
Altar merontak dan berhasil terlepas dari dengkapan teman-temannya.
"Gilak," umpat Altar menepuk-menepuk pakaiannya.
"Lo yang gilak, tumben banget tuh baik," balas Cakra.
"Lah, jahat salah baik juga salah, mau you pada apa dah?" tanya Altar, ketus.
Aisha memegang perutnya karena capek tertawa, Altar dan keempat temannya menoleh ke arah wanita itu.
Altar berdecak lalu menghampiri istrinya. "Jangan ketawa mulu, kasian dedeknya!" ujar Altar.
Keempat teman Altar saling menatap satu sama lain. "Dedek?" tanyanya mereka, dengan nada yang sangat tinggi.
"Gak, usah berteriak juga kali!" ketus Altar. "Aisha hamil, otamatis gue jadi ayah muda," sambung Altar, dengan bangga.
Mereka mencibikkan bibirnya lalu bersama-sama berjongkok di depan bu ketua.
"Kalian, ngapain?" tanya Aisha, bingung.
"Bu ketua... Kami akan selalu siaga untuk menjalankan ngidam, bu ketua..," ujar mereka dengan nada di buat-buat dramatis.
Aisha tertawa kecil. "Kalian tuh, lucu banget, jangan sampai saat anak aku lahir kelakuannya mirip bapaknya dan temannya," sindir Aisha, tertawa renyah.
Krik krik... Hening.
Aisha menatap lelaki yang berada di depannya satu-persatu lalu menatap suaminya.
__ADS_1
Mereka kembali duduk di tempat masing-masing.
Aisha mengerut bingung, dengan perubahan semuanya.
"Halo," sapa Aisha, buka suara namun tidak ada yang membalasnya.
Mereka hanya sibuk dengan ponsel masing-masing, bahkan suaminya pun ikutan.
"Ais salah bicara?" tanyanya menatap suaminya dengan mata yang hampir sudah di penuhkan dengan air. "Maaf," sambungnya.
Hitungan 1,2 dan 3, keheningan pecah karena ulah bumil, yang sangat sensitif, sedang menangis hesteris. Perkara di cuekin para lelaki yang ada di dekatnya itu.
Altar terkekeh, dia mendekati istrinya lalu memeluk sang istri. "kok, nangis?"tanya Altar, menghapus air mata istrinya menggunakan tangan, tangannya dia masukkan ke dalam cadar sang istri.
"Kalian, nyuekin Ais!" jawabnya sesengukan.
"Astaga sayang, kamu lihat ini..." Altar memperlihatkan layar ponsel pada istrinya. "kakak dan yang lain sedang menonton cara buat sate cumi-cumi yang paling enak."
Aisha mengangguk, dia menghapus air matanya sendiri.
"Jangan nangis mulu sayang, bisa-bisa mata kamu bengkak!" cerca Altar.
Aisha mengangguk kembali dan memeluk tubuh suaminya.
Sedangkan di sisi lain ada Gea yang tadinya berada di kamar namun karena merasa ada keributan di bawah, membuat diri gadis itu beranjak dan turun melihat.
Gea masih di rumah kakak sepupunya. Altar sudah meminta istrinya buat Gea tinggal sehari saja di rumahnya lalu Altar akan menyuruhkan tinggal di rumah orang tuanya atau di rumah orang tua Atlanta.
__ADS_1
Gea yang hanya memakai taktop di tubuhnya serta cardigan sebatas pinggang, celana pendek sebatas lutut, turun dari kamarnya untuk ikut nimbrung dengan yang lain, bodoh amat kalau tak di ajak pikirnya.
"Ada apa nih, ribut-ribut?" tanya Gea duduk di samping Altar.
Altar memandang istrinya dan menggeleng, dia bergeser kesamping sedikit, membuat Aisha mengangguk dan tersenyum ke arah sang suami.
Keempat teman Altar yang fokus menonton tutorial bikin sate cumi-cumi yang enak, menoleh dan menatap heran dengan gadis yang tidak pernah mereka temui.
"Siapa, Tar?" tanya mereka.
Altar yang hendak menjawab pertanyan temannya namun di sela oleh Gea.
"Gue Gea, sepupunya kak Ata yang paling dia sayangi," sela Gea, dengan bangga.
Altar hanya menghela nafas pasrah.
"Owh." Hanya itu respon mereka berempat pada Gea. Gea yang tadinya bersikap centil seketika mendengus kesal.
"Kalian, teman-temannya kak Ata ya?" tanya Gea basa-basi, pandangannya tertuju ke arah Kendra yang menurutnya paling tampan dari ketiga teman Altar yang lainnya.
"Gak, kami cucunya Altar," jawab Kendra.
"Buyut tepatnya," tambah Vier.
"Agak lain," bisik Cakra.
Gea sekali lagi mendengus kesal, ternyata apa yang dia pikirkan di luar dugaan.
__ADS_1
"Kalian, ke sini pada ngapain?" tanya Gea.
"Kawinin, kucing para tetangga," jawab mereka.