
Cakra mengacak rambutnya furstasi. "Kenapa harus gue sih jadi sasarannya?" tanya Cakra memalas.
"Ini mah hukuman, siapa suruh gak memberi tau kita kalau orangnya adalah Ilona!" timpal Altar.
"Vier aja, deh Vier," pinta Cakra pada Vier.
"Apa-apaan lo? Gue lihat muka si ulet bulu aja mau muntah." Vier yang di sebut namanya langsung aja protes
"Lo juga sayang tuh ya sama Ilona, jadi gak masalah!" sahut Kendra.
"Kapan gue bilang sayang ke dia?" tanya Cakra.
"Lah, udah terbukti kok! Pas mau camping lo panik banget tuh kehilangan Ilona," sela Evan.
"Udah ya! Gue minta tolong ke kalian untuk menyelesaikan masalah ini, gue hari ini mau ke jogja," sahut Altar.
Mereka berempat kompak menoleh ke arah Altar.
"ada urusan apa lo ke jogja?" tanya Cakra.
Altar menghela nafas dalam-dalam. "Orang tua Aisha dan bang Rigel gak ada yang bisa di hubungi, jadi gue memutuskan untuk ke sana mencari tau apa yang terjadi, gue gak mau Aisha ke pikiran yang gak-gak!" jelas Altar.
"Emang lo udah tau di mana mereka? Mau gue bantu ngelacaknya?" tanya Cakra, memberi masukan.
"Gak usah Cak, kalian cukup selesaikan masalah ini," tolak Altar.
Cakra dan ketiga temannya yang lain hanya mengangguk.
__ADS_1
"Tapi lo jaga diri di sana," ujar Evan menepuk pundak sahabatnya.
Altar hanya tersenyum. "Do'in aja semoga gue dapat kabar yang baik," ucap Altar.
Di angguki oleh keempat temannya.
************
Altar menghela nafas, ia telah sampai di lokasi pernerbangan.
Di antar oleh kedua orangnya dan istrinya.
"Kamu baik-baik di sini ya! Jangan lupa makan empat kali sehari!" peringat Altar pada istrinya. "Kakak akan secepatnya memberi kabar sama kamu, tentang mereka," lanjut Altar.
Aisha tersenyum lalu mengangguk. "Hati-hati ya kak Altar, di sana kakak jangan lupa makan juga!"
Aisha mencium punggung tangan suaminya.
Hanya seminggu namun terasa berat bagi kedua pasangan sejoly satu ini untuk berpisah.
"Mah, jagain Aisha," pinta Altar pada mamanya, dan di angguki oleh sang mama.
Altar melambaikan tangannya saat ingin memasuki jet pribadi sang papa.
Aisha menarik nafas lalu membuangnya, dia menoleh ke arah mertuanya dan tersenyum.
"Ayo sayang kita pulang, kamu gak usah khawatir ok!"ujar Marwa, memegang pundak sang menantu.
__ADS_1
Aisha hanya mengangguk, sangat canggung di posisi Aisha saat ini.
Di dalam mobil, Aisha hanya menatap keluar jendela.
Marwa dan Kana yang melihatnya saling menatap.
Kana mengode pada sang istri untuk mengajak menantunya bicara.
Marwa yang paham kode itupun, hanya mengangguk.
"Ais, sebentar lagi kamu udah mau lulus, kamu ingin lanjut kuliah sayang?" tanya Marwa basa-basi.
Aisha menoleh ke arah ibu mertuanya lalu menggeleng. "Ais gak pengen lanjut, Ais mau fokus dengan kehidupan Ais sebagai istri kak Altar," jawab Aisha.
Marwa tersenyun. "Maaf ya pendidikan mu harus berantakan, karena perjodohan dini ini."
Aisha menggeleng. "Kalian gak perlu merasa bersalah, mungkin ini udah takdir yang maha kuasa untuk Ais maupun kak Altar," jelas Aisha. "Lagi pula Ais bahagia kok! Kak Altar memperlakukan Aisha dengan sangat baik, layaknya seorang istri," lanjut Aisha.
"Papah ingin berterima kasih sama kamu nak, kalau bukan karena mu, mungkin papah maupun mamah menyerah, tak tau cara gimana lagi untuk merubah sikap Altar yang berandalan, tak penurut dan keras kepala," sahut Kana.
Aisha tersenyum lalu mengangguk. "Mungkin Ais sudah di takdirkan untuk kak Altar pah. Allah mempertemukan anak kalian dengan Ais, supaya Ais bisa merubahnya lebih baik lagi," kata Aisha.
Marwa mengangguk terharu, lalu memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang.
Marwa dan Kana benar-benar merasa beruntung mempunyai menantu seperti Aisha, tidak sia-sia perjuangan mereka membujuk sang anak dengan keras.
Jodoh adalah cerminan diri kita sendiri? Lebih tepatnya jodoh adalah tempat di mana kita saling melengkapi kekurangan.
__ADS_1
...----------------...