
Mereka langsung mendekati beberapa suster dan dokter yang mendorong brankar tersebut.
"Cila, kak," ucap Aisha.
"Cila?"
Beberapa saat kemudian, keluarlah Atlanta dan Leana dalam ruangan dengan Atlanta yang menggendong bundanya.
"Atlan, ada apa ini?"tanya Altar. "Cila mau di bawa kemana?" tanya Atlanta.
Atlanta tak mampu berkata-kata, dia hanya geleng-geleng. Dengan mata yang memerah menahan air mata.
"Cila meninggal, Tar," jawab Atlanta berlari membawa bundanya ke ruang UGD, sedangkan Leana mengikuti orang-orang yang membawa Cila.
Aisha dan Altar ngeblak dahulu, mereka saling memandang satu sama lain. Altar memberikan Fisha ke gendongan Aisha.
"Jangan bawa Fisha masuk, biar kakak aja!" peringat Altar berlari dari sana.
"Innalilahi wainnailaihi rojium," ucap Aisha. "Astaga Cila." Aisha duduk di kursi. Dia tidak menyangka bahwa Cila akan pergi secepat ini.
Tepat pukul jam satu siang, jenasah Cila di makamkan, bunda Karen terus menangis di pelukan kakak iparnya yaitu Marwa. Sedangkan Atlanta di tenangkan oleh Altar, karena laki-laki itu mengamuk ingin mencari orang yang menabrak lari adiknya.
__ADS_1
"Tenang dulu Atlan, kita belum tahu siapa pelakunya. Ciri-ciri orangnya pun kita tak tahu!" ucap Altar memeluk adik sepupunya itu.
"Pasti ada, Tar. Cila di tabrak dekat halte bus. Pasti di sana ana kamera Cctv," balas Atlanta.
Altar menghela napas panjang, dia menuntut adiknya duduk di sofa. Atlanta memang tidak ikut ke pemakaman, alasan tak sanggup melihat adiknya di kuburkan.
"Ok kita bakal cari, tapi saat ini jangan dulu. Kita sedang berduka," bujuk Altar.
Seorang wanita datang mendekati mereka, dan wanita itu adalah Leana yang sudah membersihkan diri dari tadi.
"Aku tahu nomor plat mobil yang menabrak Cila," sahut Leana membuat mereka berdua menoleh.
Atlanta yang mendengar ucapan mantan kekasihnya itu, langsung saja berdiri dan menghampiri Leana.
"Tenangi diri kamu dulu, Atlanta," pinta Leana.
"Sialan, sebut aja tinggal sebut," teriak Atlanta meremas bahu Leana membuat gadis itu meringis kesakitan.
Altar langsung berdiri dan menghentikan Atlanta yang melakukan kekerasan terhadap Leana.
"Atlanta," tegus Altar menarik Atlanta sehingga pegangannya terlepas dari bahu Leana.
__ADS_1
"Kontrol diri lo!" perintah Altar.
Atlanta langsung duduk di sofa, berusaha menenangkan dirinya. Leana hanya menunduk.
"Maaf," ucap Altar mengwakili adik sepupunya.
"Iya, enggak apa-apa, kak. Aku akan menyebutkan plat mobilnya," balas Leana.
Leana pun langsung menyebut nama plat mobil yang menabrak Cila. Setelah mengatakan itu, Atlanta langsung berlari untuk menuju kepolisian.
"Atlan, kamu mau kemana?" tanya bundanya saat pulang makam Cila.
Atlant tidak menjawan pertanyaan bundanya, dia berlari menaiki motornya dan melajukannya dengan kencang pergi dari sana.
"Leana Atlan mau kemana, nak?" tanya bunda Karen.
"Mau ke kantor polisi, bunda. Untuk mencari pelaku tabrakan Cila," jawab Leana.
Bunda Karen menghela napas lalu menganggukan kepalanya saja. Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah. Bunda Karen kembali merasakan sesak.
Cila biasa berlarian memeluknya saat dirinya pulang, canda tawa putrinya membuat hatinya kembali sakit. Dan pada akhirnya kembali menangis.
__ADS_1
"Cila kenapa kamu mendualuang bunda, sayang? Seharusnya bunda lebih pergi dari pada kamu, kenapa malah kamu yang pergi lebih dulu?"
Aisha mengusap punggung wanita tersebut. "Allah lebih sayang Cila, bunda. Ikhlaskan iya, biarkan Cila tenang di sana."