
Vier mendengus kesal saat kedatangan ketiga temanya kerumahnya itu. Rumahnya serasa menjadi kapal pecah di perbuat ketiga temanya walaupun dia juga ikutan sih.
"Janda yang mana, janda yang mana yang tuan sukai," teriak Evan memegang mic.
Cakra mencabut colokan mic karena telinganya hampir rusak mendengar suara Evan.
"Gausah nyanyi rumah gue serasa retak tau ga, dengar suara ceprek lo itu," celetuk Vier. Melempar bantal kearah wajah Evan.
"Alah bilang aja lo iri sama suara merdu gue,"cibir Evan mencolok kembali kabal mic itu. Namun cepat cepat Evan diserbu ketiga temannya.
"Udah anj udah," pukul Kendra menggunakan bantal kewajah Evan diikuti yang lain.
"Tetangga sebelah udah ngomel dengar lo nyanyi," ujar Cakra memasukan tisu kedalam mulut Evan agar cowok itu diam. Bahkan Vier menjambak rambutnya.
"Oheh hue ngahala ohe, efasin ajelin," ujarnya dengan tidak jelas karena bengkapan Cakra.
Cakra pun mengeluarkan tisu itu di mulut Evan menggunakan obeng motornya.
"Anjir, ga pake obeng juga ege," ujar Vier.
"Tuh obeng stay di saku Cakra iya?" tanya Kendra.
Evan pun memperbaiki penampilannya yang acak acak kan karena ulah teman temannya.
"Kuy ke persimpangan tiga," ajak Vier.
"Mau ngapain lo ke persimpangan tiga?" tanya Kendra.
__ADS_1
"Nyari janda," jawab Vier. " Maksud gue dekat persimpangan tiga ada taman terus ditaman itu banyak pedagang kaki lima, kata nya sih disana lagi rame ramenya," jelas Vier.
"Ng ngerih? Kakinya ada lima," celetuk Evan sehingga mendapatkan toyoran dari Cakra.
"Maksud Si epor, pedagang pedagang menggunakan gerobang ngejualnya," jelas Cakra.
"Itukan make roda bukan kaki!" protes Evan.
"Auh ah, serah lo, malas gue ngomong dengan kembaran Rozi," timpal Cakra.
Cakra menarik kerah baju Vier dari belakang. Membuat cowok itu mendengus kesal.
"Apa?" tanya Vier.
"Lo mau Jalan dengan penampilan lo kaya gembel gini?" tanya Cakra.
Vier yang baru menyadari itu seketika buru buru kembali masuk kedalam rumah dengan jalan lag lig lug.
*********************
"Anjir nama tamannya nusuk dada, taman Yahaha nt, ckckck," ujar Vier membaca nama taman yang di pajang pake papan.
Mereka hanya berkeliling tanpa niat membeli jajanan yang ada disana.
"Weh weh, bukan nya itu Altar dan Ais iya?" tanya Evan tidak sengaja melihat seseorang yang sama persis dengan mereka berdua.
Evan, Kendra dan Cakra pun menoleh kearah dimana Evan tuju.
__ADS_1
"Lah emang mereka kali," balas Vier.
"Iyaudah ayo lah samperin," ujar Cakra jalan lebih dulu kearah dua pasangan suami istri itu.
Vier mengambil jurus larinya agar lebih cepat sampai dari pada temannya yang lain.
"Wah dunia sangat sempit iya! Kemana mana Bertemu," ujar Vier. Membuat Altar kaget dengan kedatangan teman temanya. Yang seperti jalangkung datang tak diundang.
Padahal Altar berharap sehari aja, dia tidak bertemu dengan manusia manusia menyebalkan seperti para temannya, sehari saja. Ini kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan istrinya namun gagal totol hanya karena kedatangan teman temannya.
"Eh kalian, kalian ada juga disini. Kebetulan iya," seru Aisha disaat melihat keempat teman suaminya.
"Iya nih ga sengaja ketemu Kalian," skak Vier.
"Iyaudah sana dah lo pada ganggu aja," usir Altar.
"Kak Altar gaboleh gitu tau! Seru loh ada mereka, makin asik."
"Nah, bu ketua aja ga protes, kok lo protes sih?" cibir Cakra pada Altar.
Altar hanya memutar bola matanya malas. Ingin rasanya dia memukul kepala keempat temannya kedinding.
Altar membayar cimol itu, lalu menarik tangan istrinya pergi. Dia tidak mempedulikan keempat temannya yang terus saja mengekor di belakang mereka.
"Kakak mau ga?" tawar Aisha menyodorkan satu biji cimol yang tertusuk kearah suaminya.
Altar menggeleng namun beberapa detik dia merubah menjadi mengangguk. Altar pun sedikit nunduk karena Aisha hanya sebatas bahunya. Altar pun memakan cimol itu.
__ADS_1
"Enak?" tanya Aisha. Namun Altar tidak menjawab pertanyaan nya. Pria itu hanya diam dengan wajah merah padam.