Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ Part 55


__ADS_3

Esok paginya. Atlanta berpamitan untuk berangkat kerja kepada sang istri.


"Hati-hati di jalan mas," peringat Leana mencium punggung tangan Atlanta.


"Pasti, sayang. Jangan keluar rumah, iya! Ingat kata-kata aku, kamu harus tetap ada di rumah, jika butuh sesuatu telfon aku. Aku bakal datang, bagaimana pun sibuknya," cicit Atlanta membuat Leana menghela napas panjang.


Kenapa laki-laki itu akhir-akhir ini sering sekali cerewet? Dia jadi malas mendengarkan omelan suaminya, padahal sekali saja dingatkan Leana bakal menurut kepadanya.


"Awas, iya!"


"Iya, bawel banget sih?" tanya Leana. "Suami siapa ini, bawelnya tidak ketolong.


Altanta terkekeh melihat wajah kesal istrinya, dia masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangannya kepada istrinya sebelum benar-benar pergi.


"Dadah, papa."


Setelah kepergian Atlanta, Leana menutup pintu rumahnya. Ada pesan masuk di ponselnya membuat dirinya mengambil ponsel tersebut dan berhalan menaiki anak tangga untuk menuju kamar.


"Kak Dito, dia kenapa? Tumben chat aku," gumam Leana saat Dito mengechat dirinya dan menanyakan sesuatu.


...Kak ****Dito****...


..."Leana lo baik-baik aja, kan?"...


...Anda...


..."Baik, kak. Kenapa?"...


...Kak Dito...


..."Lo seriuskan? Kalau lo lagi apa-apa, bilang ke gue. Gue kakak sepupu lo!...


...Anda...


..."Astaga, benaran kak. Lea baik-baik aja. Enggak usah khawatir!"...


"Gue mimpu buruk, Lea," gumam Dito mengusap wajahnya dengan kasar. "Mimpinya seperti sangat nyata, bahkan gue enggak bakak memyangka," lanjutnya. Laki-laki itu bangun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Semoga saja ini hanya bunga-bunga tidur, gue kan tidur kesiangan."


⊂(・﹏・⊂)⊂(・﹏・⊂)


Atlanta tak langsung ke kantor. Laki-laki itu singgah di kos Davina. Davina pun menyambutnya dengan sangat baik.


"Kenapa lama sekali?" tanya Davina.


"Ya jelas gue lama, gue kan manjain istri gue dulu," jawab Atlanta ketus membuar Davina berdecak kesal.

__ADS_1


"Leana terus, akunya kapan? Hari ini kamu liburkan? Aku ingin kamu di sini aja, sayang, temanin aku. Masa kamu tidak ingin memenuhi permintaan ngidam aku?"


Atlanta hanya berdehem. Dia duduk di sofa, sedangkan Davina masih tetap memeluk lengan Atlanta.


"Tapi hanya makan siang tiba. Gue harus kembali ke kantor, karena Leana akan datang untuk bawain makan siang untuk gue."


"Enggak apa-apa." Davina naik kepangkuan Atlanta lalu mencium bibir laki-laki tersebut.


Atlanta ingin menepisnya. Namun, Davina malah memagutnya. Sebagian laki-laki normal, Atlanta pun teebawa sesuana. Apalagi dua hari ini, Atlanta tidak mendaoarkan jatah dari Leana.


Atlanta memgheodng tubuh Davina masuk ke dalam kamar wanita tersebut. Atlanta menyeringai dan menidurkan Davina di ranjang dan mulai melakukan aksinya.


Sekitar dua jam lebih mereka berhenti, dan Atlanta buru-buru memasang pakaiannya.


"Gue harus pergi, gue udah terlambat," ucap Atlanta buru-buru memasang semua pakaiannya.


"Cepat banget, enggak mau mandi bareng dulu?" tanya Davina membuat Atlanta menggeleng.


Dia sudah di telfon berulang kali oleh istrinya membuar Atlanta buru-buru pergi dari kos Davina. Sedangkan Davina tersenyum devil.


Hanya mudah saja baginya memgambil Atlanta kembali dari Leana. Atlanta hanya miliknya dan tidak akan ada yang akan mengambilnya sekalinya itu adalah Leana.


Leana sudah menunggu di dalam ruangan Atlanta. Atlanta yang baru saja sampai di kantor, lanshung tersenyum dan memeluk istrinya.


"Dari mana sih?" tanya Leana.


"Aa i-tu, aku lagi keluar sebentar untuk meeting, sayang. Maafin aku, iya." Atlanra mencium pipi Leana dan mendudukannya dipangkuan.


Sedangkan Leana memperhatikan pakaian suaminya yang sangat kusut. Perasaan pas berangkat ke kantor, laki-laki masih rapi.


"Mas," panggil Leana.


Atlanta menoleh dan menatap istrinya. Atlanta mengerutkan keningnya.


