Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ part 62


__ADS_3

Leana meminjam motor Elana. Alan merengek untuk ikut, mau tak mau Leana membiarkan anaknya itu. Alan memeluk erat tubuh mamanya. Matanya berbinar saat melewati jalan.


"Mama indah sekali," puji Alan.


"Masuk di kerudung mama, Lan. Banyak debu," pinta Leana membuat Alan menurut.


Tak berselang lama, mereka telah sampai di alamat di kirimkan orang tersebut. Leana membuka helmnya dan menoleh ke belakang, dia tersenyum melihat putranya. Dengan pelan pun, Leana menurunkan anaknya barulah dirinya.


"Mama biar Alan bantu," ucap Alan mengambil satu plastik kecil membuat Leana tersenyum.


"Ayo masuk." Leana mengenggam tangan Alan memasuki perusahaan besar.


Leana nampak tak asing dengan perusahaan tersebut. Namun, tidak memikirkannya dengan sangat jauh. Yang di pikirkan kue tersebut sampai cepat waktu dan dia mendapatkan gajinya.


Sebelum memasuki perusahaan tersebut, Leana sudah menelfon seseorang yang tadi menyuruhnya datang ke sana. Setelah orang itu telah ada, Leana pun di persilahkan masuk.


Sebenarnya Leana hanya ingin memberikan di situ saja, tetapi kata seorang yang mesan bosnya yang akan membayarnya mau tak mau Leana dan anaknya mengikut kemana orang itu pergi.


Tok-tok!


Orang itu mengetuk pintu ruangan, tak berselang lama seseorang dari dalam menyuruh mereka masuk.


"Siang, bos. Maaf menganggu pesanan yang pak bos cari sudah datang."


"Bawa ke ruang meeting dan bagikan sebentar lagi saya menyusul," ucap seorang laki-laki yang sedang berbalik badan ke arah lain.


"Tapi bos... Ini pesanannya belum di bayar."


"Ya udah in-"


Deg!


Jantung Leana berdeguk kencang saat seseorang tersebut membalikan badannya. Bukan hanya Leana orang yang berada di dalam ruangan itu pun tak kalah terkejutnya.


"Leana..."


"Paman tampan," seru Alan menatap pria tersebt membuat Leana menatao putranya.


Belum sempat seseorang itu menghampiri Leana, Leana lebih dulu menggendong Alan dan berlari keluar dari perusahaan tersebut.


"Bos?"


"Ck nanti saya yang akan membayarnya," ucap Atlanta mengejar Leana keluar dari perusahaanya. Dia tak ingin kehilangan jejak istrinya itu lagi.


"Leana," panggil Atlanta berlari mengejar Leana yang tak kunjung membalikan badannya.


"Leana..," teriak Atlanta saat motor tak sengaja menyenggol lengan Leana. Untungnya siagap Atlanta menangkap tubuh Leana dan juga Alan.

__ADS_1


Leana melepaskan pegangan Atlanta, dan ingin pergi lagi. Namun, tangannya di tarik sehingga keduanya bertatapan.


"Lepasi, anda tidak bisa memegang saya tanpa hak saya!" tegas Leana menepis kasar tangan Atlan. "Saya bisa menuntut anda, sebab perbuatan yang ada lakukan tadi."


"Apa kamu bisa menuntut ku? Aku masih suamimu."


"Maaf, saya sudah memberikan surat ceria, tinggal anda tanda tangani kita sudah tak memiliki hubungan apapun," jawab Leana ingin pergi. Namun tangannya di tarik Alan.


"Mama, dia papanya Tala," ucap Alan menatap Atlanta dengan senyuman manis.


Atlanta pun menatap anak kecil tersebut. Senuah pikiran pun muncul di kepalanya, apakah anak kecil itu adalah anaknya? Walaupun Leana mengelak, Alan tetap anaknya karena Alan begitu mirip dengannya. Hanya saja saat bertemu sebelumnya, Atlanta berpikir jika dirinya dan Alan hanya kebetulan mirip.


"Dia anak kita, Na?" tanya Atlanta berjongkok mengsejejerkan tubuhnya dengan Alan, baru saja Atlanta ingin memegang tubuh Alan, Leana sudah menarik putranya.


"Apa maksudmu? Anak kita? Dia hanya anakku, enggak usah sok mengaku," ketus Leana.


"Alan mau ketemu sama Antala?" tanya Atlanta malah tak menghiraukan Leana.


"Mau," jawab Alan langsung. "Mama kita mau ketemu Antala dulu, mau iya?"


"Tidak bisa, mama banyak pekerjaan," jawab Leana membuat Alan mengerucutkan bibirnya.


"Sekali aj-"


"MAMA BILANG ENGGAK BISA IYA ENGGAK BISA, KITA PULANG SEKARANG!"


Alan terkejut karena dibentak oleh mamanya, baru kali ini dia mendapatkan bentakan dari mamanya. Leana menarik Alan pergi dari sana, sedangkan mata anak itu sudah berkaca-kaca seraya menatap Atlanta.


