Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 79•


__ADS_3

Setelah kepulangan dari Mushola, Aisha kembali melihat suaminya bersama dengan Gea. Kali ini Aisha tidak menyapa namun langsung menaiki anak tangga, meninggalkan mereka.


Altar yang melihat Aisha, ikut beranjak mengikutinya ke kamar.


Sesampainya di kamar Altar mengunci pintu.


"Sha," panggil Altar dan hanya mendapatkan deheman.


"Udah, dapat keputusan?" tanya Aisha menggantung kembali mukenanya ke dalam lemari.


"Boleh, kakak minta sebentar, kamu duduk di sini?" tanya Altar.


Aisha menghela nafas lalu duduk di samping suaminya.


Altar merai tangan Aisha, Aisha yang ingin memundurkan tangannya namun saat melihat wajah suaminya dia jadi tak tega.


"Kamu hamil?" tanya Altar, di angguki oleh Aisha.


Altar tersenyum. "Makasih sayang," ujar Altar.


Aisha kembali mengangguk.

__ADS_1


"Kakak minta maaf, karena sudah membentak mu tadi," rilih Altar.


Aisha melepaskan genggam tangannya. "Gak usah mengalihkan pembicaraan, di sini aku cuman menanyakan keputusan kakak!"


Altar sedikit terdiam, dia harus menjawab apa?


"Dia hanya sementara di sini sayang, gak selamanya!" balas Altar.


Aisha mengangguk. "Jadi keputusan kakak memilihnya? Kakak membiarkan ku pergi? Ok." Aisha yang ingin beranjak namun di tahan oleh Altar.


Lelaki itu menggeleng. "Kakak tidak mau kehilangan kalian. Apa kamu tidak memberi kakak sekali ini aja, biarkan dia tinggal di sini?"


"Di rumah Mama, kamu dan dia juga bisa bertemu, Ais gak melarang kalian untuk bertemu asalkan kalian tidak terlalu dekat, apa kakak tau? Kalau Gea bukan termasuk mahram kakak!" tekan Aisha. "Cukup kak Aisha capek, kalau hanya ingin meminta izin untuk dirinya tinggal di sini gak usah, karena rumah ini bukan lah rumah ku. Hanya saja kalau kakak membiarkannya tinggal di sini satu atap dengan ku, Ais lebih memilih balik ke rumah Ais."


"Kakak jahat, aku benci kakak," keluhnya sesengukan. "Kakak tidak pernah mengerti Ais, Ais tau kalau kakak belum mencintai Ais. Kakak cuman kasian pada Ais karena abi mempunyai panyakitkan? Hanya menepati janji? Gak usah kak Altar, Ais bisa jaga diri sendiri, Ais, gak butuh kasian atau kebohongan dari kakak," tekan gadis itu, membuat Altar merasa bersalah.


"Dari ma-na kamu tau, kalau Abi mempunyai penyakit?" tanya Altar.


"Apa kakak pikir, Ais begitu bodoh? Ais tau kalau mereka sedang ada di Australia!"


"Ok, tapi demi Allah kakak sangat meyayangi mu bukan sekedar kasian sayang!

__ADS_1


"Dia..." Tunjuk Altar ke perut Aisha. "bukti cinta ku ke kamu, jadi lantas apa lagi yang harus kakak buktikan biar kamu percaya?"


Aisha menggeleng. "Ais percaya sama kakak, Ais sayang sama kakak makanya aku takut kehilangan kakak, jadi Ais mohon biarkan Gea tinggal di rumah mama," pinta Aisha.


Altar mengangguk. "Ok, kakak akan mengikuti keinginan princess kakak," balas Altar, tersenyum sambil membelai rambut istrinya. "Udah nangisnya, kakak gak suka lihat kamu nangis, kamu harus kuat biar simba juga kuat di dalam. "Altar berusaha menenangkan istrinya sambil mengelus perut rata milik sang istri.


Aisha melingkarkan tangannya di leher sang suami sedangkan kakinya dia lingkarkan di pinggang.


"Janji ya, jangan kasarin Ais lagi, Ais takut," ujarnya.


Altar berdehem. "Maafin kakak," kata Altar.


Aisha mengangguk. "Kali ini Ais maafin kakak, tapi tolong percaya sama Ais, Ais gak pernah menghianati kakak."


"Maafin kakak sekali lagi, menaro curiga dan menunduh mu berselingkuh." Hanya kata maaf yang bisa ia katakan pada sang istri, atas ke salahannya.


"Kalau gitu, kita periksa ke dokter memastikan kehamilan kamu, sekalian bertanya larangan dan perintah yang harus di lakukan oleh orang hamil," jelas Altar.


"Aisha mau tidur, Ais capek kak Altar," keluh Aisha, mensandarkan kepalanya di pundak sang suami, Aisha menghirum bau khas tubuh suaminya.


"Tidurlah, kayanya kamu nangis mulu dari tadi, maafin kakak." Lagi dan lagi lelaki itu meminta maaf.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2