
Altar dan Aisha pun memutuskan untuk menginap sehari di pondok pesantren.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar, sehabis sholat bersama dengan para santri.
Aisha sedang membersihkan kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan, otomatis akan berdebu.
"Sayang, jangan terlalu capek," peringat Altar yang habis mandi.
Aisha hanya mengangguk lalu melanjutkan membersihkan buku-buku novelnya. Dia akan membawa buku-buku tersebut ke rumahnya dan Altar.
Altar menarik tangan istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Kakak bilang gak usah di lanjutin," seru Altar menggigit kecil telinga Aisha.
"Ais gak suka lihatnya!" jawab Aisha.
Baru ingin bermesraan dengan sang istri tiba-tiba ponselnya berdiring.
Altar melepaskan pelukannya lalu mengambil ponselnya.
"Siapa kak?" tanya Aisha.
"Atlanta sayang," jawab Altar menerima telfon tersebut.
"Ada apa?" tanya Altar saat sambungan tersambung.
"Lo ke rumah sakit cepat, Gea kritis dan terus memanggil nama lo dan Aisha," ujar Atlanta dari seberang sana. Setelah mengatakan itu dia memutuskan sambungan.
__ADS_1
"Ada apa kak?" tanya Aisha yang sedang memilihkan pakaian tidur untuk Altar.
"Sayang, kita harus cepat ke rumah sakit," ujar Altar mengambil pakaiannya lalu memakainya dengan terburu-buru.
"Ya tapi kenapa kak Altar? Apa terjadi sesuatu?" tanya Aisha bingung.
"Gea sudah sadar dari komanya, tapi dia sedang kritis dan terus saja memanggil nama kita," jawab Altar.
Aisha pun segera bersiap mendengar itu, padahal gadis itu yang membuat rumah tangganya berantakan namun Aisha sama sekali menaroh dendam kepadanya.
Saat insiden di kolam, Gea mengalami koma dan baru sekarang baru dia tersadar dan sedang kritis.
Padahal saat itu Altar dengan cepat menyelamatkan gadis itu namun Tuhan malah membuatnya seperti ini. Mungkin Karma atas semua yang dia lakukan pada Aisha dan juga mantan kekasih Atlanta? Hanya Tuhan yang tau.
Saat telah sampai di rumah sakit mereka berdua buru-buru menuju ruangan yang di beri tau oleh Atlanta.
"Saya dokter, saya yang namanya Aisha," sahut Aisha yang baru saja datang.
Mereka pun memasuki ruangan, di situ lah mata Altar menjadi memerah melihat adik tersayangnya seperti ini.
"Ai-sha," panggil Gea.
Aisha langsung mengenggam tangan gadis itu.
"Ais-ha ma-afin gu-e," ujar Gea dengan suara yang tersengat-sangat karena dadanya naik turun, air mata terus mengalir di sudut matanya.
"Kamu gak salah apa-apa," balas Aisha sambil menangis.
__ADS_1
"Ka-k Ata, ini sem-ua b-ukan sa-lah Ai-sha, I-ni murni kesalahan ku. Maaf."
Altar maju mendekati mereka berdua.
"Tolong maafin gue, ini membuatku tersiksa," mohonnya.
Mereka berdua mengangguk. "Kita memaafkan mu," jawab sepasang suami istri itu bersamaan.
Gea tersenyum. "Makasih." Setelah mengucapkan demikian. Dia melemahkan dirinya bahkan tangannya yang di sedang di genggam oleh Aisha seketika menjadi dingin.
Dokter yang ada di sana langsung memeriksanya.
Dokter tersebut menghela nafas panjang. "Pada pukul 19. 34 WIB. Pasien telah menghambuskan nafas terakhirnya, mungkin benar kalian yang dia tunggu. Do'a kan dia tenang di sana," jelas dokter turut berduka. Dia mulai menutup mata Gea.
"Gea," teriak Altar menguncang tubuh sepupunya. "Tidak secepat ini dek, Ata memaafkan mu tapi jangan pergi seperti ini."
Lelaki itu menangis sejadi-jadinya sambil memeluk sang sepupu.
"Kak," panggil Aisha mengambil ahli memeluk suaminya.
Pintu terbuka, terlihat orang tua gea beserta orang tua Altar dan yang lain.
Ibu gadis itu seketika pingsan melihat jasad anaknya.
"Dia orang hebat, dia meninggal dengan air mata terus mengalir, itu pertanda kemungkinan dia akan selamat di pertanyaan siksa kubur, tidak semua orang meninggal seperti dia. Aku aja tidak tau nanti aku juga bisa seberuntung dirinya atau tidak," sahut Aisha sambil memeluk suaminya yang lemas tak berdaya.
"Dia berbohong, dia ingin ngeprank kita, mana mungkin dia pergi sebelum gue! Dia udah janji sama gue dan Altar dia selalu ada bersama kami!" teriak Atlanta tak terima sambil mengacak rambutnya.
__ADS_1
Bunda Karen langsung memeluk anak sulungnya. "Biarin Gea pergi dengan tenang," ujarnya sambil memeluk anaknya yang ikutan rapuh.