"Dia bukan papa mu, Alan. Papamu sedang kerja kan? Jangan membiasakan menyebut seseorang sebagai papamu." Leana melepaskan pelukan Alan dan Atlanta dan menggendong putranya memasuki taksi.


Atlanta Langsung memasuki mobilnya dan melajukannya pergi. Pertama-tama, dia mengikuti kemana taksi yang di tumpangi Leana pergi.


Saat mengatahui di mana rumah Leana, Atlanta pun kembali untuk menjemput putranya yang sedang les, dia akan membawa Antala ke rumah Leana agar Leana tak bisa mengusirnya.


"Papa," seru Antala masuk ke dalam mobil. Atlanta pun hanya tersenyum dan melajukan mobilnya kembali.


Sebelum ke rumah Leana, Atlanta sengaja singgah di mall untuk membeli robot-robot atau mainan anak laki-laki.


"Antala mau yang mana, Nak?" tanya Atlanta.


Anak laki-laki itu berlari mengambil mainan yang dia sukai. Atlanta pun mengambilkan juga untuk Alan. Setelah Antala selesai memilih mainan, Atlanta membayarnya dan menuju rumah Leana.


"Papa kita mau kemana?" tanya Antala duduk sambil memegang satu robot-robotnya.


"Ke rumahnya Alan. Antala pengen kan ketemu sama Alan?" tanya Atlanta. Antala.


suara mobil masuk di perkiraannya. Leana mengira itu adalah Dito dan istrinya. Biasanya mereka langsung masuk saja, jadi Leana tak perlu menyambutnya. Beda dengan Alan yang berlari saat mendnegar suara kendaraan masuk di aera rumahnya. Selain mengira jika unty dan unclenya dia juga papanya yanh sedang kerja pulang.

__ADS_1


"Antala," ucap Alan langsung berlari mendekati temannya tersebut, alias sodaranya.


"Alan siapa itu, sayang? Itu bibi Ona sama paman Dito?" tanya Leana. Dia tidak biasa mendengar suara anak-anak lain selain putranya makanya, Leana keluar dari rumah.


Leana terkejut melihat kedatangan Atlanta dan juga bocah laki-laki. Ingin menarik Alan dan mengunci pintu, dia tak tega melihat putranya sedang senang saat bersama orang tuanya.


Atlanta mendekati Alan dan memberikan sebuah mainan kepada Alan. Alan menatap mamanya sebelum mengambil mainan tersebut.


Walaupun tak suka dengan kedatangan Atlanta, tapi dia tak ingin mengajari putranya untuk menolak pemberian orang. Akhirnya Leana mengangguk. Alan pun mengambil mainan tersebut.


"Makasih, paman."


"Panggil saya papa seperti Antala."


Alam kembali menatap mamanya, kali ini Leana menggelengkan kepalanya.


"Apa yang mama tadi bilang?"


"Enggak boleh, nanti papa Alan marah jika Alan panggil seseorang dengan sebutan papa."


"Alan masuklah ajak teman Alan," pinta Leana membuat Alan mengajak Antala masuk ke dalam rumah.


Kini tinggal Leana dan Atlanta. Keduanya saling memandang sesaat, Leana yang lebih dulu membuang pandangannya ke bawah.


"Apa maksudmu memberikan ini semua kepada anakku?"


"Dia anakku juga, Lea."


"Tidak! Dia bukan anakmu, jangan pernah mengaku. Alan anakku!"


"Dengan siapa?" tanya Atlanta.


"Dengan suamiku."


Atlanta semakin mendekati Leana, Leana pun memundurkan langkahnya ke belakang.


"Aku suami mu, Na."


"Kita sudah bercerai, saya sudah memberimu surat perceraian berukang kali, tinggal anda tanda tangani semuanya sudah selesai. Kita sudah bukan lagi suami istri, lagian saya juga sudah mempunyai suami yang merupakan papanya Alan."


"Hahaha." Atlanta tertawa, lawak sekali ucapan wanita di depannya.


"Halu? Sejak kapan kamu sering halu, sayang?" tanya Atlanta. "Bagaimana pun kamu mengelak, Alan tetap anakku. Jangankan wajahku mirip dengannya, pasti sikap dan kebiasaan ku juga sama kan?"


"Enggak usah pede, itu hanya kebetulan."


"Kebetulan gimana?" tanya Atlanta. "Enggak usah terus mengelak Leana."

__ADS_1


Leana memejamkan matanya lalu membukanya, helaan napas keluar dari mulut wanita tersebut.


"IYA ALAN MEMAMG ANAKMU, TAPI DIA BUKAN LAGI ANAKMU DI SAAT KAU BERHUBUNGAN DENGAN WANITA LAIN. SEKARANG CUMA PUNYA AKU YANG BERPERAN JADI IBU SEKALIGUS AYAHNYA," teriak Leana.


__ADS_2