
Mereka pun mulai membuat sate cumi-cumi buat Ibu ketua.
Aisha duduk dengan enteng di kursi yang sudah di siapkan oleh Altar, dia cuman melihat para lelaki.
Sedangkan Gea, berada di kamar karena kesal pada keempat manusia soplak, yang membuat dirinya emosi dan mebutuskan di kamar saja.
"Pret njir, kena tintanya goblok," pekik Altar menyiram air ke arah Cakra.
"Ini di potong sepuluh aja, biar hemat," titah Evan.
"Potong empat aja ege," celetuk Kendra.
"Bacot ah."
Vier yang beranjak berdiri untuk menuju halaman belakang, membakar cumi-cuminya, tiba-tiba dia kepeleset di lantai karena lantainya memang licin terkena ciprakan tinta cumi-cumi dan sabun
Bug!
"Arkkk," teriak lelaki itu dengan kuat, bahkan baskon yang berisi cumi-cumi terhambur di wajahnya.
Aisha serta Altar dan ketiga temannya kaget dan menghampiri Vier.
"Sayang, hati-hati," peringat Altar menghampiri istrinya agar tidak ikutan jatuh, karena lantai licin.
Cakra dan Evan cepat-cepat membantu Vier namun badan lelaki itu tak bisa bergerak.
"Ini sakit anjir, gak bisa goyang gue, sakit!" aduhnya.
"Angkat!" pinta Evan.
Mereka bertiga pun mengangkat tubuh Vier ke arah sofa.
__ADS_1
Altar pun segera menelfon dokter, dan beberapa saat dokter tersebut telah sampai di rumahnya.
Bahkan sudah memeriksa kondisi Vier.
"Kasian, Vier," ujar Aisha menatap senduh ke arah Vier yang sedang di periksa oleh dokter bela tulang.
Aisha menegok menatap suaminya. "Kakak Ais udah gak mau makan cumi-cumin lagi, ini semua terjadi karena Ais." Wanita itu menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang di alami oleh Vier.
Vier kembali berteriak, saat dokter tersebut menggoyangkan tangannya.
Vier yang berteriak, Aisha yang meringis kesakitan melihatnya.
"Dok, dok jangan dok sakit..,"cegah Vier, kembali menjerit kesakitan.
Evan yang tidak mempunyai hati nurani, mengambil selotip dan mengselotip mulut sahabatnya.
"Ribut anjir, tetangga pada tidur, takutnya mereka manggil pak rt dan nuduh kita pada menganiaya lo," ketus Evan.
Akhir dengan beberapa waktu, dokter pun berhenti menggoyangkan tubuh Vier.
"Aw, taiknya keluar dari p*nt** loh," timpal Kendra.
"Ya jelas keluar dari p*nt** lah, kalau keluar dari mulut, kan itu taik gigi lo yang kuning," celetuk Vier, membuka selotip yang di pasang oleh Evan.
"Ini tidak ada yang serius, Vier hanya keseleo saja gak perlu khawatir, besok akan kembali ke semula kok," jelas dokter buka suara.
"Sia-sia dong dok, saya berteriak, dokter lama mencet-mencet eh cuman keseleo," celetuk lelaki itu lagi.
"Lo kalau udah di obati, udah dapat musibah gak usah ngeceletuk mulu kerjaannya!" ngegas Cakra.
Dokter muda itu hanya tersenyum. "Kalau begitu, saya izin pamit, masih ada pasien di rumah sakit," ujar dokter tersebut.
__ADS_1
Mereka mengangguk, Kendra mengantar dokter tersebut sampai ke depan pintu rumah.
"Kalian nginap di sini aja dulu, kasian Vier," sahut Aisha.
Mereka mengangguk, tidak ada pilihan lain selain nginap dulu di sana.
Mereka pun menuntut Vier menaiki anak tangga menuju kamar. Setelahnya, Altar menggendong tubuh istrinya ke kamar miliknya berdua.
Altar mencium inti wajah sang istri, membuat Aisha tertawa karena geli.
"Kak Altar, ini geli," ujar Aisha.
"Sayang, apahnya dedek mau ini," tunjuk Altar ke bibir Aisha, Aisha hanya mengangguk.
Altar pun memagut dengan lembut bibir sang istri, tangannya dia genggam tangan mungil milik istrinya.
Mereka sama-sama terkekeh. Altar berbaring di samping sang istri.
"Coba, mana wajah cantik istri kakak," ujar Altar memperlihatkan kamera ponsel ke arahnya dan istrinya.
Aisha pun refleks mengambil gaya.
"Lucu," puji Altar, mencium pipi chubby istrinya itu, bahkan menggigitnya membuat Aisha mendengus.
Altar menpuk-puk belakang sang istri agar cepat tidur.
Aisha menguap, dia mengucek matanya dan tersenyum sekilas ke arah Altar lalu menutap mata.
"Good night, Habibati," bisik Altar.
"Too, Habibi," balas Aisha, sehingga membuat pipi Altar memerah.
__ADS_1