
Andrian diam mendengar semuanya seksama. Caisar mengusap pelan meja di depannya.” Mereka hanya trauma kehilangan anaknya yang lain, sedangkan dia hanya punya kamu dna tidak memiliki siapapun lagi. karena itu mereka tidak ingin kamu kenapa napa, Karena itu mereka tidak mau kamu dalam bahaya.” Jelas Caisar lagi dengan pelan nadanya kali ini. Bagi Caisar tidak ada yang salah di keduanya. orang tua Andrian hanya melakukan hal yang ia rasa benar.
“ saya tau tapi itu berlebihan.” Jelas Andrian tegas.
Caisar menggeleng menatap Andrian dengan kerutan di dahinya.” Mereka nggak berlebihan, setiap orang tua punya insting tersendiri untuk melindungi anak anaknya andrian, setiap orang tua punya cara tersendiri untuk membuat anaknya aman mau kamu nyaman atau tidak, yang terpenting kamu sehat, aman dan tidak ada yang membuat kamu jauh dan pergi dari mereka. Hanya itu.” jelas Caisar lagi. Caisar tau, dirinya memang belum pernah menjadi orang tua tapi ia tau bagaimana posisi menjadi orang tua
Menghidupkan keempat adiknya bermodal tulang belakang mengajarkannya arti kekhawatiran, arti takut kehilangan. Bahkan bisa dikatakan Caisar enggan membandingkan dirinya dengan Adrian.
Andrian hidup penuh dengan kesenangan, disekolahkan, pulang pergi di jemput. sedangkan dirinya? hahaha jangankan di jemputan, mereka bahkan di tinggal di pasar malam oleh kedua orang tuanya. Jangankan di jaga ketat, mereka bahkan menyarankan menjual adik adiknya orang tua biadap memang.
“ terus bagaimana dengan semua keinginan saya yang tepikan demi keingan mereka? Mereka yang meminta saya untuk sempurna?” Tanya Andrian tetap enggan mendengarkan argument Caisar yang terdengar malah mendukung ibu dan ayahnya.
Caisar tersenyum tipis.” Saya tidak tau disini salahnya dikamu atau di orang tua kamu, sebab diluar sana ada banyak anak yang ingin sekolah tapi orang tuanya tidak mampu, karena orang tua kamu itu bukan menuntut kamu menjadi sempurna, tapi menuntut kamu menjadi matang dalam menjalankan kehidupan berikutnya. Karena itu mereka menyiapkan pendidikan terbaik untuk kamu, dan lagi masalah jurusan, kan kamu sendiri sudah mengetahui jika kamu adalah Satu satunya pilihan untuk menjalankan bisnis keluarga kalian. Jika bukan kamu siapa lagi?” Tanya Caisar lagi tenang. Mencoba mengerti pada Andrian.
“ mungkin bisa saja di kendalikan oleh orang lain, tapi kita tidak tau kan seberapa sakit dan sulit orang tua bapak membangun dan membesarkan perusahaan ini, dan tiba tiba harus terhenti tidak dijalankan lagi. itu cukup membuat mereka sedih. Karena itu mereka harap bapak yang melanjutkanya dan akan menjadi turun temurun ke generasi berikutnya. Lagi pula tidak ada salahnya dalam bisnis bapak ini, menguntungkan dan kehidupan bapak terjamin. Pasti orang tua bapak hanya ingin di kedepan hari bapak bisa mengembangkan perusahaan mereka lebih besar lagi.,” jelas Caisar lagi pada Andrian.
“ tapi saya tidak butuh itu semua Kai. Saya punya cita cita saya sendiri, saya punya keingan saya sendiri. Tidak mau diatur begini dan begitu. Saya punya nyawa saya bukan mereka.” Tegas Andrian kepada caisar emosi.
Dipikirnya Caisar akan mendukungnya.
Caisar terdiam sejenak mendengarnya. “ Bapak bilang begitu karena bapak belum menjadi orang tua, dan bapak belum tau bagaimana rasanya jadi orang tua yang selalu mengkhawatirkan masa depan anaknya. “ jelas Caisar lagi dalam. Kali ini Andrian diam dan Caisar tersenyum,.” Saya tidak membenarkan orang tua bapak dan saya tidak menyalahkan bapak. Tetapi sebenarnya bapak itu bukan butuh kebebasan, tapi bapak butuh di dengarkan bukan???? Dan butuh diberi pengertian.” Jelas caisar lagi tenang. Andrian diam menatap Caisar nanar. benar ia bukan butuh kebebasan saja tapi butuh di dengar dan butuh diberi pengertian.
