
"Kak Altar, ini sakit?" tanya Aisha, menunjuk ke arah bibir Altar.
Altar hanya mengangguk. "Iya sakit, soalnya di gigit sama kucing betina," jawab Altar.
"Kakak bilang, Ais itu kucing betina?" tanya Aisha ngegas.
Altar buru-buru menggeleng. "Kakak, bercanda," jawab Altar.
Aisha hanya mendengus dan mencibikkan bibirnya ke Altar.
"Sayang, kakak mau nanya," ujar Altar, membuat Aisha menoleh ke arahnya.
"Nanya apa, kak Altar?" tanya Aisha.
Altar menghela nafas. "Kakak mau nanya sama kamu, selain Aksa dan kedua temannya siapa lagi yang kamu lihat di saat kamu di sekap?" tanya Altar, mengenggam tangan istrinya, berharap Aisha bisa menjawab pertanyanya. "Kakak mau mereka mendapat kan hukuman, kalau di biarkan maka semakin banyak korban setelah kamu," lanjut Altar.
Aisha menggeleng. "Hanya mereka bertiga," jawab Aisha.
"Apa kamu yakin, tidak ada orang lain selain mereka bertiga?" tanya Altar sekali lagi, memastikan.
Lagi-lagi Aisha menggeleng. Dia mencengkram dengan kuat tangan Altar dengan tangan berkeringat.
Seakan waktu yang menimpahnya beberapa jam yang lalu, kembali melayang-layang di pikirannya.
Altar langsung memeluk tubuh istrinya, yang kelihatan takut. "Menangis lah! Kakak izinin kamu menangis sampai beban itu keluar dari pikiran kamu," pinta Altar.
__ADS_1
Aisha memeluk erat tubuh Altar. "Ais takut kak Altar, Ais merasa gak suci lagi dia melihat tubuh ku yang harusnya cuman kakak yang bisa melihatnya," ujar Aisha, sesengukan.
"Udah iya, kamu masih suci dia gak buat macam-macam sama kamu, kakak gak mempermasalah kan tubuh kamu yang sudah dia lihat. Benar kakak marah, dia melihat hak milik kakak! Tapi kakak gak marah sama kamu melainkan marah pada bajingan itu!
Kedepannya tak ada lagi kejadian seperti ini, kakak janji sama Sha!"
"Kakak bakal bantu kamu, sembuh dari rasa takut mu ini." Altar menghapus air mata, yang terus mengalir di sudut mata istrinya.
"Kak Altar," panggil Aisha.
"Kenapa sayang?" tanya Altar, yang melepas kerudung pendek yang di pakai Aisha agar tidak kepanasan.
Di ruangan itu juga hanya ada dirinya dan Aisha bahkan Altar mengunci pintu jadi gak perlu berfikir atau khawatir kalau orang akan melihatnya.
"Kakak gak akan, buat Aksa meninggal kan? Aku gak mau punya suami pembunuh, apa lagi nanti kakak masuk penjara!"
Altar mengusap rambut Aisha yang berkeringat, padahal ada AC.
kalau bukan karena istrinya, Altar sudah benar-benar membunuh Aksa.
"Benar iya, kak Altar!" ujar Aisha, dan hanya di angguki oleh Altar.
"Sayang, kakak belum bisa menghubungi bang Rigel maupun umah dan abi."
Aisha terdiam mendengar perkataan Altar, akhir- akhir ini dia juga sangat kepikiran dengan keluarganya. Dia takut mereka kenapa-kenapa, tapi Aisha membuang jauh-jauh pikiran negatifnya.
__ADS_1
"Mungkin mereka sibuk," jawab Aisha.
Altar hanya manggut-manggut, setelah masalah Aksa, dia bakal mencari tau tentang mertuanya dan kakak iparnya yang tak bisa di hubungi akhir-akhir ini. Altar juga sama khawatirnya dengan Aisha.
"Tidurlah, masih ada dua jam baru kita sholat subuh, kakak akan membangunkan mu," ucap Altar.
Aisha hanya mengangguk, dia kembali merebahkan badanya, di tuntut oleh Altar.
"kakak ada di sini," ujar Altar, mencium kening Aisha.
Di saat asik menghafal surat yang di suruhkan istrinya beberapa hari terakhir, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Kendra," gumam Altar, cepat- cepat mengangkat panggilan telfon tersebut.
"Apa sudah ada?" tanya Altar, saat sambungan telfon tersambung.
"Ada," sahut Kendra, di seberang sana.
"Tapi bentar, gue kebelet berak!" teriak Kendra, karena dia sudah menjauh dari ponselnya yang dia tinggalkan di meja.
Altar memutar bola matanya jengah. "Sialan, gak bisa di tunda dulu apa beraknya!" umpat Altar.
"Astaghfirullah," ucap Altar, melirik ke arah Aisha, dia takut suaranya menganggu tidur manis istrinya.
Beberapa saat kemudian, Kendra sudah selesai BABnya.
__ADS_1
"Cepat siapa orangnya?" tanya Altar, tak sabaran.
Terdengar helaan nafas dari Kendra. Kendra pun memberi tau siapa orang yang meminta Aksa untuk melakukan hal seperti itu pada Aisha, dan terlebih lagi yang membocorkan pernikahan mereke berdua.