
"Kak Altar, kaka kayanya udah sangat kenal iya sama Ilona anak pindahan itu? Yang tadi dikoridor perpustakaan waktu itu." Aisha mengusap surai suaminya yang tertidur dipangkuannya.
"Hem dia teman masa kecil gue, tapi kita berpisah disaat kelulusan smp," jelas Altar. Menghirup dengan rakus bau maskulin yang Aisha pake.
"Pantas tadi dia gasuka ada yang deketin kakak." Aisha hanya manggut manggut mengerti. "Terus kenapa kakak keliatan ketus sama dia? Bukannya bahagia dia balik," lanjut Aisha.
Terdengar helahan nafas dari Altar. "Lo beneran? Lo mau gue baik ke dia?" tanya Altar.
Aisha hanya mengangguk. " Ilona kan teman kakak."
"Terus gimana orang yang suruh lo baikin jadi penghalang hubungan kita?" tanya Altar.
Aisha menjadi bingung dengan ucapan suaminya. "Maksud kakak?" tanya Aisha balik.
"Ilona suka sama gue, gue tau karena waktu kelulusan Cakra pernah ngomong ke gue kalau Ilona mau nyatain perasaannya, tapi tak jadi karena papanya ada urusan kontrak keluar negeri, dan siapa tau sampai saat ini dia masih suka sama gue dan deketin gue karena ingin gue suka balik kedia, emang lo terima?"
Aisha sedikit tersentak kali mendengar penjelasan suaminya. Diapun refleks menggeleng. "Mana ada istri yang rela suaminya di sukai wanita lain? Kalau sekedar suka Ais ga masalah karena memang kak Altar banyak penggemar, tapi kalau suka sampai ingin memiliki, Ais mana mau. Apa lagi jelas jelas Ilona teman masa kecil kak Altar, dan bisa saja kak Altar dengan cepat membalas perasaannya," ujar Aisha panjang lebar. Bahkan cara perucapanya agak bergetar membuat Altar panik dan beranjak dan memeluk istrinya.
"Gue orang yang tidak gampang menyatuhkan perasaan kepada seseorang Sha, bahkan sekarang gue belum mecintai lo yang jelas jelas sudah menjadi istri gue, tapi hati ini udah di pastikan sudah tidak ingin pergi dari lo, hanya saja dia ingin membetahkan diri dalam hati lo dulu, dimana tempat yang pantas buat gue jatuh cinta sama lo."
"Tapi apakah nanti kalau misalnya dia benar benar ingin merusak rumah tangga kita, dan dia mengfitnah Ais, yang mana kakak percaya aku atau dia teman masa kecil kakak? Kata orang, 'kita lebih mempercayai orang lama dari pada orang yang baru saja datang'. Dan aku orang baru yang masuk kedalam kehidupan kakak sedangkan Ilona sudah bertahun tahun."
Bukannya ingin bertengkar hanya satu lelaki. Tetapi prinsip Aisha apa yang dia punya tidak akan pernah dia berikan kesiapapun itu termasuk suaminya.
"Lo gaperlu khawatir Sha, gue gabakal tertarik dengannya, bahkan gue cuman menganggapnya hanya sebatas sahabat masa lalu," jelas Altar menangkup kedua pipi istrinya. "Sha gue cuman punya lo seorang, gue gabakalan membagi diri kesiapapun itu apalagi Ilona.
__ADS_1
"Kakak Altar gabakal ninggalin Aisha kan?" tanya Aisha. Entah mengapa dia sangat takut
Altar hanya mengangguk. "Gue ga janji tapi gue bakal usaha. Hanya maut yang bisa bisa membuat kita terpisah sayang," ujar Altar memeluk tubuh istrinya.
"Ais gamau iya kakak dekat sama dia," ujar Aisha didalam pelukan suaminya.
"Katanya dibaikin jangan ketus mulu, besok gue mau minta maaf kedia," balas Altar.
"Minta maaf aja, gausah baik ketus aja terus. Ais tarik kata kata Ais tadi," ketus Aisha.
"Posesif banget neng," timpal Altar.
Aisha mendengus kesal. "Emang posesif sama suami sendiri gaboleh?" tanya Aisha.
Aisha memukul dada kekar suaminya. Membuat Altar meringis bercampur terkekeh.
"udah ih sakit," pinta Altar.
"Biarin kakak suka banget buat Ais bullsing," ketus Aisha memanyukan bibirnya. Membuat Altar gemess pengen gigit.
"Memang itu keahlian gue, buat istri jelek gue ini tersiksa karena bullsing."
"Dih keahlian nya agak lain," cibir Aisha.
"Emang kenapa? Masalah? Tapi lo suka kan?"
__ADS_1
Aisha mengangguk malu malu.
"Tukan gemess pengen cium," gumam Altar.
"Cium dimana?" tanya Aisha polos.
Altar berfikir tangannya telunjuknya mengusap usap dagunya.
"Sini," tunjuk Altar di kening. " Terus disini," tunjuk Altar lagi dipipi.
"Dan.....Yang terakhir disini," tunjuk Altar kebibir.
"Kakak mahruk jadi orang!" ketus Aisha.
"Tapi boleh nih?"
Aisha sejenak terdiam, dan beberapa waktu mengangguk pata pata. "Ais mau jalanin salah satu sunnah rasul kak Altar, kakak boleh cium dimana aja yang kakak mau karena kak Altar udah jadi suami Aisha. Tapi kalau berhubungan itu, Ais belum bisa ngelakuinnya," jelasnya.
Altar tersenyum. dia sedikit memajukan wajahnya kearah wajah istrinya. Hidungnya ia gesek gesekkan dengan hidung istrinya.
Saat hendak mencium bibir Aisha. Tiba tiba.
Ting tong.
...----------------...
__ADS_1