Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 105•


__ADS_3

Hari terus berjalan hingga hari di mana kelas 12 sudah selesai melewati sisi yang sulit yang itu ujian kelulusan seperti yang di lewati Altar dan Aisha walaupun mereka absen tiga mata ujian namun akhirnya bisa menyusul.


Aisha mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya, bahkan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di LA. Siapa sangka dia juga berniat kuliah di sana dan akhirnya mendapatkan beasiswa?


Aisha saling berpelukan dengan kedua temannya.


"Aaa, kita udah lulus aja padahal Aisha baru sebulan sekolah di sini," keluh Kiara dan Alma memeluk Aisha dengan erat.


"Gue bakal ikut kuliah di LA, pokoknya kita tetap harus sama-sama," mantap Kiara.


"Benar, Pokoknya kita harus tetap bersama," lanjut Alma.


Aisha tersenyum lalu melepaskan pelukannya.


"Congrat bu ketua," sahut Vier dan Evan datang.


"Terima kasih," balas Aisha tersenyum ke arah mereka berdua.


Yang lain pada sibuk saling memberi selamat bahkan pada bahagia karena sudah akhir finis dari perjuangan mereka. Beda dengan lelaki tampan yang terlihat murung karena hari kelulusan ini bukan karena tidak mendapatkan nilai tertinggi, tapi akan kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupnya, dia berdo'a hari ini di perlambat namun apa daya waktu terus berjalan dengan cepat. Dia Altar Calvin Geutama yang akan berpisah dengan sang istri.

__ADS_1


Dia hanya duduk di bawah pohon lebat, menerapi nasib yang begitu pahit untuknya kali ini.


"Woi," panggil teman-temannya menepuk bahunya.


"Kayanya lo gak senang dengan hari kelulusan nih, Tar," ucap Kendra


"Lo takut kita berpisah? Tenang kita ngikutin kemana lo pergi," kata Evan seraya menggantungkan tangannya di pundak sang sahabat.


"Bu negara cokter anjir, dapat nilai tertinggi bahkan dapat beasiswa kuliah di LA," ujar Cakra.


"Lo pasti akan ikut ke LA kan ya? Mana mau lo biarin bu ketua pergi sendiri," celetuk Vier.


"Lah?"


"Dia hanya pergi sendiri." Setelah mengucapkan itu Altar beranjak berdiri mencari keberadaan Aisha untuk mengajaknya pulang.


"Sha," panggilnya membuat wanita itu menoleh. "Ayo pulang," ajaknya seraya menarik tangan istrinya tanpa mempedulikan orang sekitar yang asik party.


*****************

__ADS_1


Sesampainya di rumah Altar mencoba memastikan ulang dengan keputusan sang istri yang akan kuliah di negara lain.


"Sayang, apa kamu yakin dengan keputusan mu? Kamu boleh kuliah di sini aja. Kakak janji gak akan mengganggu ketenangan mu kalau misalnya kamu mau kuliah di sini," ucap Altar berjongkok di depan Aisha sambil memegang kedua tangan lentik tersebut.


Aisha membuang pandangannya ke arah lain tak sanggup memandang wajah suaminya. "Ais tetap di penderian Ais kak, Ais bakal tetap kuliah di LA," jawab Aisha. "Lusa keberangkatan ku ke sana, aku berharap kakak tidak melakukan berbagai cara untuk membatalkannya," peringat Aisha.


Altar menghapus air matanya lalu beranjak berdiri dan langsung memeluk tubuh istrinya.


"Aku pasti akan kangen sama kamu Sha, jangan buat kakak tersiksa, segini aja cukup," isaknya memeluk erat tubuh wanitanya.


Mata Aisha mulai memerah menahan air mata yang akan jatuh. "Ais kamu gak boleh nyerah! Ingat tujuan mu memberi pelajaran kepada suami mu," batin Aisha menyamangati dirinya.


Aisha memegang kedua bahu Altar dan menghapus air mata lelaki itu. "Jangan menangis kak," larang Aisha.


"Maafin ke salahan kakak, tapi tolong jangan pergi sayang kakak gak bisa tanpa kamu di sini," mohon Altar memeluk pinggang Aisha, menangis sejadi-jadinya di sana.


"Gak kak Altar maaf, tapi Ais akan tetap kuliah di sana, Ais bakal pulang kok untuk kak Altar, tapi gak tau kapan waktunya," ujar Aisha sambil menyisir rambut Altar menggunakan tangan, basa karena keringat. "Besok temani Ais ke rumah mama dan Papa meminta izin ya? Terus kita ke ponpes, Ais pengen minta juga izin abi umah, dan bang Rigel," lanjut Aisha.


Mereka memang sudah pulang ke indonesia karena sang abi dah lekas sembuh dengan penyakit yang di alami.

__ADS_1


__ADS_2