“ Kai kamu tidak akan tau bagaimana jadi saya.” Jelas Andrian dengan nanar kepada Caisar yang semakin membuat dirinya berduka akan hatinya sendiri.
__ADS_1
Caisar terlalu peka dan terlalu bisa membaca isi hati dna pikirannya. Caisra tersenyum tipis.” Yah saya tidak akan tau. Jalan hidup bapak terlalu egois dan saya terlalu memaksakan diri untuk menerima keadaan, karenanya pikiran kita berbeda.” Jelas caiosar pelan. Caisar dipaksa menerima keadaan karenanya pikirannya selalu mengambil hal positif bukan hal negatifnya. Semacam masalah andrian ini dari kaca mata caisar orang tua andrian terlampau menyayangi anaknya sehingga terkesna posesif, mengekang dan mengatur. Bukan merenggut kebebasan anak tapi akibat trauma dari kehilangan anak lain menjadikan sisi trauma itu mengulik dan hasrat Andrian selalu aman dan nyaman itu hadir. Orang tua andrian tidak salah dan andrian sendiri tidak salah. Yang salah adalah ketidak saling mengerti satu sama lain.
Sedangkan di balik pintu ayah dari Andrian terdiam mendengar ungkapan antara Caisar dan anaknya. ia melirik siluet Caisar tersenyum nanar. benar kata Caisar. Mereka bukan menekan kesempurnaan, tapi hanya menyiapkan kehidupan mendatang untuk anaknya di masa depan. ia hanya memberi bekal kehidupan anaknya di hari mendatang. Andrian hanya seorang diri, jika mereka meninggalkan Andrian, Andrian tidak akan bingung lagi sebab ada banyak ilmu yang bisa ia terapkan.
Ia menghela nafas dan segera menjauh dari sana. Hari ini ia tau jika selama ini ia keterlaluan kepada anaknya, tapi Caisar sebagai penguat dalam apa yang dirinya lakukan selama ini bukan seratus persen kesalahan, melainkan symbol rasa sayang., setiap orang tua punya cara tersendiri untuk menyayangi dan melindungi anak anaknya. iya itu benar.
...----------------...
Disya menghela nafas pelan memandang pesan ditangannya. Tersenyum miring sesaat karena memang ada hal yang membuat dirinya senang. Plak. Disya melirik bahunya yang ditepuk seseorang. Lalu menatap sang pelaku dengan alis terangkat. Ada Chio yang tersenyum lebar kepadanya.
” kamu enggak kekantin?” Tanya Chio dengan pelan,
Disya memandangi Chio dengan pandangan remeh. Segera menepis tangan di bahunya. Disya memandang ke lain arah enggan menjawab ucapan Chio padanya. Seakan akan tidak ada Chio di sana yang menyapa dan mengajaknya bicara,.
Chio sedikit tersenyum masam melihat tingkah Disya. “ Disya.. kamu tidak ke kantin?” tanyanya pelan lagi. mencoba bersabar.
Chio yang dijawab begitu agak tersentak kaget. Mencoba tetap sabar karena beberapa banyak menadang mereka dengan pandangan tanda Tanya.” Gue Cuma mau ngajak loe ke kantin kok. Gue lihat lihat selama sekolah disini loe nggak ada temen dan nggak pernah ke kantin.”’ Jelas Chio masih tetap ramah dan terlihat baik hati.
Disya menghela pelan mendengarnya, ia mau kekantin ngapain Caisar juga sudah menyiapkannya dirinya bekal, dan Disya menyukai bekal itu, bahkan Caisar menyiapkan dirinya dua liter minum air putih agar Disya tidak kekurangan cairan katanya.
Disya senang mendapatkan perhatian perhatian itu. karenanya Disya sangat jarang kekantin. Makan dan minum sudah tercukupi itu jauh lebih bagus. “ mau gue kekantin atau enggak itu bukan utusan loe. Mending loe jauh jauh deri gue. soalnya badan loe bauk matahari.” Jawab disya mengambil earphonenya hendak ia kenakan.
Tapi tangan nya tertahan oleh Chio., chio memandang Disya dengan tatapan tersinggung., ucapan disya sangak mengorek harga dirinya sebagai laki laki. Saat hendak bicara lagi suara pengumuman membuat dirinya bungkam dan disya mendengar pegumuman yang memanggil namanya.
