Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Bukan ayahku


__ADS_3

Erik tak berpengaruh teta menariknya. Setelah beberapa detik tanganya yang dihempas kasar seseorang yang Cleo sembunyi dan tarik. Ia mendongak menatap sang empu tajam. Namun Fardan menatapnya tersenyum miring.


” Anjing haram jangan asal pegang. Nanti najisnya susah hilang, masa kami harus mandi tanah kan, kan tidak lucu????”


Erik diam menatap Fardan yang menahan Cleo dibelakangnya, melindungi anak bungsu miliknya. Ia melirik Cleo sebentar yang dibalas dengan lidahnya yang memelet menggejek. Ia kembali menatap Fardan.”Siapa kau?”Tanyanya tak suka,


Fardan mengerjab pelan menatap Erik.”Justru aku yang harus bertanya, siapa kau yang sudah menganggu anakku?”Tanyanya Fardan mengejek. Jadi ini sosok ayah asli Cleo?


Erik mendengarnya mengepalkan tangannya tak suka.”Anak mu??? Aku tidak salah mendengarnya?” Tanya Erik ikut mengejek.


Fardan mengepalkan tangannya melirikk Cleo.” Iya lah anak bapak Fardan bin Burik, emang anak siapa lagi? anak situ? cihhh najis, nggak sudi gue. nggak sudi, mending nggak punya bapak sekalian..” Ujar Cleo ketus dan mengejek.


Cleo mengibaskan rambitnya kesamping sombong. Fardan mendengarnya merekahkan bibirnya membentuk senyum yang mengerikan namun beda dengan dadanya yang terasa banyak bunga-bunga yang berkembang.


Erik mendengarnya menatap Cleo tajam.”Kamu---“ Ia kehilangan kata-kata.


“Jadi udah denger kan dia anak siapa? jadi tidak usah ganggu Putri saya lagi.!” Tegas Fardan mnendorong bahu Erik yang hendak maju mendekati Cleo.


Tentu saja Erik menghempas tangannya cepat, ia menatap Fardan tak senang.” Dia anakku, dia hakku. Dan kau bukan siapa-siapanya dia. Jadi tidak usah ikut campur..!!!!” Tegasnya .


Fardan mundur menghindar air yang bercucuran keluar dari mulutnya Erik. Ia mengusab wajahnya dan tersneyum miring “ Tidak usah sok memiliki hak, kau saja tidak memenuhi kewajibanmu sebagai ayah. Jadi yang kamu katakana adalah hal yang paling menjijikan. “ Ujarnya mendesis.


Ia mengangkat tubuh Cleo dengan satu tangannya. Cleo dengan cepat memeluk lehernya erat menatap Erik dalam, “Ayo sayang kita pergi. Tingalkan manusia minus otak ini.” Ia mencium pipi Cleo dihadapan Erik dan tersenyum miring meningalkan Erik. Ia puas melihat wajah pias itu.


Erik melihatnya mengepalkan tanganya, ia menghadang jalanya Fardann tanpa babibu hendak menyerang tetapi bodyguardnya Fardan sudah ada dibelakangnya menahan Erik.”Tunggu aku , aku akan habisi kau yang sudah mempengaruhi anakku. Lihat saja..!!!!” Teriaknya Erik tak senang. Ia menghela nafas menatap yang menghadangnya,, hendak ia hajar tetapi memberontak saja tulangnya terasa sangat sakit. Ia tak pandai bela diri, itu fakta besarnya.


”Sial..!” Ia mengusap kepalanya cukup frustasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Caisar memijit pelipisnya menatap kedepan, kerjanaya sebagai ketua Osis sangat menumpuk, apalagi tugas kantor yang ia kelolah juga berat. Rasanya mau keluar dari osis tapi itu bukan dirinya yang lepas dari tanggung jawab.

__ADS_1


” Pangeran..”


Caisar berbalik menatap Disya uyang datang memeluknya dari belakang. “Sa masih disekolah jangan gitu nanti diliatin guru loh.”Ujar Caisar dengan lembut mengusap tangan Disya. Dsya mencebikkan bibirnya dan duduk dismapingnya Caisar menaruh makanan diatas meja.


“ Makan dulu sana, nanti aja bikin ini lagi. kamu pasti capek kan.”Ujarnya enggan menjauh masih dekat dengan Caisar malah menaruh kepalanya dibahu Caisar yang focus dari lapop. Ia menatap laptop tajam.


Bisa-bisanya laptop lebih menarik dibanding dirinya yang sudah jelas manusia hidup dan juga cantik disini kan? Mengesalkan, rasanya Disya ingin menghancurkan laptop itu sekarang juga karena membutnya cemburu.


