
Sedangkan ayah? Ia tidak tau apa-apa sebab ayahnya sangat jarang pulang, bahkan kadang dua bulan satu kali, itupun pulang malam besok nya pergi lagi, ketika ia bertanya pada ayah atau ibunya maka ayah dan ibunya akan mengatakan hal yang sama yaitu mencari uang untuk mereka, tetapi Disya slelau bertanya jika temna-temanya juga punya ayah yang bekerja tetapi pulang setiap hari. Tetapi yang ia dapatkan malah dimarahi oleh keduanya membuat ia terdiam. Sebagai anak bukankah kita harus patuh? Dan itu dia. Dia anak yang poatuh dna penurut tidak pernah memberontak atau menuntut.
Satu malah dimana usianya memasuki usia 6tahun ia kembali melihat ibunya menangis histeris menghancurkan kamarnya, ia melihat ibunya menatap benci foto ditangannya, ia gemetar ketakukan melihat ibunya, ia ingin mendekat tapi ia tau jika mendekati ibunya saat ini sama saja ia sedang mencari mati, ibunya itu gila, bahkan bisa membuat dirinya samsak kemarahannya.
Saat ibunya tertidur dan sudah tidak sadar barulah ia memasuki kamar ibunya dan menatap apa yang membuat ibunya hancur dan marah,. Ia tertegun dna terdiam. Itu foto ayahnya yang sedang bersama wanita lain, ia terdiam, disana terlihat ayahnya dan seseorang yang tidak menggunakan baju. Ia tidak paham dan tidak tau. Ia meneliti foto lebih dalam sampai ia menatapnya jijik.
”Kenapa papada dia tidak mengenakan baju?” Itulah yang ia gumamkan.
Akan tetapi melihat ibunya yang hancur dan marah ia jadi yakin jika foto itu adalah alasan kenapa ibunya begini, jadi ia membawa foto itu untuk ia simpan, ia membawanya kepada bibi dari rumah dan bertanya. Bibi terlihat sangat kaget dan menutupi mulutnya, lagi-lagi semua orang diam membuat Disya frustasi dimasa kecil yang polos.
Ia bertanya pada satpan ataupun siapapun dirumah membuat siapapun diam tak menjawab, ia menangis tapi dalam diam, ia bertekat mencari tau apa maksud dari foto itu, apa itu penyebab keluarganya tidak memberikan dirinya waktu? Sampai pada ia bertanya pada guru. Fakta tetap tertutupi oleh guru malah menatapnya prihatin ketika ia mmenceritakan semuanya, saat ia hendak bertanya pada teman-temanya ia dilarang oleh guru jadilah ia tetap menimpan foto itu. ia menyimpanya dan mencari tau, semua jawaban semua orang dijalanan sangat ragam, ada yang menertawakanya ada yang memarahinya bahkan ada yang mengatakan ia gila, atau menenangkanya untuk sabar. Ia bingung, ia frustasi.
Sampai dua minggu ia tidak menemukan jawaban, keadaan semakin kacau, ayahnya selalu pulang dengan keadaan kacau dan ibunya yang suka memarahinya, ia bahkan melihat ibunya menangis dan ayahnya memukulinya keras mengatakan kata kasar.
Ia gemnetar ketakutan, alih-alih saling berpelukan dan minta maaf ayahnya pergi dari rumah dan tidak pernah pulang selama hampir dia minggu.
Ia bertanya pada ibunya dimana ayah yang tidak pernah pulang, lagi-lagi ibunya memarahinya dan juga membentaknya, ia hanya anak kecil yang polos dan hanya bisa menangis dan diam, semenjak ayahnya tidak penah pulang ibunya menjadi gila dan frustasi. Ia dipukul dan disiksa, disya tidak pernah mengeluh sebab ia tau ibunya pasti masih sangat sedih karena ayahnya tidak pernah pulang.
Sampai pada satu titik dimana ia sangat menyesal, ia menyesla tidak mendapatkan apa arti dari foto itu dan kenyataan, ia pulang dalam keadaan bahagia dikarenakan ia memenangkan lomba menggambar. Ia kekamar ibunya dan hendak memamerkan pialanya, alih-alih mendapatkan sambutan dan kebahagiaan, ia malah mendapatkan tempat ibunya yang kacau dan berantakan. Ia tertegun dan kaget. Lalu ia meraung mencari ibunya, ibunya tidak ada dikamar ia menangis.
Tak hilang akal ia mencari ditoilet kamarnya.
