Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Ngedate •Chapter 48•


__ADS_3

Altar mengusap wajahnya. "Gak kok sayang, kemasukan setan cinta mu aja." Altar tersenyum.


"Ck yang benar aja, muka kakak pucat banget mending gak usah pergi kakak, takut kakak kenapa-napa," ujar Aisha.


"Gak apa-apa sayang, kakak baik-baik aja!"


Aisha menghela nafas. "Kalau kakak nanti merasa gak enak, beri tau Ais ya!"


Altar hanya manggut-manggut. Dia menggendong tubuh mungil istrinya, keluar dari kamar.


"Bik Indah, Kami keluar dulu ya!" teriak Altar. Dan beberapa saat, Indah muncul dari dapur.


Indah mengangguk. "Hati-hati, Den Non," ujar Indah, dah hanya di angguki oleh Altar dan Aisha.


"Kak Altar, naik motor aja!" pinta Aisha, turun dari gendongan Altar.


"Angin malam, gak baik!" timpal Altar, menggeleng.


"Gak, romantis dong kalau naik motor, Ais mau naik motor!" ketus Aisha.


Altar menghirup udara dengan rakus. "Ok, demi pacar aku," ujar Altar, mencubit pipi Aisha. Aisha pun hanya tersenyum, malu-malu di balik cadarnya.


Altar pun menuju garasi untuk mengambil motor sportnya.


pria tampan itu, membantu istrinya naik ke atas motor. "Pakai helm dulu!" pinta Altar, memasang,'kan helm ke kepala Aisha.


"Jangan di pencet hidungnya, kak Altar!" ketus Aisha.

__ADS_1


Altar hanya terkekeh, dia mencium kening istrinya yang tertutup kerudung. "Udah siap sayang?" tanya Altar, dan hanya di angguki oleh Aisha.


Mereka pun akhirnya pergi dari rumah. Di jalan hanya ada ocehan tidak jelas oleh Aisha.


"Kak, aku penasaran deh sama markas geng motor kakak, apa kakak mau ajak Ais ke sana?" tanya Aisha.


"Gak di sana tempat bahaya, kakak gak mau kamu di lirik para anggota geng motor kakak," jelas Altar.


"Yaudah deh. Terus kita mau kemana?"


"Ada deh, kamu lihat aja nanti!" jawab Altar.


Beberapa menit, Altar memberhentikan motornya. Dan ternyata, Altar membawa Aisha ke pantai.


Di sana sudah di hiasi banyak bunga, kayanya udah di persiapin oleh suruhan Altar, entah siapa.


Dengan hati yang berbinar, Aisha mengangguk, dia jalan lebih dulu dari pada Altar.


Ini sangat persis dengan impianya dulu. Bahwa setelah menikah dengan seseorang, Aisha ingin ngedate, seperti apa yang di buat Altar saat ini.


"Coba, sini dulu sayang," pinta Altar. Aisha pun berlari kecil ke arah Altar.


Altar memeluk lengan Aisha. "Coba tutup mata dulu!"


Dengan hati yang bingung, Aisha hanya menuruti perintah Altar, ia menutup matanya tanpa mengintip sedikit pun.


Beberapa saat, Altar menyuruhnya membuka mata.

__ADS_1


Aisha kebingungan, karena tidak ada perubahan sama sekali, dia menatap Altar dengan bingung.


Altar yang di tatap pun, hanya tersenyum. "Coba lihat ke atas!" perintah Altar, Aisha pun hanya menurut.


"Dag." Aisha serasa pengen lompat saat itu juga. Dia melihat namanya dan Altar terukir dengan indah di langit malam. Di hiasi oleh bintang bintang.


Gadis itu menoleh ke arah Altar, dan tersenyum. "Makasih kak Altar, Ais gak bakal lupain momen indah ini!" ujar Aisha, memeluk tubuh Altar.


Altar membalas pelukan Aisha dan tersenyum.


Dulu Aisha berfikir. Dirinya akan sengsara bersama Altar, namun dugaannya salah besar, ternyata Altar begitu romantis terhadap pasangan.


Tidak bisa di gambar,'kan lagi gimana bahagianya Aisha saat ini. Dia hanya berharap, dirinya dan Altar tetap di satu,'kan sampai maut memisah,'kan mereka.


"Ck, sialan dia yang ngedate, kita yang susah!" umpat Cakra, menggaruk lehernya, karena di gigit nyamuk di semak-semak.


"Tau tuh, si monyet keteprat!" susul Vier, model julid.


"Mana tadi, lagi enak-enaknya molor," ketus Evan, menguap.


Mereka berempat, memang di paksa oleh Altar untuk menyiapkan semua itu.


Ternyata di balik kebahagian Altar dan Aisha saat ini. Ada keempat manusia yang sedang tersiksa lahir dan batin.


Di lain sisi, ada seseorang yang panas dingin melihat ke mesraan Altar dan Aisha.


"Lo udah tau,'kan kita harus ngelakuin apa?" tanya seseorang dengan senyum devilnya.

__ADS_1


__ADS_2