
Altar menepuk dengan pelan pundak sang istri alah anak bayi.
"Sayang, ayo bangun," bisik Altar.
Terdengar dengkuran alus dari Aisha.
"Tidur pas magrib gak baik tau, ayo bangun kita sholat," bujuk sang suami.
Aisha mengucek matanya lalu menatap ke arah Altar yang tersenyum.
"Kak Altar," rengek Aisha.
Altar hanya berdehem, sambil menuntut istrinya bangun.
"Ais, pengen sate cumi-cumi tapi kakak dan keempat teman kakak yang buat," pinta bumil tiba-tiba.
"Ha? Kakak gak tau sayang, beli aja ya?"
Aisha menggeleng, memanyunkan bibirnya.
"Ini, kemauan simba?" tanya Altar dan di angguki oleh Aisha.
"Ok, kakak bakal nelfon mereka," ujar Altar. "Sekarang kita sholat dulu ya?" tanya Altar.
Aisha merentangkan tangannya, Altar pun menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Kak Altar, sini coba," panggil Aisha, Altar yang sedang mencuci wajahnya karena juga baru bangun tidur, menoleh ke arah sang istri dan menghampirinya.
Aisha memakaikan sabun di dagu Altar. "Gimana, kalau kakak punya uban di sini," ujar Aisha.
"Gak mau."Altar menggeleng.
Aisha hanya tertawa kecil, terus menempelkan sabun di sisi luar mulut sang suami. Sedangkan korban hanya bisa pasrah.
"Sayang udah ih, kemakan nanti tau sabunnya, kalau kakak keracunan, dedek bayi gak bakal ketemu sama apah yang ganteng ini dong," keluh Altar.
"Ya! Ais tinggal cari lagi aja yang mirip oppa-oppa korea, kaka juga terlalu dramatis," balas Aisha, tertawa kecil.
Altar tersenyum nakal, dia mengambil botol sabun pencuci wajah sang istri, lalu mengusap dengan lembut ke aera wajah istrinya.
"Yak! Kak Altar," pekik Aisha, terkejut.
"Nafas sayang," sahut Altar.
"Udah, ah." Aisha mendorong pelan tubuh suaminya lalu berbalik badan untuk mencuci wajahnya.
Altar terkekeh, dia ke samping sang istri dan ikut mencuci wajah tampannya.
Setelah drama dan kebucinan kedua pasangan muda itu, akhirnya memulai sholat.
"Asslamualaikum, warahmatullah," ucap Altar menoleh kekanan di ikut sang istri. "Asslamualaikum, warahmatullah," ucapnya lagi menoleh ke arah kiri kembali di ikuti oleh sang istri.
__ADS_1
Altar merentangkan tangannya ke atas dan meminta do'a yang terbaik untuk keluarga kecilnya, di belakang Aisha cuman mengucap Aamiin setelah suaminya memanjatkan do'a kepada sang maha kuasa.
Setelahnya berdo'a bersama-sama, sholat magrib pun berakhir, Aisha maju sedikit ke arah sang suami dan mencium punggung tangan lelaki yang sudah menjadi mahramnya.
Alter tersenyum, membalas dengan mencium kening sang istri dengan sangat lama terus turun ke pipi, hidung, terakhir mencium bibir pink istrinya.
"Apah, anaknya gak ikut di cium?" tanya Aisha, berbicara bernada seperti anak kecil.
Altar tersenyum dia menegok ke arah perut sang istri, lalu menciumnya agak lama.
"Yang kuat di sana yang dedek, apah sama amah tunggu kamu di sini," ujar Altar.
Aisha ikutan tersenyum, membelai surai sang suami.
"Coba sini, kakak skor hafalan kakak!" pinta Aisha, Altar pun mengangguk, dia berdiri mengambil Al-Quran dan kembali duduk di depan sang istri.
"Baca basmalah dulu kak," peringat Aisha, di saat Altar langsung membaca ayat surat.
Altar mengangguk, dia mengucap basmalah. Lelaki itu pun mengeskor hafalan ke istrinya.
"Udah bagus Kak Altar, pengucapannya sudah lumayan benar, tapi kakak harus tetap memperbaikinya lebih baik lagi ya!" jelas Aisha
Altar hanya mengangguk.
Altar menyimpan kembali Al-Quran pada tempatnya lalu kembali ke arah istrinya, Altar tidur di paha sang istri, menikmati usapan lembut yang di lakukannya.
__ADS_1
"Kakak mau nanya, apa dalam islam bercadar seperti mu itu di wajibkan?" tanya Altar, menengok ke atas.
"Dalam islam bercadar tidak di wajibkan kok, namun di anjurkan bagi wanita muslim untuk memakai cadar, menutupi auratnya. Agar juga menjauhkan pandangan-pandangan buruk dari laki-laki yang bukan mahromya," jelas Aisha pada sang suami.