Caisar menolek membuat wajah keduanya hampir bersentuhan. Diisya menahan nafas melihat wajah Caisar sedekat ini membuat ia gugup.Caisar mengangguk tanpa mematikan laptopnya. Mengambil kotak nasi yang Disya bawah. Disya menjauhkan kepalanya menatap Caisar yang mengajaknya duduk dishofa ruang sana. Ini ruang osis.


“Kamu sudah makan?”Tanya Caisar. Disya mengangguk jujur,


”Tadi akau makan mie ayam mang ucuo, mau bawa juga buat kamu Cuma kamu pasti belum makan sama sekali takutnya kamu kena magh.”Ujarnya dengan polos.


caisar tersenyum membuka kotak nasi, ia menatap ada nasi yang ukurannya banyak, ayam goreng beberapa potong, ada capcai udang dengan sayur buncis dan brokoli, ada juga telur dadar yang digulung.”Terimakasih Sasa.”Ujarnya. disya disana mengangguk dan tersenyum malu-malu.


Caisar mulai makan makanan yang Disya bawa, ia memang belum makan sedari kemarin sore katena terlalu sibuk. Ini sangat enak emsi tau bukan masakan Disya, ia tak menuntut apapun hal itu. disya menatap laptop Caisar yang masih menyalah.”Kamu buat apa?”Tanyanya.


”Ini.”


Disya menunjuk berkas yang menumpuk dimeja terlihat sangat banyak,. Ia meneguk luda kasar dibuatnya.


“Itu arsip laporan tahun belakangan buat mempertahankan akreditasis sekolah, terus untuk bawa sekolah kita kedalam akreditas dunia. Kan sekolah kita udah go internasional tu jadi banyak yang harus disiapkan untuk permintahan orang atas.”Ujarnya Caisar sembari makan mengunyah.


Diyda mendesis tak suka. " Guru memberikan kamu pekerjaan sebanyak ini? Kamu mau aku pecat semua guru disini tidak?" Tanya Disya kesal melihat Caisar kecapean.


Caisar mendengar nya diam menatap Disya. Tidak lupa jika Disya adalah anak pemilik sekolah ini dan bersikap semena-mena. " Sa ini memang tugas aku." Gumamnya.


" Tapi aku nggak mau kamu kecapeaan pangeran...Waktu kamu jadi habis buat ini... menyebalkan " Rengek Disya memeluk Caisar dari samping.


Caisar menggeleng " Ini langka awal menuntut ilmu Dis. udah jadi tanggung jawab aku sebagai ketua Osis, jangan begini..." Gumam Caisar pelan.

__ADS_1


Dsya mengangguk lagi meski malas. “Kalo aku bantu kamu mau?”Tanya Disya.


Caisar yang makan berhenti mengunyah dan menoleh. Ia mengerjab menatap Disya yang menatapnya polos. Disya itu tidak suka ribet, dia suka bebas mau membantunya? Bantu apa coba.?


Maaf nih bukannya merendahkan, bahkan Caisar yakin nanti Disya bukannya membantuh malah merepotkan nya yng harus mengajar ini dan itu.


Caisar tersenyum tipis mengarahkan sendok makannya kemulut Disya. Disya menggeleng tidak mau tapi Caisar masih kekeh membuat Disya memakannya. Caisar mengusap kepalanya dan berkata.”Kamu sudah banyak membantu aku, tidak usah.. aku tidak mau kamu kelelahan.”Ujarnya..


Disya disana diam dan tersenyum malu diperlakukan begitu. Caisar makan lalu menyuapi Disya lagi. Disya tidak menolak sebab dia tadi hanya basa basi saja. Dia juga tidak paham apapun masalah sekolah, file, atau akreditasi lah.


Caisar mengambil minum dari galon diruangannya. Disya mengerjab menatap Caisar Bangkit.”Yaampun aku lupa nggak bawa minum Pangeran. Untung aja kita nggak tersedak.”Gumamnya masih didengar Caisar.


Caisar terkekeh kembali dengan membawa minum dalam botol minum miliknya.”Tauk ih. Kasih bekal setengah-setengah haha. “Ujarnya.


Disay tertawa lepas.”Yah gimana yah lupa.” Ujarnya. Ciasar menuil hidung Disya.


”Belom tua juga. Tapi sama aku nggak lupa kan?”Tanyanya.


“Mana bisa lupa kalo sama kamu.”Ceplos Disya pelan. lalu menutup bibira ingat ia keceplosan.


Caisar tergelak dibuatnya


Bolehkah Caisar bersyukur? Disya adalah malaikatnya, dia menyukai Disya dengan apapun yang Disya punya. Cinta atau tidak itu ia tidak tau tapi yang pasti sampai kapanpun ia tidak akan meninggalkan Disya, sebab ia tau tidak akan ada yang lebih tulis dibandingkan Disya. Bahkan orang tuanya sendiri...!


.


.


.


.

__ADS_1


Hayyy i'm come back... Jangan lupa tinggalkan jejak ya!


__ADS_2