Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ part 35


__ADS_3

Satpam berusaha memisahkan mereka berdua. Mahesa di suruh untuk pergi dari rumah sakit tersebut, karena jika tidak Atlanta akan terus mengajarnya.


Mahesa tidak pergi seorang diri malahan ditemani oleh kedua temannya. Yaitu Dito dan Davi, mereka berdua memang tidak menyangka saat mengatahui ini.


"Sialan lo, Mahes." Dito ingin melayangkan pukulan. Namun, Davin buru-buru menahannya.


"Tahan cuy," peringat Davin. "Dan lo, Mahesa. Gue juga enggak nyangka dengan apa yang lo buat. Cuma gara-gara satu cewek lo merusak persahabatan kita. Kalau gini jadinya kaya gimana lagi?"


"Gue tanya sama lo, dengan perbuatan lo ini lo udah dapat untung belum?" tanya Dito. "Enggwk kan? Dapat Leana kagak, hubungan persahabatan rusak, iya. Tolol kok dipelihara, heran gue. Gue kira lo bisa mikir dengan dewasa, Sa. Ternyata gue salah besar," maki Dito.


Sedangkan Mahesa yang terus saja dimarahi oleh kedua temannya lebih memilih untuk menulikan pendengarannya. Dia tidak merasa bersalah, melaiankan kesal karena rencananya gagal. Andai saja dia tidak mendorong tubuh Leana waktu di mobil. Mungkin mereka sudah berada di Jepang dan hidup bahagia di sana. Membangun keluarga yang harmonis.


"Sialan," umpat Mahesa mengepal tangannya. Benar kata Dito, dia tidak mendapatkan Leana, dan tidak dapat untung apapun juga.


Bahkan, mungkin dia akan terus akan diajar habi-habisan dengan oleh Atlanta. Atlanta tidak akan melepaskannnya begitu saja.


Atlanta memeluk istrinya, begitupun dengan Leana. Kesedihan wanita tersebut kembali, Leana masih menyangka jika sang buah hati akan diambil secepat ini.


"Atlanta, anak kita, Ta," ucap Leana masih menangis dalam pelukan Atlanta.


"Sudah, Na. Biarkan anak kita bahagia di sana, jika kamu terus gimana dia akan bahagia di sana?" tanya Atlanta menghapus air mata istrinya. "Kita masih bisa membuat adik untuknya, kita masih bisa membuat buah hati kita, Na."


"Udah iya, jangan sedih lagi." Atlanta menidurkan Leana ke dadanya.


Leana terus sesengukan, sampai wanita itu tertidur dalam dada Atlanta. Atlanta pun dengan perlahan turun dari brankar dan memperbaiki posisi tidur Leana.


Wajah wanita tersebut sudah sangat pucat membuat Atlanta sedih melihatnya. Pasti perlu waktu lama, dia mengambilkan wajah ceria milik istrinya.


Dengan lembut Atlanta mencium kening istrinya, setelah itu dia memakaikannya selimut. Seorang suster memanggilnya, jika sang bunda menyuruhnya ke ruangannya.


"Suster, saya minta tolong jaga istriku sebentar saja tunggu saya sampai kembali," pinta Atlanta membuat suster tersebut menganggukan kepalanya.


Atlanta pun menunu ruangan bundanya, entah apa yang akan dikatakan bunda Karen, tapi sepertinya itu hal penting karena menyuruh Atlanta duduk di kursi.


"Ada apa, bunda?" tanya Atlanta kepada bunfanya setelah dirinya duduk di kursi.


"Begini, Lan...." Bunda Karen menjelaskan sedatailnya kepada sang putra.


Atlanta terkejut mendengar bahwa Leana kemungkinan sudah tak bisa hamil, tapi itu hanya kemungkinan, karena semuanya kehendak sang maha pencipta.


"Bunda yakin?" tanya Atlanta.


Bunda Karen menganggukan kepalanya. Dia juga merasa sedih menharahu jika menantunya kemungkinan besar sudah tak bisa hamil.

__ADS_1


"Ta, jangan katakan ini semua kepada istrimu. Bunda jadi khawatir jika dia semakin terpukul mendengarnya, rahasiakan ini semua, nak. Demi kebaikan istrimu."


Atlanta menghela napas panjang, lalu menganggukan kepalanya. Mana mungkin dia mengatakan masalah ini kepada Leana, semakim terpukul dan terluka Leana saat mengatahuinya.


"Pasti bunda, pasti. Atlanta tidak akan mengatakan ini semua kepada Leana. Atlanta juga tak ingin istri Atlanta semakin sedih mendengarnya."


Bunda Karen tersenyum lalu mengusap tangan putranya yang berada di atas meja.


"Semangat, iya. Berdo'a saja, itu hanya kemungkinan. Kita tidak tahu ke hendak Tuhan seperti mana."


Atlanta hanya mampu untuk menganggukan kepalanya, jika ditanya apa dia ikut sedih? Maka jawabannya, iya. Siapa yang tak sakit mendengar, bahwa sang istri kemungkinan sudah tak bisa hamil lagi?