Dimana titik paling terendahnya datang, ia melihat gelindangan darah di Bateup, didalamnya penuh dengan cairan berwarna merah yang ia yakini itu adalah campuran antara air dan juga darah. Ia memekik histeris disana, menutup telinganya ia melihat tubuh ibunya mengambang dengan penuh darah. Ia gemetar ketakukan dan semua orang dirumah datang kekamar ibunya untuk membantu,,
Semua kaget melihat nyonya mereka yang mandi darah, beberapa orang memanggil ambulan dan poliis tidak ada yang berani menyentu sebab ini sangat-sangat berat kasusnya. Disya pingsan dan tak sadarkan diri dibawa kekamarnya disertai ibunya yang dibawa kerumah sakit.
Semua orang berkabung, dan Disya ikut berkabung, ibunya meninggal dikalah itu juga dengan dugaan bunuh diri. Disya merasa ditikam oleh kenyataan, ia belum mengecap kebahagiaan dan melihat ibunya bahagia, yang ada hanya kesedihan dan kehancuran itu semakin membuat ia tertekan, ia mendatangi pemakaman ibunya dan menangis histeris sebagaimana anak diusianya,. Ia bertanya-Tanya dimana ayahnya? Dimana dirinya kenapa tidak datang menjenguk pemankaman ibunya, dimana hari terakhir melihat mamanya.
__ADS_1
Ia bertanya dimana-mana tapi tidak ada yang menjawab,. Ia bertanya pada satpam, ia bertanya pada pembantu tetapi tetap tidak ada yang menjawab, ia frustasi, ia merasa dirinya sendiri dan hilang akal, kenapa ia menjadi orang yang paling bodoh dikalah itu, ia pergi kemanapun mencari tau dimana ayahnya, ditengah jalan ia berteriak bertanya pada siapapun yang bisa menjawab pertanyaanya membawa foto dari yang ia temukan dari kamar ibunya kalah itu.
Ia menunjukan kepada siapapun yang lewat tapi tidak ada yang mau menjawabnya, ia menangis terseduh-seduh dibawah hujan. Sampai pada ia bertemu pada satu kelompok anak-annak yang menggunakan motor-motor besar pasti mereka remaja., ia mendatangi mereka dengan buliran air mata yang masih mengalir. Semua kaget melihatnya datang memeluk foto dengan wajah yang menyedihkan, salah satu dari mereka datang mendekatinya dan menatapnya heran.
”Adik kenapa menangis malam-malam ditengah jalan???” Tanyanya pelan.
Disya menunjukan foto ditanganya pada pemuda itu lalu menangis lagi. bibirnya bergetar dan berkata.”Aku bertanya kepada siappuan akan foto ini tetapi tidak ada yang mau menjawab. Kakak bisakah kamu jelaskan apa arti difoto ini? kenapa mereka mengatakanku anak gila hanya karena foto ini?”Tanya Disya polos sembari menangis.
Dari mereka banyak yang turun menatap foto yang dimaksud Disya, meraka berjumlah lebih dari sebelas orang disana dan itu menggerumbungi Disya kaget menatap foto-foto tak senonoh ittu lalu tagihan-tagihan milyaran juta hingga data-data.
”Adik kecil dimana kamu mendapatkan ini?”tanyanya yang tadinya bertanya.
Perawakannya sangat tampan dengan tubuh yang tegap,
Disya disana mengusap pipinya yang basah karena menangis.”Itu aku dapat dari kamar mama sebelum meninggal bulan lalu, itu papa dan aku tidak tau siapa perempuan yang dibawahnya, tetapi mama terlihat sangat murkah dan marah. Terakhir aku melihat mama berkata dna membahas pada papa tetapi papa malah memarahinya dan menamparnya bahkan tidak segan mendorongnya dan mengatakan jika dia tidak mencintai mama lagi, setelahnya papa pergi tidak kembali, tetapi mama jadi gila dna berakhir mati karena bunuh diri. Kakak kenapa ini? apa arti foto ini tolong jawab.”Ujarnya bergetar. Bibirnya yang pucat terlihat begetar karena sedih.
Semua disana menatapnya nanar, salah satu dari memereka memeluk Disya dna mengusap pipinya pelan, mereka prihatin melihat dan mendengarnya. “Adik manis tenang dulu, jangan menangis. Jika kamu menangis kami tidak akan menjelaksanya kepadamu apa arti foto ini.” Ujar salah satu temanya tadi lalu ada juga yang mengusap kepala Disya pelan merapikan rambutnya. Tubuh Disya masih banyak tanah kuburan karena baru memakam ibunya tadi siang.
