
"Sayang, coba cerita lagi tentang agama kita. Kakak suka kamu bercerita," seru Altar mendongak ke atas.
Aisha menyisir rambut Altar menggunakan tangannya.
"Cerita apa ya? Tiap selesai sholat Ais sering cerita ke kakak deh."
"Kakak pengen dengar kisah nabi, kisah nabi yang kamu suka apa?" tanya Altar.
Aisha berfikir sejenak, lalu menjawabnya. "Ais suka semuanya, tapi yang bikin tertarik itu cerita rasul dan nabi Ismail a.s menurut Ais." jawabnya.
"Coba ceritain, kesimpulan atau hikmah yang didapatkan dari cerita nabi Ismail," pinta Altar.
Aisha menghirup udara subuh dengan rakus, saat ini Altar maupun Aisha sedang berada di balkon kamar.
"Hikmah yang kita dapatkan dari kisah nabi Ismail a.s adalah, tetaplah menerima apa yang di perintahkan oleh Allah, yakinlah apa yang dia berikan pasti ada hasilnya, nabi Ismail rela memberikan apapun pada Allah, menerima semua ujian yang di berikan padanya.
Dari kisah nabi Ismail juga, kita bisa belajar bahwa terima lah semua rintangan yang di berikan sang maha penciptaa, percaya di balik itu semua pasti ada nikmat anugra yang di berikan," jelas Aisha. "Kakak pengen dengar kisah nabi Ismail?" tanya Aisha pada suaminya.
Altar menggeleng. "Kakak sudah pernah mendengarnya dari Mama, waktu kecil kakak selalu di ceritaken kisah nabi saat ingin tidur, cuma kakak gak tau aja hikmahnya apa," jawab altar.
Aisha manggut-manggut. "Coba Ais yang nanya, kisah nabi, apa yang kakak suka?" tanya balik Aisha.
"Hem, semuanya kakak suka," jawab Altar membuat Aisha kembali mengangguk.
__ADS_1
"Yaudah, Ais tanya lagi, kakak tau siapa salah satu nabi yang sampai sekarang masih hidup?"
"Setau kakak nabi Idris a.s, nabi Ilyas a.s, nabi Isa a.s, dan Khidir a.s tetapi kakak gak tau siapa di antara nabi yang tadi ku sebut, sendalnya hilang."
"Nabi Idris a.s dia sampai sekarang masih hidup karena masih mencari sendalnya yang hilang, bukan hilang sih melainkan sengaja dia tinggalkan agar bisa kembali ketempat indah tersebut," jelas Aisha tertawa kecil. "Nanti Ais ceritain ya kisahnya! Pasti kakak belum tau kan? Sekarang fajar sudah terbit jadi kakak ganti pakaian kakak, Ais mau turun untuk masak," lanjutnya.
Altar mengangguk, mereka masuk kembali ke dalam kamar.
Ais memakai kerudung tak lupa cadarnya, lalu turun ke bawah untuk masak sarapan untuk suaminya dan mertuanya juga pasti.
****************
"Wah, pagi-pagi udah ada di dapur aja menantu Mama," sahut Marwa mendekati Aisha yang sedang menyuci piring kotor.
"Stt..." Marwa menghentikan menantunya yang hendak mengangkat piring. "Biar Mama aja sayang, kamu duduk minum susu mu!" pinta Marwa mengambil ahli piring itu dari tangan sang menantu.
"Mah, gapapa, Ais juga bosan kalau cuman duduk aja," ujarnya, protes.
"Udah ya! Mama gak mau kamu kenapa-napa, apa lagi kamu sedang mengandung cucu mama!" tegas Marwa, dia mendudukan menantunya di kursi. "Minum susu mu!"
Aisha menghela nafas cuma pasrah aja. Sungguh dia sangat beruntung mempunyai Ibu mertua yang baik seperti Marwa.
"Mah, biar Ais bantu," seru Aisha.
__ADS_1
"Gak!" jawab Marwa menggeleng. "Di sini kamu cukup duduk, jaga cucuku! Kalau gak mau bosan, kamu belajarlah untuk ujian kelulusan mu, besok kamu udah masukkan?"
Aisha mengangguk.
"Pagi," sapa seseorang tiba-tiba mencium satu-persatu kedua wanita itu, siapa lagi kalau bukan Altar.
"Udah, kamu belum gosok gigi, gak usah nyium-nyium Mama atau menantu Mama! Nanti bervirus," ledek Marwa pada putranya.
Altar hanya mencibikkan bibirnya. "Sirik aja, si tua," cibir Altar duduk di samping istrinya.
Aisha memukul lengan suaminya. "Bicaranya, gak baik!" tegur Aisha.
"Coba, ulangi perkataan kamu tadi!" Marwa menyewer telinga anaknya.
"Altar 'kan cuma bercanda," ujarnya sambil meringis kesakitan.
"Sayang..," panggil Altar. "tolongin, kakak."
Aisha tersenyum mengejek lalu membuang muka. Ternyata menantu dan mertua sama-sama gak ada ahlak.
"Arkk," pekik Altar. "Mah, udah mah sakit!" keluh Altar.
"Mah, udah kasian kak Altar," ujar Aisha pada akhirnya, membuat Marwa melepaskan jewerannya.
__ADS_1
"Kalau bukan menantu Mama yang menyuruh, telinganya udah hilang," cibir Marwa pada anaknya.