
Leana langsung mencubit pinggang Atlanta, bisa-bisanya suaminya itu masih ingin meminta lagi, padahal dirinya sudah tak sanggup. Bahkan, kakinya sudah bergetar hebat.
"Udah turun, cabut terong panjang kamu itu!"
Atlanta pun terkekeh melihat istrinya kesal, dia pun mencabut punya dari milik sang istri. Dia mengambil tisu dan membersihkan terong milik Leana. Emang milik Leanakan? Kalau milik Davina yang jelas Leana akan memotongnya terus di goreng kan ngeri.
"Gendong, mau ke kamar mandi," rengek Leana merentangkan tangannya, Atlanta pun segera mengangkat tubub istrinya ke dalam kamar mandi.
"Mau aku mandiin, sayang?" tanya Atlanta menawar.
Tanpa Atlanta duga Leana mengangguk. Paschal Atlanta cuma bercanda, tapi dianggap serius dengan sang istri. Tentu Atlanta terimalah, sia-sia kalau di tolak, rejeki hehe.
Saat Atlanta ingin ikut masuk ke dalam bathtub tiba-tiba saja Leana menatapnya dengan tajam dan melarangnya.
"Dasar mesum, gitu aja langoing mau. Emang enggak tahu sakitnya gimana? Kamu baik cuma dapat enaknya, kalau aku? Dapat sakitnya."
"Tapi dapat enaknya juga kan? Kamu kan yang minta di cepatin biar tambah enak," ucap Atlanta brutal sekali membuat Leana jadi malu mengakuinya jadi suami, mesum sih.
"Serah, sana keluar," usir Leana.
"Lah tadi katakan minta di temani mandinya, kok disuruh keluar?" tanya Atlanta.
"Kamu nyebelin, aku jadi enggak mood lihat wajah kamu yang mesum itu," tutur Leana membuat Atlanta menggaruk belakang kepalanya.
__ADS_1
Atlanta pun keluar dari kamar mandi, meninggalkan sang istri sendirian.
"Tukan makin nyebelin, maunya dapat enaknya aja. Dasar cowok," ketus Leana buru-buru mandi wajib lalu berlanjut untuk membersihkan diri.
Sedangkan Atlanta menunggu istrinya selesai, karena dia juga ingin membersihkan tubuhnya atau mandi wajib.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Leana keluar dari dalam sana dengan menggunakan handuk saja yang menutupi tubuh polosnya.
Atlanta malah salah fokus dengan leher Leana yang terdapat memer besar. Bahkan, cara jalan Leana seperti bebek membuat Atlanta terkekeh.
"Astag-" Atlanta cepat-cepat mengunci mulutnya saat mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
"Udah aku bulatkan, kamu tidak akan mendapatkan jatah dalam sebulan!" tegas Leana membuat Atlanta membulatkan matanya.
"Malah nanya, ya sakitlah," ketus Leana menuju di mana letak kopornya berada. Dia mengeluarkan pakaiannya dan memakainya.
Sedangkan Atlanta sudah mulai furstasi mendengar ucapan istrinya. Jadi kismis dong kalau enggak di kasih jatah sebulan?
"Jangan panik dulu, ok? Dia kalau udah di rayu bakal luluh, lagian sakitnya akan sebentar pasti. Emang dia bakal tahan juga kalau aku enggak sentuh?"
Akhirnya Atlanta masuk ke dalam kamar mandi. Dia menyiram kepalanya dengan air dingin, agar segar dan pikiran rileks dan tidak terus memikirkan ucapan istrinya.
__ADS_1
Setelah selesai bersih-bersih mereka berdua pun berjalan-jalan keluar. Atlanta mengajak istrinya ke restoran tebaik di korsel. Jangan takut tak halal, makanan halal terbanyak ada di korsel loh.
"Sayang aku mau Nakji-bokkeum," ucap Leana.
Nakji-bokkeum adalah daging gurita yang gurih dan kenyal berpadu dengan saos pedas manis ini cocok banget dijadikan lauk makan siang. Apalagi kalau ditambah dengan makanan khas Korea lain. Pemberitahuan dari google.
"Tapi itu penas, yang. Kamu punya asam lambung, nanti kambuh gimana?" tanya Atlanta seakan melarang istrinya untuk memakan-makanan tersebut.
"Makan Kimbap aja," ucap Atlanta.
"Enggak mau, aku maunya Nakji-bokkeum!"
Atlanta menghela napas panjang. Mau tak mau, Atlanta pun mengikut keinginan sang istri.
"Sekali aja?"
Leana menganggukan kepalanya. Dia tersenyum dan menunggu pesanannya datang. Wanita tuh mencium bau nakji-bokkeum yang sudah datang.
"Enak?" tanya Atlanta melap bibir istrinya yang kotor.
"Enak, kamu mau coba?" tanya Leana.
Atlanta membuka mulutnya, Leana pun memasukan sebagian makanan tersebut ke dalam mulut suaminya.
__ADS_1
Usai mengisi perut, Atlanta mengajak sang istri ke taman bermain. Leana benar-benar takjub dengan keunitannya.
"Sayang aku mau boneka itu," seru Leana seperti bocah yang meminta mainan kepada ayahnya.