
Gea sudah berada di ruang rawat darurat.
Altar menatap ke arah Aisha dan mencengkram dengan kuat pergelangan istrinya. Aisha yang takut hanya diam.
"Ka-k, Gea jatuh sendiri bukan Ais yang mendorongnya ataupun melepaskan tangannya, dia sendiri yang melepaskan tangan ku," jelas Aisha pada suaminya yang terus menariknya entah kemana. "Aw, ini sakit kak Altar, kumohon lepasin kak, kita bisa bicara baik-baik. Bukan Ais yang melakukannya."
Altar melepaskan tangan Aisha. "Kakak lihat dengan kepala dan mata kakak sendiri, kamu yang melepaskan tangannya sehingga dia terjatuh!" tegas Altar.
Aisha menggeleng. "Kakak salah paham, bukan aku yang melakukannya kak Altar, kapan kakak mempercayai ku!" Aisba ikutan tegas tak ingin di salahkan.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Aisha yang tertutup cadar. Wanita itu menghadap ke samping sambil memegang pipi yang baru saja di tampar oleh suaminya sendiri. Dari sudut mata sudah mulai menetes.
"Kau yang melakukannya Aisha!" tuduh Altar mencengkram kembali bahu Aisha. "Kau tak suka kepadanya, kau cemburu kalau kakak dekat dengannya makanya kamu melakukan ini!"
Aisha menggeleng. "Bukan Ais yang melakukannya kak Altar!"
"Aisha, jujur sama kakak." Nada Altar kali ini dengar lembut dari indra pendengaraannya.
Aisha kembali menggeleng. "Tapi benar kak Altar, bukan Ais yang melakukannya."
__ADS_1
"Sejak kapan kamu ingin bohongi kakak? Kakak melihatnya!"
Aisha menepis tangan Altar dari bahunya dengan kuat. "Kalau kakak melihatnya kenapa kakak minta perbuktian kepada Ais? Bukan kah kakak sudah melihat dengan jelas kalau Ais yang mendorongnya! Kakak menampar ku hanya aku tak ingin mengungkapkannya. Jadi benar aku melakukannya bajingan!" Kalimat terakhir Aisha dia tinggikan.
"Kenapa lo lakuin ini?"
"Karena aku tak suka dengannya! Apa Anda puas?"
"Kalimat apa yang kamu lontarankan itu pada kakak? Aku suami mu Aisha!" ngegas Altar.
"Aku tak ingin mempunyai suami yang tidak pernah mempercayai ku!" tegas Aisha. "Kakak memang mencintai Aisha, tapi apa gunanya ada cinta dan hubungan kalau tak ada kepercayaan?"
Setelah mengucapkan itu, Aisha pergi dari sana meninggalkan Altar yang diam membeku.
Altar mengacak rambutnya furstasi, dia duduk di kursi yang ada di halaman rumah sakit.
"Kenapa," teriak Altar. "Aku mencinta mu Aisha, tapi kenapa kamu seperti ini sialan. aku percaya sama mu, tapi kakak lihat dengan jelas kamu melepaskan tangan Gea," gumam Altar memukul kepalanya dengan keras.
Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya. "Tar, kejar dia, gue tau saat ini lo bimbang," saran seseorang itu yang tak lain adalah Atlanta.
Altar melirik sekilas. "Biarin dia pergi, dia selalu saja seperti itu!" ketus Altar menatap ke atas menghirup udara dengan rakus.
__ADS_1
"Lo tolol? Dia sedang sakit hati karena bentakan lo dari rumah sampai di rumah sakit. Bahkan gue lihat lo menamparnya dengan sangat keras," tegas Atlanta pada sepupunya." Sorry gue gak sengaja menguping pembicaraan kalian."
"Gak usah sok nasehatin gue!"
"Gue gak sok nasehatin lo, tapi istri lo saat ini sedang kala kabut. Lo yakin dia yang melakukannya?"
"Siapa tau lo cuman lihat separu dari permasalahan mereka berdua! Lo selalu saja mengambil kesimpulan dengan cepat, set*n." Atlanta sangat greget dengan sepupunya itu.
"Kejar dia, si*lan." Atlanta meninju dengan kuat hidung mancung milik Altar.
"Baj1ngan," ngegas Altar menandang bagian tengah paha Atlanta, lalu berlari pergi meninggalkannya sendiri.
Atlanta meringis memegang bagian tengah pahanya. "Aduh hilang masa depan istri gue nanti, gara-gara si tukang drama."
"Pak, kok pada rame ada apa ya?" tanya Altar di saat ingin mencari Aisha dan tak sengaja melihat keramaian luar rumah sakit.
"Ini dek, ada tabrakan tunggal. Katanya sih gadis bercadar yang ingin menyembrang jalan namun ada sesuatu yang terjatuh dan dia berhenti tepat di tengah jalan untuk mengambilnya, terus ada mobil melaju dengan sangat kencan dari arah barat menabraknya," jelas bapak-bapak.
...💗💗💗💗💗...
ig : _adeliaskyl
__ADS_1