
"Dih punya cewek aja lo gada yakali punya cucu, ngayal deh lo Kafir," cibir Evan.
"Kafir kafir mata lo Kafir, nama gue Vier!" protes Vier.
"vier tapi disebut Kafir kan cocok,"timpal Kendra.
"Serah lo pada, capek gue ngomong sama cucu segiono kaya lo pada!" ujar Vier.
Aisha tersenyum dibalik cadarnya. Melihat kelakuan teman teman suaminya
"Punya teman kaya mereka pasti seru iya," gumam Aisha bisa didengar oleh Altar.
"Ga!" balas Altar singkat.
Aisha menoleh kearah Altar. "Seru tau!"
"Eh Bu ketua gapapa?" tanya Cakra.
Aisha menoleh menatap kearah Cakra. "Gapapa kok! Cuman cederah sedikit aja!"
"Benar benar si Girang," ketus Vier sambil menjambak rambut Evan.
"Apa sih bangsad gue diam juga!" umpat Evan.
"Gue mau praktekin misalnya gue jambak rambut Girang!" sahut Vier.
Evan hanya memutar bola matanya.
"Lo makan dulu jangan ladengin mereka. Gaada habisnya," sindir Altar.
__ADS_1
"Maksud lo apa bro ha?" tanya Vier membuang botol minum kelantai dengan sangat keras. " Ga, ga! Bercanda loh bos, jangan kaya gitu ah muka nya," lanjut Vier, disaat melihat tatapan Altar.
Altar memberi Vier jari tengahnya sehingga mendapatkan teguran dari Aisha.
"Kak Altar!" ujar Aisha menatap suaminya.
"Refleks," jawab Altar. "Lo makan!" Altar membuka kan Aisha kotak plastik yang berisi nasi goreng.
Aisha membuka mulutnya disaat Altar menyuapinya menggunakan sendong plastik.
"Uwuwu, swiet banget sih," ujar Vier menangkup kedua pipi nya sambil melihat drama romantic didepan nya.
"Makanya jangan kelaaman jomblo," sahut Cakra.
"Dia ga laku soalnya dia mirip Rozi," timpal Evan
"Alah sok sokan ngekritik seseorang padahal dirinya juga sama!" cibir Vier.
"Yang bilang lo sedang pargoy siapa Ken?" tanya Cakra.
"Iya ga lah anj-" Vier membengkap mulut Kendra agar tidak melanjutkan perkataannya.
"Bu ketua ada disini njir, jaga omongan dong!" ucap Vier.
"Bu ketua, gue boleh nanya ga sih?" tanya Evan.
Aisha hanya mengangguk. "Boleh boleh banget, ada apa Van?" tanya Aisha.
"Lo pake pelet apa, buat Altar luluh sama lo?" tanya Evan sedikit berbisik ditelinga Aisha agar Altar tidak mendengar nya.
__ADS_1
Altar mendorong tubuh Evan dari dekat istrinya.
"Aelah pelit banget!" ketus Evan.
"Bukan muhrim!" sahut Altar. Membuat Aisha tersenyum.
"Evan temani gue ketoilet dong! Udah diujung ini!" ujar Vier menarik Evan pergi dari sana.
"Gue ikut!" sahut Kendra berlari menghampiri mereka.
Beberapa saat kepergian mereka bertiga. Cakra pun ikutan berlari mengikut mereka.
"Ayo kekelas!" ujar Altar dan hanya diangguki oleh Aisha.
Mereka pun menurungi anak tangga untuk kembali kekelas. Altar dengan Aisha memang sekelas. Mereka sudah berada dikelas 12 dan sebentar lagi akan lulus.
Kedatangan mereka, membuat satu kelas hebo apalagi saat itu Altar sedang mengenggam tangan Aisha sampai dimana tempat Aisha duduk.
"Buat lo pada yang nyentuh dia seujung kuku saja, lo akan berurusan dengan gue! Dengar itu!" ancam Altar. "Apa kalian dengar?" teriak Altar.
"Dengar Altar," teriak mereka serentak.
Altar hanya mengangguk. Sebenarnya Altar tidak akan berbuat kasar kalau bukan seseorang itu yang menganggu hidupnya, atau berani mencari masalah dengan nya.
"Hua lo gapapa?Tadi gue gabisa nolong lo karena gue antar si Alma pulang, maafin gue iya?" Kiara merasa bersalah tadi dia mengantar Alma pulang karena Alma tiba tiba demam tinggi, jadi tidak melihat kejadian yang menimpah kesatu temannya.
"Gapapa Kia, aku juga udah gapapa!" ujar Aisha.
"Awas aja si jamet, gue bakal biarin dia lolos dari jambakan gue!" seru Kiara greget dengan kelakuan Galang.
__ADS_1
"Sabar Kia," ujar Aisha.
"Hati lo terbuat dari apa sih Ais? Lembut banget, jangan jangan lo terbuat dari tanah liat yang basa makanya lo selembut ini. Beda sama gue yang lahir ditanah liat yang keras dan kering makanya emosi gue setipis dompet Evan," ujar Kiara dan sedikit menyindir di kalimat terakhirnya disaat Evan masuk kedalam kelas.