Disya mendengarnya menatapnya penuh harap.”Kakak tidak berbohong seperti mereka kan kak?”Tanya Disya pelan. Semua mengangguk lalu memeluknya. Disya sudah tak lagi menangis tetapi ia masih sesegukan sampai suaranya putus-putus. Siapapun mendengarnya sangat sakit hati dan tersentil. Bagaimana bisa anak sekecil ini menanggung beban sedalam ini.
Remaja disana merasakan apa yang Disya rasakan. Mereka ikut diam menatap foto-foto yang jauh dari kata senonoh, foto dia orang yang tidak mengenakan sehelai benang pun diatas kasur, lalu diatas kursi kantor, lalu didinding dan juga diruang makan. Semua foto yang sangat-sangat membuat mereka jijik. Bagaimana bisa Disya mendapatkan foto itu. mereka bersyukur Disya anak yang polos.
“Adek tenang dulu yah. sini kita ,minum dulu kakak akan jelaskan semua arti foto ini.”Ujar dari remaja yang berkulit hitam manis eksotis itu pada Disya yang terlhat menyedihkan.
“ Mike..!!! apa-apaan loe? Dia anak kecil belum boleh mikirin hal ginian. mentalnya woy..!!” Tegurnya Alex pada Mike yang hendak mengatakan sebenarnya kepada Disya sang anak yang belum pantas mengetahui semuanya.
Mike menatap Alex dengan tatapan tak terima.”Dia berhak tau, loe nggak liat keadaanya dia kayak gini???” Tanya Mike menolak pelan.
__ADS_1
Disya menarik bajunya Alex. Alex menatap kebawah melihat wajah Disya yang penuh air mata ia mengusap pipi itu pelan karena iba.”Kakak Disya tidak akan marah apapun itu. Disya mohon kak jangan bohongi Disya. Disya berhak tau meksipun diysa masih kecil. Semua orang membohongi Disya dan tidak menjawab, andai semua orang sedari awal jujur dan menjawab. Disya yakin Mama tidak akan mati., disya membenci semua orang. Disya benci.”Gumamnya mengepalkan tanganya lirih kepada kakak-kaka dihadapannya.
Mike mengangkat Disya duduk didekat trotoar, ia memberikan minuman miliknya.”G0blok. itu anak kecil kehausan loe kasih soda, mana baru udah nangis lagi, fileg yang ada dia nanti. kasih air putih kek.” Tangan Mike dihempas oleh Boy yang disisinya kesal melihat Mike yang bodohnya nauzubillah.
Mike menghela nafas.”Kalo gitu kasih gue air putihnya.”Ujarnya mengawil tangannya pada Boy. Boy disana terdiam sebab tidak ada air mineral disini. Ia menggaruk pipinya karena tak ada.
”Jadi disini yang Gobl0k siapa? Loe atau gue?”tanyanya Mike pelan dan Meremehkan pada temanya satu ini.
Mike mendengus melihatnya diam, hendak memberikan mimuman lagi kepada Disya. Tetapi tangannya ditahan oleh seseorang, ia mendongak menatap sang pelaku yang tak lain adalah keyna.
Keyna memberikan Disya satu kotak susu coklat.”Itu punya adek gue si, tapi nggak apa-apa soalnya dia lebih butuh.” Yah mereka itu geng Galaksi Keyna dikalah Keyna masih miskin dan mencari uang untuk sang adik. Ia masih bekerja di Club malam menjadi pembersih toilet.
Disya menerimanya dan memimumnya cepat. Menatap Keyna lirih. Keyna mengusap kepalanya pelan mengingat masalah dirinya dan juga papapnya. Ia menatap anak iba, nasib mereka sama, sama-sama memprihatinkan. Ayahnya memang tidak selingkuh tetapi melupakannya dan menyiksanya.
Ia menatap jam.”Gue mau kerja dulu. Kasih tau aja sama anaknya biar dia tau. Dia berhak tau meksipun masih kecil sekalipun, gue tau gimana rasanya dikhianatin. Sakit. Lagi pula takutnya nanti ini bakal jadi penyesalan terbesar dia waktu gede... ”Ujarnya lalu membawa motornya menjauh meninggalkan Disya dan teman-temanya.
tapi sebelumnya ia melirik Disya mengusap kepalanya bentar. " Kakak pergi kerja dulu yah... dah...!!!" Ujarnya. Disya mengangguk menatap nya diam.
.
.
.
.
.
__ADS_1