
Di koridor rumah sakit. Altar dan Atlanta bertemu dengan membawa para istri masing-masing.
"Halo Cha," sapa Leana pada bocah yang di gendong Altar.
"Unty Ea," seru Fisha tersenyum. Dia ingin ke gendongan Leana, Leana pun mengambilnya.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Aisha.
"Lagi periksa kandungan," jawab Atlanta.
"Leana hamil?" tanya Aisha. Membuat Atlanta maupun Leana menganggukan kepalanya.
"Alhamdulillah, sehat-sehat iya bumil." Aisha mengusap perut Leana yang masih rata. "Sini, sayang. Aunty Lea hamil jadi Fisha enggak boleh digendong." Aisha mengambil ahli putrinya dari gendongan Leana.
"Yaudah, kami pergi dulu, iya kak. Soalnya buru-buru gue mau ke kantor," ucap Atlanta.
"Unty Ea," panggil Fisha menangis melihat Leana pergi membuat Leana tak tega.
"Kau pergilah, Ta. Biar Lea sama kami, Leana juga pasti sendirian di rumah? Di rumah aja dulu, nanti pas lo udah pulang baru jemput Leana," ucap Altar.
Atlanta diam sesaat. Dia menatap istrinya, Leana menganggukan kepalanya, Atlanta pun berdehem. Dia mendekati istrinya lalu mengecup keningnya.
"Ya udah, mas pergi dulu, iya. Kalau kamu ingin meminta sesuatu telfon mas aja. Mas akan datang," pinta Atlanta.
"Iya mas." Leana mencium punggung tangan Atlanta. Lalu melambaikan tangannya kepada sang suami yang sudah pergi dari sana.
"Ayo Leana," ajak Aisha membuat Leana ikut di belakang mereka.
Sesampainya Altar mengantar pulang sang istri, dia pun pamit untuk ke kantor. Sebelum pergi pasti sang anak pintai di cium dulu.
"Apah pergi, iya." Altar mencium pipi putrinya dan juga kening sang istri.
"Kakak pergi, iya." Aisha menganggukan kepalanya.
Setelah kepergian Altar, Aisha menyuruh adik iparnya untuk masuk ke dalam rumah. Leana bermain dengan Fisha, Aisha sudah memperingati kepada putrinya supaya tidaj begitu aktif supaya Leana tidak kecapean menghadapinya.
"Lea kakak tinggal sebentar, iya. Mau bikin cemilan," ucap Aisha membuat Leana menganggukan kepalanya.
Leana melihat Fisha tertawa membuatnya tersenyum. Dia lagi membayangkan jika dia mempunyai anak nanti akan sebahagia apa.
__ADS_1
Sudah jelas nanti dia semakin di sayangi oleh suaminya. Belum punya anak aja kasih sayang Atlanta sudah melampaui batas. Bagaimana jika sudah mempunyai buah hati? Mungkin laki-laki itu akan menyewa beberapa babysister untuk menjaga buah hati, atau dirinyalah yang pindah bekerja di rumah.
"Anti ada ade cini?" tanya Fisha menunjuk perut rata Leana membuat Leana terkekeh lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Anti ada eman main Icha?" tanya Fisha lagi.
"Iya, sayang. Nanti Fisha mempunyai teman main," jawab Leana. "Fisha mau adik cowok atau cewek?" tanya Leana.
"alo owo itu imana unty?" tanya Fisha.
Di sini Leana yang salah. Kenapa dia harus memberitahu pertanyaan kaya gitu kepada gadis kecil tersebut? Orang belum tahu apa itu cowok dan cewek.
"Enggak apa-apa, sayang." Leana mendudukan Fisha dipangkuannya lalu mengikat rambut panjangnya.
Fisha mendongak ke atas lalu tersenyum membuat Leana terkekeh dan langsung menciumnya.
"Icha udah makan?" tanya Leana.
"Beyum, unty. Anti ita akan cama-cama kata umi," jawab gadis kecil tersebut.
"Hahaha, iya sayang."
"Semoga keluarga mereka sudah tak ada gangguan apapun lagi. Jauhan masalah dalam keluarga mereka, kalau masalah hal sepele tak masalah karena memang banyak suami istri yang kadang bertengkar, tapi kalau tentang berpisah semoga saja tidak. Aku sudah pernah merasakannya dan itu benar-benar menyiksa."
Aisha memanggil mereka untuk makan. Awalnya Leana menolak. Namun, merasa dia jadi selera dengan masakan kakak iparnya, akhirnya ikut bergabung. Bumil tersebut tidak terlalu canggung jika tak ada Altar.
"Makan yang banyak bumil. Biar bayinya sehat, ini makanan sehat kok. Dulu mama selalu masakin ini biar kandunganku sehat," ucap Aisha tersenyum.