"Kenapa pakaianmu kusut, sekali?" tanya Leana membuat Atlanta meneguk salvinnya.


Leana hendak memperbaiki kerah kemeja Atlanta. Namun, Atlanta malah bumil tersebut lalu menggelengkan kepalanya. Di lehernya ada tanda merah yang diperbuat Davina. Mana mungkin dia memperlihatkannya kepada Leana istri yang sangat dia sayangi?


"Aaku perbaiki, sayang."


"Enggak usah."


"Pakaian kamu berantakan. Padahal tadi aku rapiin tadi deh sebelum berangkat." Leana berdiri dan kembali ingin memperbaiki kerah kemeja suaminya.


"APA KAMU TIDAK DENGAR LEANA? AKU BILANG ENGGAK USAH, IYA ENGGAK USAH, KENAPA KAMU UDAH ENGGAK MAU MENDENGAR?" Altanta mncengkram dengan kuat tangan Leana membuat Leana meringis kesakitan.


Leana menepis tangannya. Tangannya sangat sakit, karena cengkraman Atlanta. Dia menatap Atlanta, kenapa laki-laki itu membentaknya? Pikir Leana, padahal niatnya baik.

__ADS_1


Atlanta yang sadar langsung meraih tangan Leana yang memerah, karenanya. Leana langsung menepis tangan Atlanta membuat Atlanta meraup wajahnya kasar.


"Ma-af sayang, aku enggak bermaksud seperti itu."


Leana berdehem. "Aku pulang, iya. Kamu jangan lupa di makan makanannya. Kalau makannya enggak enak, di buang aja," ucap Leana keluar dari ruangan Atlanta.


Atlanta menghela napas panjang, lalu mengejar Leana yang pergi dengan air mata yang dia tahan agar tak jatuh.


Jujur saja, hatinya sakit dan kaget saat Altanta membentaknya. Baru kali ini Atlanta memperlakukannya dengan kasar.


"Sayang, maafin aku sayang." Atlanta berusaha menarik tangan Leana. Namun, Leana semakin mempercepat langkahnya.


"Leana berhenti," teriak Atlanta. "Berhenti aku bilang, sialan."


Leana bukannya berhenti, malah semakin berlari pergi dari sana. Atlanta pun semakin mempercepat langkahnya, saat sudah dekat dia menarik kasar tangan Leana membuat wanita tersebut menabrak dadanya.


"Maafin aku."


Leana hanya berdehem, dia mendongak ke atas dengan tersenyum. Namun, dengan jelas Atlanta melihat bemdungan air mata itu.


"Aku kan mau pulang, kenapa di kejar sih? Nanti kamu banyak kerjaan. Maafin aku tadi bisa memahami kamu," ucap Leana. Saat Atlanta memeluknya baru lah Leana menangis kencang dalam pelukan suaminya.


"Maafin mas, sayang. Bukan kamu yang seharusnya meminta maaf, tapi aku. Maafin aku, iya."


"Aku takut, aku takut saat mas membentaku. Padahal aku cuma ingin memperbaiki pakaianmu, tapi malah di bentak, tapi aku takut dikira cengeng makanya enggak nangis."


Leana sesengukan dalam pelukan Atlanta, Atlanta pun menggendong istrinya masuk ke dalam mobil. Dia akan membawa bumil tersebut pulang.


"Maafin, aku sayang. Aku tadi banyak kerjaan, dan aku pusing banget jadinya enggak sengaja bentak kamu."


Atlanta menghapus air mata bumil tersebut. Leana pun menganggukan kepalanya. Lalu menatap keluar jendela mobil, Atlanta pun menjalankan mobilnya membelai jalan raya.


Satu tangannya mengenggam tangan Leana. Leana pun tidak merespon sedikit pun, padahal jika Atlanta melakukan itu. Maka dirinya salah tingkah atau tersenyum, tetapi sekarang hanya diam.


Sesampainya di rumah. Atlanta membuka kan pintu untuk Leana. Leana pun berjalan lebih dulu masuk dan meninggalkan Atlanra yang sedang memarkir mobilnya.


Baru kaya gini aja. Leana begitu marah kepadanya. Gimana jika dia ketahuan telah bermain api dengan wanita lain di luar sana? Akan seperti apa jadinya.


"Sayang," panggil Atlanta memeluk Leana dari belakang. Leana pun hanya diam.


"Sayang," panggil Atlanta lagi karena tak mendapatkan respon.


"Hem."


"Aku minta maaf."


"Iya," jawab Leana. Dia berusaha melepaskan pelukan Atlanta, tetapi tak bisa.

__ADS_1


Tak kalah. Atlanta menggigit daun telinga Leana. Dia kira Leana akan bereaksi. Namun, jawabnnya tetap sama tidak terusik sedikit pun. Kini bumil tersebut hanya fokus ke ponselnya.


Atlanta pun harus sabar dan telate untuk mengambalikan mood bumil itu seperti sebelumnya.


__ADS_2