Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
Janji Altar pada mertuanya.


__ADS_3

"Sialan," umpat Altar.


"Kak Altar," tegur Aisha.


"Astaghfirullah. keceplosan soalnya ada aja yang ganggu," ucap Altar.


Aisha memundur kan badan Altar kebelakang. "Yaudah deh coba kakak lihat siapa yang bunyikan bel, siapa tau penting kak," ujar Aisha.


Altar mendengus kesal. "Sha, gagal lagi deh!!" ketus Altar frustasi.


"Mungkin belum saatnya kak Altar, sabar ya." Aisha mengelus bahu suaminya dengan lembut.


Altar menghela nafas dalam dalam, lalu mencium kening istrinya. Hanya kening yang terus saja dia dapatkan.


Altar turun dari ranjang. Baru di ambak pintu dia dipanggil kembali oleh Aisha.


"Apa?" jawab Altar.


"Itu kakak cuman pake bokser," ujar Aisha menujuk kearah pangkal paha suaminya.


Altar menoleh kebawa dan benar. Sial sarung yang dia pake kelepas, dia pun langsung menutupinya dengan kedua tangan yang dia silang kan.


"Ko bisa kelepas sih?" gumamnya. "Mana tadi lupa pake celana," ujar Altar bingung. Apalagi sekarang dia merasa malu banget sama istrinya. Bokser dia pake bergambar boboboy, mati harga dirinya sebagai badboy kejam didepan sang istri.


Bahkan dia melihat Aisha yang sedang menahan tawanya. "Ah sialan, ck gue rentak gigi yang membunyikan bel," gerutuk Altar. Sesudah memakai celana pendek sebatas lutut, Altar pun Pergi dari kamar

__ADS_1


"Ah sia- umah,abi," ujar Altar disaat dia membuka pintu dan yang datang adalah kedua mertuanya. Padahal dia sudah cernah cernah yang datang adalah keempat temanya. Gajadi rentak kin giginya dong, bisa bisa dia dipecat jadi mantu idaman nantinya.


"Ayo masuk," ajak Altar membuka lebar pintunya. "Kok ga ngasih tau mau kesini, kalau tau mah Altar dan Aisha bisa nyambut kalian dengan baik," lanjut Altar. Berusaha tidak menyanggungkan diri dengan mertuanya.


"Maaf ya, Altar lama buka pintunya," ujarnya sekali lagi. Membuat kedua mertuanya hanya tersenyum.


"Sebenarnya kami pengen ngasih kejutaan kekalian," sahut Umah Giva.


Altar hanya manggut manggut. " Bentar iya Altar panggilkan Aisha," ujar Altar, setelah itu dia kembali kekamar untuk memanggil istrinya.


"Kayanya Ais di terima baik sama suaminya, mas," ujar Giva.


Kiayi Nando hanya mengangguk membenarkan ucapan istrinya. Mereka pun menunggu putri dan menantunya.


"Sha jang lari lari."


Aisha memeluk umahnya dengan sangat erat. Seakan tidak pernah bertemu selama bertahun tahun, padahal baru pisah lima hari yang lalu.


Senyum Altar terukir dari bibirnya melihat istri dan mertuanya itu.


"Kalian gabilang Ais sih kalau mau kesini!! kalau tau Ais bakal masakin umah dan abi sesuatu dulu," ujar Aisha cemberut kearah kedua orang tuanya.


"Sebenarnya umah dan abi maunya kesini pas siang tadi mau ngasih kejutaan, tapi kalian kan sekolah, dan sorenya umah lagi bantu bantu dipesantren. Jadi maaf ya umah dan abi datangnyan malam," jelas Giva pada putrinya.


"Iya gapapa, kapan pun kalian datang mau pagi, siang, sore ataupun malam. Ais dan kak Altar akan membuka lebar pintu rumah untuk kalian selalu."

__ADS_1


"Bisa aja anak abi ini." Gemess Kiayi Nando dan mencubit pipi putrinya.


"Abi jangan di cubit sakit!" ujar Aisha pada abinya.


"Kalian tidak saling bertengkar kan?" tanya Kiayi Nando pada putri dan menantunya.


Aisha menggeleng. "Kami tidak pernah bertengkar kok abi, umi. Kak Altar tidak pernah kasar sama Ais," jujur Aisah emang ada adanya.


"Maaf abi. Tapi saya pernah membentak Aisha maafin Altar, Altar akan memperbaiki kesalahan Altar," sahut Altar jujur pada mertuanya.


Kiayi Nando dan Giva diam. Membuat Altar was was.


Dan beberapa saat terdengar helaan nafas dari Kiayi Nando, abi Aisha maupun Rigel itu.


"Altar. Pernikahan kalian memang terpaksa dan abi tau kamu terpaksa menerima perjodohan ini, jadi abi maklumi bentakan mu pada anak abi. Tapi jangan coba coba kamu ulangi lagi iya! Abi gasuka, bahkan saya orang tuanya tidak pernah satu kali pun membentak Ais, ingat jangan ulangin lagi. Kali ini abi memaafkan mu, tapi lain kali abi tidak segan segan mengambil anak abi!" jelas Kiayi Nando dengan penuh ketekanan pada menantunya.


Altar cepat menggeleng kan kepalanya disaat mendengar ucapan terakhir mertuanya. "Altar janji pada abi, Altar tidak akan membentak Aisha, apalagi membuatnya menangis. Abi bisa memegang janji Altar," ujar Altar.


Kiayi Nando yang tadinya memperlihatkan wajah datarnya pada Altar, pun tersenyum.


"Abi percaya, abi salut sama mu yang jujur atas kesalahan," balas Kiayi Nando tersenyum menepuk nepuk bahu menantunya.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2