
Mereka memang tidak berubah, sudah tua tapi sikap absurd mereka belum hilang sampai sekarang. Yang paling tersiksa itu Harumi, istri Vier. Bagaimana tidak? Dia akan pusing mengurus suami seperti Vier yang pencicilan.
"Aduh anak gue genteng bett," puji Vier mencium pipi anaknya dengan gemass, sehingga bocah balita itu menangis.
"Astaga mas, kamu gak tahu gimana susahnya buat dia berhenti menangis!" imbuh Harumi kesal dengan suaminya, baru saja dia mendiamkan baby Kai di buat nangis lagi.
"Awas saat anak lo besar takut sama lo. Gimana gak? Lo udah buat dia trauma sejak dini," celetuk Evan.
"Bodoh anak gue bakal mengikuti sikap gue," ucap Vier.
"Kalau gitu gue mau mutusin hari ini juga perjodohan anak kita, jika Kai mengikut sikap lo, karena sikap lo udah subuhana," sahut Altar.
"We sikap gue nih udah maksimal masuk ketegori laki-laki idaman," protes Vier. " Iyakan, sayang?" tanya Vier kepada baby Kai yang berada dipangkuan bundanya.
"Endak," jawab balita itu membuat mereka semua tertawa mendengarnya.
"Ini baru keponakan gue," puji Evan memgambil baby Kai.
Ajaibnya bayi itu malah enteng di gendongan Evan, beda saat ayahnya yang menggendongnya akan menangis kejar. Mungkin baby Kai masih berpikir jika Evan waras dikit tak sepertinya ayahnya.
__ADS_1
"He bocil, gue bapak lo bukan dia. Bisa-bisanya lo mau sama dia, yang mukanya mirip standar motor Atlanta yang tidak di cuci bertahun-tahun," omel Vier.
Atlanta yang mendengar namanya masuk-masuk lantas tak terima.
"Woi gue dari tadi diam-diam, iya! Lo juga harus tahu kalau standar motor gue goodloking seperti Fisha."
Brak!
Suara nyaring itu membuat mereka yang berada di ruang keluarga langsung berdiri lalu menghampiri asal suara tersebut.
"Astaga pot bungaku," teriak Aisha hesteris melihat pot bunga tersayangnya jatuh dan pecah diperbuat oleh kedua teman suaminya yang lain.
Sebab mereka di kejar anjing tetangga, dengan panik mereka tidak sengaja menabrak pot bunga Aisha.
"Maaf bu ketua, ampun sepuh," ucap keduanya merentangkan kedua tangannya ke atas.
Aisha menatap tajam kedua laki-laki tersebut. Entahlah setiap kali mereka berkunjung pasti ada aja kelakuannya yang membuat umi Fisha itu naik pitam di buat mereka.
Karena telah memecahkan pot bunga mahal, Kendra dan Cakra mendapatkan hukuman special. Hukumannya mereka berdua harus menyatuhkan pot bunga itu seperti semula.
__ADS_1
"Kiw-kiw," ucap Evan.
"Cukurukuk," tambah Vier.
"Ompejeru," sambung Atlanta.
Mereka bertiga sedang mengejek Kendra dan Cakra yang sedang berusaha menyatuhkan kembali pot bunga itu.
"Kasihan deh lo," ejek mereka bertiga tertawa keras atas penderitaan mereka berdua.
Altar menggendong putri kecilnya, gadis balita itu sangat pendiam sekali. Fisha selalu bersembunyi jika salah satu teman apahnya menyapanya. Entahlah apa maksud gadis cantik tersebut.
"Apah, cian cali," ucap Fisha. Ucapan bocah itu hanya Altar dan Aisha yang paham. Keduanya pun biasa kadang mengerti dengan ucapan Fisha yang cadel.
"Iyakan, mereka rusakin pot bunga umi makanya di hukum," balas Altar.
"Mayal tuh?" tanya Fisha lagi.
Altar kali ini hanya berdehem, karena sudah tak tahu apa yang anaknya ucapkan.
__ADS_1