"Iya, kak."
"Lea," panggil Aisha.
"Kenapa, kak?" tanya Leana.
Aisha menyenggam tangan adik iparnya. Lalu tersenyum, dia ingin memberitahukan sesuatu kepada wanita tersebut, sebagai sama-sama wanita.
"Atlanta tidak pernah melakukan kekerasan kepadamu, kan dek?" tanya Aisha.
Leana terdiam sesaat, lalu menggeleng. Menurutnya kesalahan Atlanta yang dahulu enggak usah diungkit.
__ADS_1
"Alhamdulillah, tidak pernah kak. Mas Atlan tidak pernah memberiku kekerasaan."
"Dek, kamu tahukan Atlanta itu keras kepala dan sering salah paham? Aku tahu karena suami kakak juga seperti itu, aku harap kamu bisa menyelesaikan masalah kalian nanti dengan kepala yang dingin. Jika kamu melihat Atlanta melakukan sesuatu, kamu bertanya baik-baik dulu. Jangan langsung marah-marah, karena pasti dia akan ikut marah jika tidak percayai. Jadi kamu harus mendnegarkan penjelasannya dahulu."
"Iya, kak. Kami pernah bertengkar, tapi untungnya Atlanta masih sabar untuk menjelaskannya kepadaku," ucap Leana.
"Jika terjadi sesuatu, kamu boleh bicara sama kakak jika kamu sungkan untuk berbicara dan memberitahu bunda Karen."
"Iya, kak." Leana tersenyum seraya kembali fokus menghabiskan makananya.
༼ つ ◕‿◕ ༽つ༼ つ ◕‿◕ ༽つ
Atlanta mendengus kesal, karena Davina terus mengikutinya kepada pun dia pergi.
"Davina, stop ikutin gue!" perintah Atlanta.
"Emang kenapa sih? Enggak usah pura-pura Atlanta, kamu masih mencintaiku kan?" tanya Davina.
"Sumpah Davina, selama kita berhubungan. Gue enggak pernah jatuh cinta sama lo walaupun sedikit pun. Gue cuma cintanya sama Leana, jadi stop terus katakan jika gue masih mencintai lo. Gue berhubungan sama lo hanya belas budi terhadap ayah lo yang pernah bantuin gue saat kecelakaan. Dan menurut gue balas budi gue sama lo sudah cukup. Lagian hubungan gue dan Leana sudah membaik, jadi gue udah enggak butuh lo. Jadi sebaiknya lo stoo ganggu gue," jelas Atlanta dengan lantang.
Davina tertawa dia menarik tangan Atlanta, sehingga Atlanta kembali berhadapan dengannya. Davina mengusap wajahnya kasar.
"Bukannya dulu kamu udah janji, untuk bersamaku selamanya, Ta?" tanya Davina.
"Lo tahukan, di dunia ini enggak usah percaya yang namanya janji," ucap Atlanta. "Gue mengatakan itu hanya kata penenang, lo kira saat kita berhubungan gue enggak tahu sifat busuk lo? Lo selingkuh saat gue kuliah di luar negeri."
Davina langsung tediam di tempatnya mendengar ucapan Altanta barusan.
"Tapi gue biarin lo melakukan apapun, Dav. Karena prinsip gue, lo cuma bahan pemanas untuk gue. Gue memanfaatin lo buat balas dendam dengan Leana, tapi sekarang uda enggak. Gue udah tahu semuanya jadi gue lepasin lo."
Atlanta kembali berjalan untuk pergi dari sana. Bukannya berhenti untuk mengikutinya, Davina terus saja mengekor di belakang laki-laki tersebut. Entah apa maunya.
"Atlanta," panggil Davina. "Berhenti dulu, Atlanta. Aku mau memberitahukan sesuatu kepadamu."
Atlanta berhenti dan menoleh ke belakang dia menyuruh Davina berbicara.
"Apa yang kamu katakan ada benarnya. Aku memang selingkuh di saat kamu kuliah di luar negri. Bukan hanya satu laki, tapi banyak. Ta, tapi kamu tahu alasannya apa?" tanya Davina. "Alasannya ada di kamu sendiri, kamu susah dihibungi. Palingan kita berkomunikasi hanya beberapa jam, itu aja kamu tidak begith bersemangat. Tapi jujur Ta, orang yang aku temani beehubungan badan hanya kamu. Hanya kamu yang menyentuhku, Ta."
"Udahlah, gue juga udah peduli tentang hal itu." Atlanta kembali berjalan, tapi ucapan Davina sekita membuatnya kembali berhenti.
__ADS_1
"Jika aku mengatakan, aku mengandung anakmu bagaimana. Ta?" tanya Davina.