
Leana berteriak dan berusaha menghindar dari kejaran seseorang. Saat pulang dari supermarket Leana merasa diikutin oleh seseorang. Tadinya bumil itu bersikap biasa-biasa saja. Namun saat dia berbalik badan dia melihat dua orang bertubuh kekar tengah mendekatinya.
Bumil tersebut mencari ponselnya, tapi dia lupa jika ponselnya mati. Akhirnya dia hanya mampu lari melewati gang kecil.
Dua pria bertubuh kekar itu pun terus saja mengejarnya. Leana mulai lembah, perutnya mulai kram karena terus berlari. Entah apa yang harus dia katakan kepada sang suami jika dia keluar sendirian dari rumah tanpanya.
Dia menyesal karena telah berani mengingkari janjinya kepada Atlanta, tapi bumil tersebut ingin sekali memakan cemilan dan tak ingin merepotkan Atlanta yang sedang kerja. Akhirnya dia nekat untuk keluar rumah.
Leana panik saat lorong kecil tersebut ternyata buntuh, wanita tersebut hanya mampu menggelengkan kepalanya. Kedua preman tersebut tersenyum devil dan mendekatkan diri kepada Leana.
"Ka-lian mau apa?" tanya Leana.
"Mau kamu lah cantik," jawab salah satu preman tersebut kepada Leana.
Leana menggelengkan kepalanya, berusaha mencegah kedua laki-laki tersebut. Leana semakin takut, karena keduanya tertawa dan mulai ingin memegang tangannya.
__ADS_1
Bruk!
Leana berhasil menendang perut salah satu preman tersebut. Leana pun langsung berlari keluar dari lorong tersebut. Namun, perutnya sudah sangat kram dan merasa tidak tahan. Sebuah cairan merah mengalir ke kakinya membuat Leana menjerit kesakitan.
"Atlanta, sakit," ringid Leana ambruk di tanah. Dia menoleh ke belakang melihat preman itu kembali mendekatinya.
Dengan sekuat tenaga Leana ingin berdiri. Namun, usahanya malah nihil. Perutnya sangat sakit, bahkan bumil tersebut sudah berkeringat dingin.
"Jangan mendekat hiks-hiks. Suamiku akan membunuh kalian kalau kalian berani macam-macam," teriak Leana mengancam.
"Emang kami pikirin? Palingan suami lo cuma di bawah kami," jawab preman tersebut tertawa, sedangkan Leana berusahs menahan rasa sakitnya.
"Sayang yang kuat ya di dalam perut Mama, kita berdo'a semoga ada pertolongan," batin Leana mengusap perutnya. "Iya Allah selamatkan hamba."
Leana langsung melempari mereka pasir yang sudah dari tadi Leana gengam. Mereka mengucek mata mereka yang kemasukan pasir. Itu pun Leana mengambil kesempatan.
__ADS_1
Kali ini dia usahakan untuk berdiri dan berlari. Dia tidak mempedulikan darah yang terus saja mengalir di pahanya. Kalo ini hanya keselamatannya dan bayinya yang dia peduli kan.
"Tolong," teriak Leana sambil memegang perutnya yang terasa di remas-remas.
"Tolong siapa pun, hiks-hiks." Leana menoleh ke belakang masih ada kedua preman itu yang mengejarnya.
Entah apa mau preman tersebut. Jika di lihat dari penampilannya, penampilan Leana sangat tertutup, banyak gadis yang berlalu lalang yang memakai pakaian yang terbuka, kenapa bukan mereka aja yang di kejar malahan Leana? Apa mereka orang seruhan dari seseorang? Tapi siapa? Setahu Leana, dia tidak mempunyai musuh sedikit pun.
"Mau lari kemana, kamu?" tanya Preman tersebut langsung menangkap tubuh Leana membuat wanita tersebut menjerit.
"Lepasin," teriak Leana memberontak dalam kukungan mereka berdua.
Preman satunya, langsung membengkam mulutnya dengan sapu tangan membuat Leana tak sadarkan diri.
"Cepat, bos akan menunggu kita di markas. Mampus kita, bos tidak membiarkan dia terluka, tapi malah kita buat dia pendarahan."
__ADS_1