Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 72•


__ADS_3

Aisha bersembunyi di belakang badan Altar, jelas gadis itu takut dengan hewan peliharaan suaminya.


"Arkk, kakak," teriak Aisha, melompat ke pelukan Altar dengan air mata yang terus mengalir.


"Kan, udah dibilang gak usah ikut masuk! Ngeyel sih," balas Altar menghapus air mata istrinya.


"Gak mau! Ais takut kakak di ambil sama Ilona!" ketus Aisha.


Altar terkekeh, ternyata istrinya begitu posesif.


"Gak! Tadi Ais salah ngomong, sebenarnya Ais mau lihat Ilona!" dusta Aisha.


Altar hanya mengangguk. Mereka pun memasuki ruangan gelap di mana Altar menyekap Ilona dengan si Ombih.


"Kok gelap banget, kakak harus keluarin Ilona dari sini, kasian tau dia," timpal Aisha, yang berada di gendongan Altar dengan memegang senter.


"Apakah kamu lupa? Yang pernah kakak kasih tau ke kamu, kalau dia yang buat kamu hampir di lecehkan? Mana mungkin kamu tetap kasian kepadanya!"


"Ini kejam sekali kak Altar, mending kalau mau hukum Ilona, biar pihak berwajib aja, Ilona seorang perempuan pasti dia takut dengan kegelapan apalagi dari kemarin dia belum di beri makan, jadi kalau dia mati gimana?"


Altar tidak habis pikir dengan istrinya, kenapa dia sebaik itu? Padahal orang lain selalu berbuat jahat padanya.


"Kakak, kita sebagai manusia tidak boleh dendam, boleh dendam dengan cara membalas dengan kebaikan walaupun orang itu jahat pada kita. Allah gak suka tau umatnya yang suka dendam, Allah aja maha pemaaf," jelas Aisha.


Altar mengangguk. "Istri ku memang sangat baik, hatinya sangat lembut," ujar Altar.


"Kakak, Ilona gak akan matikan karena kelaparan?" tanya Aisha merasa cemas.

__ADS_1


Altar menggeleng. "Tenanglah, kakak sudah menyuruh ajudan papa selalu memberinya makan." Altar menenangkan istrinya.


Altar tidak menurunkan Aisha dari gendongannya.


"Halo, Ombih," sapa Altar menaro senternya di meja yang ada di sana agar bisa melihat peliharaanya.


Altar berjongkok mengsejajarkan dirinya dengan hewan tersebut.


Harimau itu hanya membalas dengan suara kematiannya, membuat Aisha menjerit.


"Tenang lah, dia gak bakal makan kamu," ujar Altar mengelus punggung istrinya.


Altar tersenyum nakal. Dia menarik tangan istrinya dan menaronya di atas kepala Ombih.


Aisha sedikit tersentak.


"Dia gak akan gigit sayang, dia masih kecil!" jawab Altar.


"Mana ada kecil, ini bentukannya besar gini," ketus Aisha, perlahan turun dari gendongan Altar.


"kakak merawatnya dari bayi jadi tetap aja di mata kakak dia masih kecil," jelas Altar.


"Dia lucu banget kak Altar, Ais gak takut lagi." Aisha merasa gemess.


Altar menyenter ke arah Ilona, dan sepertinya gadis itu tidak sadarkan diri.


Aisha ikut menoleh, dia beranjak dari jongkoknya dan mendekati Ilona.

__ADS_1


"Lona," panggil Aisha.


"Dia kayanya pingsan," sahut Altar.


"Kakak, Ais mohon kakak lepasin Ilona dan berikan saja ke pihak berwajib, Ais kasian melihatnya," pinta Aisha. " Coba deh kakak mikir, kalau aku di posisi Ilona, apakah kakak akan membiarkan ku seperti ini?" tanyanya.


Altar cepat menggeleng.


"Sama juga dengan orang tua Lona, pasti mengkhawatirkan anak mereka," ujar Aisha.


Altar mengelus kepala Aisha yang ketutup kerudung. "Baiklah, kakak akan menyerahkan Ilona ke pihak berwajib, demi permintaan istri kakak pasti akan kakak wujudkan." Altar tersenyum.


"Simpan di sini kak air dan porsi makanannya, nanti kalau dia sudah sadar dia akan makan, jangan lupa buka aja ikatannya. Dia gak mungkin kabur," jelas Aisha.


Altar hanya mengangguk mengikut keinginan sang istri.


"Kakak, telfon lah polisi biar mereka membawa Ilona," pinta Aisha.


Sekali lagi Altar hanya menurut.


"Kak Altar, orang tua Ilona sudah tau?" tanya Aisha.


"Sudah, kakak sudah memberi tau papanya, kalau anaknya melakukan tindakan kriminal," jawab Altar.


"Terus, Papanya bilang apa?"


"Dia siap dan tidak keberatan. Memang ini adalah salah anaknya, mana mungkin dia akan mendukung kejahatan? Papanya sangat menyayangi Ilona namun, kamu tau, dia juga tidak suka dengan kejahat," jelas Altar.

__ADS_1


"Syukurlah, Papanya tidak menyalahkan kita." Aisha hanya mengangguk.


__ADS_2