pada menantunya, seketika tersenyum.
"Ya deh, pasangan bucin. Kalian jangan lupa turun untuk sarapan!" pinta Marwa, beranjak pergi dari kamar sang anak dan menantunya.
"Sayang, ini cara menghilangkannya gimana?" tanya Altar, menunjukan tangannya ke arah Aisha.
"Di kupas aja kak Altar, itu gak permanen kok," jawab Aisha.
"Mandi bareng?" tanya Aisha membuat Altar mengangguk lagi dengan cepat.
Aisha tersenyum, lalu merentangkan tangannya ke arah Altar.
******************
"Kalian, kok udah rapi banget, mau kemana?" tanya Kana pada anak dan menantunya.
"Altar, mau donasi ke anak-anak jalanan yang butuh makan di luar sana, Pah, bersama anggota geng motor Altar," jawab Altar.
"Istri mu, juga ikut?" tanya Marwa menyahut.
Altar mengangguk menatap Aisha yang makan dengan lahap.
__ADS_1
"Mengajak menantuku, ke tempat markas kamu yang kotor itu?" tanya Kana ngegas membuat Aisha menoleh.
"Markas Altar, gak kotor Pah!" protes Altar, mengabrak meja, sehingga Aisha yang berada di sampingnya tersentak kaget. "Kenapa Papa, selalu saja menghina geng motor Altar?" tanya Altar penuh amarah.
Kana ikut berdiri dan sama mengebrak meja. "Jelas, di sana banyak anak-anak berandalan, jelas itu kotor bagi papa! Kalau kau ingin pergi, pergilah sendiri jangan mengajak Aisha ketempat kotor seperti itu," tekan Kana pada putranya.
tatapan mereka saling menajam satu sama lain, seperti sedang mengibarkan bendera peperangan.
Aisha dan Marwa saling tatap dan pada akhirnya mengampiri suami masing-masing.
"Kak Altar."
"Mas."
Aisha dan Marwa menuntut suami mereka, untuk duduk.
Walaupun sudah di pisahkan, tatapan mereka masih saling aduh pandang dengan satu sama lain.
"Kak Altar!" tegur Aisha, mengalihkan pandangan suaminya ke arahnya. "Udah, kak Altar," lanjut Aisha.
"Kakak gak suka, dengan ucapan papa, seakan merendahkan geng motor kakak! Kakak tau, aku, dan yang lain, anak berandalan, tapi kami tau sopan santun dan tidak kotor!" tekan Altar.
Aisha mengangguk. "Ais, tau itu!" jawab Aisha.
"Tetap aja, ge-" Kana yang ingin kembali membantah anaknya namun cepat-cepat Marwa mencegahnya.
"Udah, Mas," tegur Marwa mengajak suaminya itu pergi dari sana, meninggalkan anak dan menantunya.
...----------------...
__ADS_1