
Sudah sekitar 2 jam. Mereka menunggu di luar ruagan, Altar tak bisa di tenangi siapapun yang mendekatinya akan mendapatkan akibatnya, dia memukul kepala ketembok dengan keras bahkan kepalanya sudah mengeluarkan banyak darah.
"Tar udah, kalau lo gini kita bisa memutar waktu? Ini sudah terjadi, dan ya bukan salah lo juga," ujar Vier.
"Ini salah gue sialan," ngegas Altar tak berdaya.
"Yaudah, jangan sakiti diri lo. Lo kira Aisha suka kalau lo kaya gini?" tanya Kendra. "Tenangi diri, kita berdo'a sama-sama agar Aisha baik-baik saja, ok?"
Evan mendudukan sahabatnya di kursi. "Aisha butuh penyemangat dari lo, jangan sakiti diri lo sendiri." Evan ikut menenangi.
Altar mengusap wajahnya dengan kasar, dia perlahan sudah mulai tenang tak seperti tadi lagi. "Maafin kakak, kamu harus bertahan!" Altar terus berdo'a di dalam hati.
"Om, bawa tante Marwa keruangan bunda dulu aja," ujar Atlanta.
Kana mengangguk dia menggendong istrinya menuju dimana ruangan sang adik. Saat ini wanita paruh baya itu tengah pingsan.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka membuat Altar dan yang lain berdiri.
"Dokter, gimana keadaan istri dan anak saya? Dia baik-baik aja kan?" tanya Altar.
"Alhamdulillah berkat tuhan dia bisa melewati masa kritisnya," jawab Dokter, membuat Altar berucap syukur.
Namun helahan nafas sang dokter kembali membuat orang yang ada di sana deg-degan.
"Tapi saya minta maaf, nyawa yang sedang di kandungnya harus di gugurkan." Dokter itu menunduk.
"Mak-sud dokter?" tanya Altar.
__ADS_1
"Maaf, demi nyawa pasien kami terpaksa menggugurkan kandungannya," jawab dokter
"Anak gue?" tanya Altar terduduk lemas.
Cakra mendekati Altar dan memeluknya. "Lo yang sabar."
"Anak gue, Cak, dia dan Aisha pasti selamat!" teriak Altar terisak dalam pelukan Cakra.
"Hanya menimal dua orang yang bisa menemui pasien ," pesan dokter lalu pergi dari sana.
Altar beranjak dan masuk ke dalam ruangan, dia melihat istrinya yang terbaring di brankar tanpa daya.
"Sayang," panggil Altar duduk di kursi dan mengecup tangan yang tak berdaya punya sang istri. "Maafin kakak sayang," ujar Altar.
"Bayi ku."
Altar mendongak ke arah Aisha, yang masih menutup mata namun bibirnya berucap.
"Sayang," bisik Altar sehingga Aisha membuka matanya.
Yang pertama dia lihat adalah suaminya dengan kening yang di lemuri darah.
"Kak Altar, anak ku selamatkan? Dia baik-baik aja? Dia bilang akan menyelamatkan ku, tapi dia meninggalkan ku pergi, dia pergi," ujar Aisha.
Altar memeluk Aisha yang menangis. "Ayo tenang dulu ok?"
"Kau jahat bajingan," bentak Aisha memukul dada Altar.
"Maafin kakak," jawab Altar.
__ADS_1
Aisha mendorong tubuh Altar. "Maaf? Kata maaf gak bisa di ucapkan oleh lelaki seperti kak Altar!" tekan Aisha.
tenggorakan Altar seperti sedang di cekek setelah mendengar perkataan Aisha.
Altar malah memeluknya walaupun wanita itu selalu memberontak namun cuman sesaat, dia sudah terdiam karena kalah kuat oleh Altar.
"Kau jahat, kak," lirih Altar.
"Kakak tau."
"Bayi ku baik-baik saja kan?" tanya Aisha membuat Altar tak bisa menjawabnya. "Jawab aku kak Altar!" bentak Aisha.
Altar mengeluarkan air mata. "Anak kita pergi sayang, dia memang menyelamatkan mu, tapi dia pergi dia meninggallan kita berdua," jelas Altar tak bisa menutupinya.
"Apa maksud mu?" tanya Aisha. "Dia gak pergi!" tekan Aisha berteriak.
"Dia anakku dia kuat tidak selemah itu untuk pergi, kak Altar."
Aisha mendorong dengan kuat tubuh Altar sehingga pelukannya terlepas.
"Apa yang kamu ingin lakukan?" tanya Altar merampas pisau ada di nakas yang ingin Aisha raih
Altar menarik keras tangan Aisha. "Sadar Aisha, ini membahayakan, dia gak akan kembali!"
"Kalau dia gak bisa kembali, Ais bakal ikut bersamanya." Wanita itu makin mengada-ngada.
"Kamu bodoh? Kau ingin meninggalkan kakak ha? Sadar Ais."
Aisha terdiam sesaat, Altar memeluk tubuh Aisha kembali.
__ADS_1
"Kamu tau dosa? Biarin anak kita tenang di sana sayang."