"Kalau begitu, Atlanta harus kembali ke kamar rawat Leana, takut dia terbangun dan mencari Atlan." Setelah mengatakan itu Atlanta keluar dari ruangan bundanya, dan kembali ke ruang rawat istrinya.


Saat dia masuk ke dalam ruangan, suster yang menjaga di sana pun pamit untuk pergi. Setelah kepergian suster, Atlanta duduk di kursi samping istrinya.


"Atlanta," panggil Leana membuka matanya. Dia melihat suaminya yang duduk di sampingnya sambil menatapnya. "Atlan."


"Kenapa, hem? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Atlanta mengusap dengan lembut tangan Leana.


"Aku mau minum," pinta Leana membuat Atlanta langsung mengambilkannya.


Leana meneguk dengan habis air tersebut, sungguh wanita tersebut sangat haus sekali.


"Tapi, say-"


"Aku mohon, Atlan. Demi aku," rengek Leana membuat Atlanta tak tetangga menolak permintaan istrinya.


"Ya sudah, aku tanya bunda dulu. Iya?" tanya Atlanta membuat Leana hanya menganggukan kepalanya.


Baru saja ingin keluar dari ruangan, pintu ruangan dibuka dan ternyata adalah bunda Karen.


"Bunda lihatlah, menantu bunda masa dia ingin pulang padahal keadaannya belum pulih," aduh Atlanta membuat Leana langsung menatap tajam suaminya.


"Kenapa, sayang? Kenapa kamu ingin pulang? Keadaan kamu belum membaik."


"Leana mohon, bunda. Lea sudah baik-baik aja kok," jawab Leana memohon kepada mertuanya.


Bunda Karen menghela napas panjang. Akhirnya dokter yang sudah berumur tua itu menganggukan kepalanya, dengan syarat Leana harus tinggal dirumahnya agar gampang dia periksa setiap saat.


"Enggak masalah bunda, yang penting aku keluar dari sini," jawab Leana menganggukan kepalanya.


Atlanta pun mengemas, dan membawa istrinya pulang, bukan pulang ke rumah mereka. Melainkan pulang ke rumah bunda Karen.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Atlanta kembali menyuruh Leana untuk beristirahat. Dan dia yang akan membuat makanan untuk istrinya.


"Ayo buka mulut," pinta Atlanta membuat Leana membuka mulutnya.


"Atlan," panggil Leana.


"Kenapa, sayang?" tanya Atlanta.


"Apakah kamu tidak marah kepadaku?"


Atlanta mengerutkan keningnya mendengar ucapan istrinya tersebut. Mengapa dia harus marah kepadanya?


"Aku tidak bisa menjaga anak kita, Atlan. Aku menghilangkan anakmu." Wanita tersebut kembali menangis membuat Atlanta menghela napas panjang.


"Aku tidak pernah marah kepadamu, jangankan marah menyalahkanmu pun aku tidak ada niatan seperti itu, Na. Ini semua ulah Maheda sialan." Atlanta menyimpan piring berisi makanan di nakas lalu memeluk istrinya kembali.


"Atlan, jika aku enggak bisa hamil secepatnya gimana? Apakah kamu akan mencari wanita lain untuk mendapatkan keturunan?" tanya Leana membuat Atlanta melepaskan pelukannya dan menatap istrinya.


Atlanta tidak menyangka saja, kata-kata tersebut keluar dari bibir mungil istrinya.


"Apa yang kamu katakan sayang? Kenapa pikiranmu jauh sekali? Aku tidak akan pernah melakukan hal yang kamu katakan," jawab Atlanta.


"Benaran?" tanya Leana membuat Atlan menganggukan kepalanya.


Akhirnya Leana diam. Dia menghabiskan makanan yang diberikan Atlanta kembali.


"Makan yang banyak, ya sayang." Saat makan sudah habis, Atlanta mencium dengan lembut bibir Leana, Leana pun membalas ciuman tersebut.


Sampai mereka seakan terhipnotis, dan tak kunjung untuk berhenti. Atlanta semakin liar memainkan lidahnya di dalam mulut Leana.


Suara deheman membuat mereka langsung menoleh dan melepaskan ciuman. Wajah Leana seakan memerah melihat mertuanya dan melihatnya berciuman.


"Asik banget ciumannya, sampai bunda dilupakan jika berada di sini."


Atlanta menatap istrinya yang telinganya memerah. Langsung saja terkekeh, lucu sekali melihatnya.


"Bunda jangan digituin istri, Atlan," tegur Atlanta. "Lagian bunda yang enggak sopan, masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu dulu atai permisi, kan normal jika suami dan istri berciuman bahkan lebih." Perlahan-lahan ucapan laki-laki tersebut mengaur membuar Leana memutar bola matanya malas, bukannya nutupin aib, mala dibongkar semuanya.


"Iya deh, bunda salah," ucap bunda Karen.


"Sana keluar, kami ingin melanjutkan yang tadi tertunda karena diganggu bunda. Sana keluar," usir Atlanta.


"Dasar anak durhaka," cibir bunda mencubit kuping anaknya lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


Leana pun tertawa kecil melihatnya membuat Atlanta dan bunda Karen tersenyum melihat Leana kembali ceria lagi.


__ADS_2