
Aisha pun jadi risih karena pandangan pandangan siswa dan siswi lain menatap nya aneh.
"Aisha lo berani banget sumpah deh!" hebo Alma dan Kiara menghampiri Aisha.
"Kalau kita memang yakin mau nolongin orang, kita nggak boleh takut!" jawab Aisha tersenyum di balik cadar berwarna putih nya. " Ayo deh aku udah lapar banget," ujar nya. Membuat kedua teman nya menepuk jidat masing masing.
"Ayolah cepat keburu habis," ujar Alma.
"Duduk disana aja lah," tunjuk Aisha ada tiga kursi kosong. Kiara dan Alma pun hanya mengangguk.
"Alam goib, lo yang mesan iya! Kemarin kan gue jadi sekarang lo lagi!" pinta Kiara tersenyum kearah Alma.
"Ga usah senyum senyum nyet lo keliatan horor!" timpal Alma mengerik ngeri.
"Ckk anjing iya lo," umpat Kiara ingin memukul Alma namun cepat cepat gadis itu pergi dari sana.
"Kiara mulut nya!" sahut Aisha membuat Kiara nyengir.
"Coba istqfar!" pinta Aisha pada teman nya.
"Astaghfirullah,"
"Sekali lagi!"
"Astaghfirullah," ucap Kiara kembali.
Aisha tersenyum. Mereka pun menunggu Alma memasan seblak kesukaan mereka bertiga. Tiada hari tanpa seblak mbak Gendis.
"Eh tapi lo keren banget tau tadi! Altar kaya nurut atau takut sama lo, seakan yang tadi nya emosi jadi panik dan kembali dingin!" Kiara buka suara kembali.
"Kan suami aku hihi," ujar nya dalam hati. " Ga tau! Mungkin dia udah capek!" balas Aisha.
__ADS_1
Kiara hanya manggut manggut mengerti.
Beberapa saat Alma udah datang dengan membawa satu nampang berisi 3 porsi seblak.
"Wah jadi lapar nih," Kiara yang hampir memasukan satu suap seblak kemulut nya. Namun di hentikan oleh Aisha.
"Baca doa dulu Kia!" ujar nya Aisha. Membuat Kiara lagi dan lagi menyengir.
"Jadi gini rasa nya temanan sama ukhti toh," batin Kiara.
"Tau ni keong!" ujar Alma, padahal tadi juga dia hampir ikutan.
"Kamu juga sama!" balas Aisha pada Alma.
Alma hanya menggaruk belakang kepala nya. Mereka pun menikmati seblak mereka masing masing, sebelum waktu istirahar berakhir.
**************
"Maksud lo apa sialan? Gue ga takut!" dusta Altar yang menidur kan kepala nya diatas meja.
"Oooh, Kirain!"
"Btw bos tumben ga masuk kelas? Biasa nya kan masuk," ujar Evan.
Altar memang bradalan dan sering keluar masuk bk karena ulah nya yang dia buat sering membully murid lain. Tapi jangan salah, Altar adalah murid rajin dan pintar.
"Males aja! Gue ngantuk mau tidur aja!" jawab Altar menyembunyi kan wajah nya di hoodie milik nya, yang udah dia lepas kan.
"Balapan bentar?" tanya Cakra pada Altar.
"Kalau gue ga ada waktu, jadwal gue padat!" balas Altar.
__ADS_1
"Eh Cak, lo ga tau aja bos kita kan pengantin baru, dia mau bermanja manja dulu sama bu ketua!" ngoda Evan.
Entah mengapa Evan dan Vier suka banget nyari masalah dengan Altar.
Untung saja Altar sudah kebawa ke alam mimpi secepat itu. Jadi Evan hidup nya dalam keadaan aman.
"Eh cepet banget anjir tidur nya. Jangan jangan semalam dia gempur bu ketua lagi!" tuduh kendra.
"Otak lo pada parn*," ketus Cakra sambil mengisap ujung rokok yang dia pegang.
"kaya dia ga, padahal mah dia bandar nya!" sindir Vier.
"Gue mah cuman bilang aja tapi ga pernah nonton, soal nya kan mata gue masih suci!" cibir Evan.
"Alah masa, gue ga percaya!" timpal Cakra dingin.
"Btw ada link ga?" tanya Evan. Dan langsung mendapat pukulan dari kedua teman nya.
"Sinting, tobat woi!"
"Astaghfirullah ukhti tobat!" ujar Kendra.
"Akhi gilak, lo kira gue perempuan!" ketus Evan pada Kendra.
"Iya kan lo kembaran Ragil."
"Ga enak iya pacaran jarak jauh atau LGBT," ujar Cakra tiba tiba.
"LDR goblok!"
"Emang apa beda nya?" tanya Cakra polos pada ketiga teman nya. Dia benar benar tidak tau perbedaan LGBT dengan LDR, menurut nya sama aja.
__ADS_1