__ADS_1
“ PERHATIAN PERHATIAN. ATAS NAMA DISYA KELAS SEBELAS MIPA 2 SILAKAN MENUJU RUANG BK SEKARANG JUGA.” Disya menghela nafas pelan dan Chio menatap Disya yang santai saja akan panggilan itu. disya membereskan semua barangnya dan mengambil minumnya.
” Loe ngak pergi?” Tanya Chio pelan. Disya berdehem tak menjawba. Karena sama sekali tidak di apik Chio memilih menghela nafas meredakan emosinya. Chio memilih pergi menjauh dari Disya. Disya sangat menguji keimanan miliknya yang tipis.
Disya melirik Chio yang menjauh datar.” Penjilat.” gumam Disya pelan baru berdiri menuju ruang BK. Tadi pertama kali bertemu Disya sudah merasakan aura negative dari dirinya Chio. Disya tau dirinya jahat tapi bukan berarti dirinya mau berteman dengan penjahat dan penjilat. Moto Disya lebih baik hidup sendiri dibanding hidup bersama orang orang yang berpeluang menyakiti dirinya. Luka Disya sudah sangat besar. Enggan menambah lebih besar lagi.
Langah kaki tenang Disya menuju ruang Bk disambut tatapan murid lain. Ini bukan pertama kali Disya masuk ruang BK. Sudah berkali kali dan ini pasti masalah kemarin saat dimana Disya sudah hampir mencelakai Hana sang primadona sekolah.
Hana dikenal bintang sekolah dikarenakan wajahnya yang benar benar cantik dan anggun. Belum lagi prestasi dan dirinya yang humble semakin membuat dirinya bersinar. Dari adik kelas hingga kakak kelas sangat mengenal siapa Hana. Sang sekretaris OSIS.
Ada banyak yang menstan caisar dan Hana karena berfikir jika keduanya itu lebih cocok ketimbang Disya dan Caisar. Tapi yah namanya hidup tidak harus sama seperti yang diharapkan bukan? Sama hal dengan disya dan Caisar yang tak di harapkan tapi di satukan.
Krrek. Disya membuka pintu pelan dan sudah di sambut dengan berbagai tatapan dari dalam. Salah satunya ada Hana yang kepalanya sudah diperban, sudut bibir kanan yang biru dan sudut mata kiri juga tergores. Ada lagi bagian pipinya terlihat merah lebam. Disya tersneyum puas melihat keadaannya yang cukup mengenaskan karena dirinya.
“ Disya silahkan masuk.” Tegas dari salah satu guru di salam. Disana ada beberapa guru lain selain guru BK., salah satunya guru kesiswaan, wali kelas Disya dan kepala sekolah, ada juga scurity yang mengawasi mereka munglkin agar tidak ada keributan.
Disya mendengarnya memasuki ruang itu tenang. Menuju kursi kosong yang ada di sofa dekat kepala sekolah duduk. Mata ayah dan bu Hana menggelap menatap Disya hadir. Dan Hana yang tersenyum miring melihat Disya yang pasti akan dimaki poleh ayah dna ibunya.
Kepala sekolah berdehem pelan melihat Disya yang terlihat tenang. Agak gugup karena disya ini salah satu siswa yang tidak bisa di senggol.” Disya... saya mendapatkan laporan dari ayah dan ibunya Hana, jika anaknya mendapatkan kekerasan fisik dari kamu. Kamu membullynya di saat jam sekolah. Apakah benar itu disya?” Tanya kepala sekola tegas. Kemarin mereka juga ada yang menyaksikan, tapi tidak ada yang berani mengambil langkah kepada Disya.
Sempat ada yang mmanggil Disya tapi berujung besoknya koma. Sata di usut Disya sama sekali tidak bersalah jadilah mereka lebih memilih diam saja.
Disya berdehem melirik Hana yang diam saja. “ coba Tanya dengan dia. Apa saya membullynya?” Tanya Disya kelam dan mengintimidasi Hana.
__ADS_1
semua menatap Hana yang duduk disana. hana meremas pelan kursi nya jika menjawab iya maka dirinya pasti akan habis tapi jika ia mengatakan tidak, pastilah Disya akan kesenangan dan merasa menang. Hana tidak tau menjawab apa sebab keduanya punya resiko masing masing.
“ Hana jawab.” Jelas kepala sekolah kepada Hana yang diam saja tak menjawab pertanyaan mereka yang ada di sana.