Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Tidak gratis


__ADS_3

Tatapan mata Caisar sekarang tersirat kekosongan menatap kepada Rafa yang didalam ruangan melalui kaca transparan dipintu. Ia tak boleh masuk entah sampai kapan.


Pukulan talak yang ia dapat saat mendengar sang adik jika sudah diambang kematian. Jika boleh jujur ia tak ikhlas dan tak akan pernah terima sang adik ia hidup selama sepuluh tahun meningalkannya, tapi ia juga tak akan pernah tega untuk melihat sang adik hidup tapi dalam keterbatasan dan kekurangan yang betitu berat. Rafa anak hebat. Rafa anak baik, ia sangat baik dan penurut hanya sekali ini ia membangkang dengan Caisar yaitu mengikuti kedua orang tuanya.


Rafa anak cerdas. Bahkan tak pernah meninggalkan jejeran juara satu fararel. Tapi kenapa sekali ia meminta untuk hidup layak ia malah begini??? Caisar boleh egois tidak/


meminta adiknya tetap hidup bagaimanapun caranya?? Apapun bentuk dan kosequensi adiknya??


“Kakak..”Gumam Cessy mendekat ada Caisar.


Keduanya memang sudah sadar semenjak subuh tadi. Sedangkan Cessy sadar tengah malam semalam. Hari sudah menunjukan matahari dan meninggalkan cahaya tapi tidak untuk Ciasar dan Cessy.


Caisar memeluk bahu Cessy dan bertanya.”Bagaimana keadaan Farel?


Ia sendiri tadi melihat Farel menggila, tak bisa diatur. Terus menangis dan takut dengan siapapun. Ketika melihat Caisar pun ia berteriak terus menerus kata maaf, Ia gangguan jiwa sementara saat ini.


Cessy menggeleng.”Dia sudah tidur,, tadi cukup sulit menenangkannya, dia tadi sudah makan dan minum obat, tapi dia masih menganggap ini mimpi dan takut bertemu kakak. dia bahkan dari tadi bilang tidak ingin bertemu kakak, dia merasa gagal melindungi kembarannya.”Ujar Cessy sedih. Air matanya terasa tak ada kering-keringnya menangis.


Caiisar menghela nafas, ia duduk di kursi depan ruangan Rafa. Ia saat ini tidak tau harus apa lagi. apalagi biaya rumah akut yang pastinya saat besar. Dimana ia bisa mendapatkan uang untuk itu semua,?


”Pangeran..Cessy..” Itu suara dari arah kanan. Caisar dan Cessy pun menatap arah siapa yang menmanggil mereka.,

__ADS_1


Terdapat Disya yang mengenakan baju kaus oblong putih, celana hitam oversiza sebagaima ciri khasnya. Mata tajam dna juga tatapan datar. Ia mendekat membawa pelastik mendekat dengan Caisar danm


Cessy. “Kalian belum makan kan? Ini aku bawakan makanan untuk kalian.”Ujarnya disana dengan senyum tipis mengusap kepala Caisar pelan.


Caisar menatap Disya dengan lembut, “Kamu tidak sekolah?”Tanya Caisar lembut.


Disya menggeleng.”Udah telat tadi dari pada kena hukuman mending tidak sekolah, lagi pula masuk atau tidaknya aku tidak akan berpengaruh untuk skeolah itu.”Ujarnya dengan datar.


Caisar menatapnya mengernyitkan dahi. “Tapi sekolah atau tidaknya itu sangat berpengaruh pada diri kamu sendiri. Sekolah itu untuk diri kamu bukan yayasan ataupun orang lain.”Caisar menjelaskan penuh kelembutan, ia mengusap pipi Disya.”Lain kali jangan lagi yah.. sini duduk.”Ia menepuk duduk disisinya. Matanya bengkak bahkan menyipit saat ini.


Disya mengeluarkan beberapa otak nasi dan juga makanan, ada susu, ada camilan dan roti, ada juga buah. Caisar jadi tidak enak saat melihat semua kebaikan dari Disya. “Ayoo makan. Kalian harus makan supaya tidak sakit.”Ujarnya membuka nasi untuk Caisar dan mineral untuk Caisar. Ia memberikan kepada cessy juga. “Aku sedang tidak lapar. Kalian saja yang makan.” Cessy menghela nafas dalam, bahkania tak bisa merasakan apapun ditubuhnya saat ini.


Cessy menatap Disya dengan pandangan tak terbaca, ia sakit hati tapi ada sebenarnya.”Jangan egois, suka atau tidak, cepat makan.!” Tekan Disya. Ia memerintah sembari membuka makanan Cessy. Cessy disana menghela nafas pelan.. caisar? Ia memilih diam, suaranya hilang entah kemana. Pikiranya bahkan sudah tak lagi ditempat.


Disya melihat Caisar menghela nafas, ia mencuci tanganya danb juga mengambil Sendok Lalu Menyuapi Caisar.”Makan pangeran.,..” Tekanannya. Caisar disana menatapnya dan mengerjab. Ia makan Disya suapi lalu mengambil alih makanan.”Biar aku makan sendiri. Kamu sudah makan?”Tanya Caisar.


Dsya menganguk jujur,.”Sudah.”Ujarnya lalu menatap kedepan, ia menghela nafas penuh pikiran. Mengambil keripik pedas dan makan ditemani oleh Caisar dan Cessy makan. Baik Cessy maupun Caisar, keduanya makan tanpa tidak ada yang menikmati rasa makanan tersebut, tanpa ada minat, bahkan rasanya nasi itu bisa ia telan tanpa ia kunya.


Hanya beberapa supaoo baik Cessy maupun Caiisar pun menyudahi acara makan meteka yang bahkan Sedari semalam belum makan, mereka kenyang. Disya melihatnya hanya diam tak mengatakan apapun. caisar terlihat membuang bungkus makanan dia dan Cessy.


Lalu kembali duduk dekat dengannya.”Terimakasih banyak Sa. Kamu sangat baik.”Ujar caisar pelan. Ia menghela nafas.”Maaf baru sempat bilangnya soalnya dari kemarin nggak kepikiran, nggak ingat apapun.. Aku bahkan nggak tau harus balas kebaikan kamu dengan apa lagi nanti.”Ujarnya lirih. Kenapa semua orang mengangap Disya monster sedangkan dia malaikat kehidupannya? Kenapa semua otang mengangap Disya orang jahat padahal dia adalah orang yang paking baik bagi Caisar.

__ADS_1


Disya menepuk pundaknya dan memberikan susu beruang.” Kita sebagai kekasih harus saling membantu dan saling melindungi, adikmu adikku. Bahagiamu bahagiaku.. dan semuanya tidak gratis.”Ujarnya Disya negan pelan.


Caiisar menatap Disya dengan tatapan kecewa, ia pikir Disya tulus. “ Tapi.. aku tidak punya uang dan tidak punya apapun Sa... tapi aku janji akan membayarnya dengan mencicil nanti. Aku tau biaya adikku pasti sangat besar. Aku siap meskipun mencicil seumur hidup.”Ujar Caisar penuh keyakinan. Operasi, ruang VIP, makanan, membantu nyawa adiknya adalah utang terbesarnya. Ia tak akan bisa membayarnya dengan cara apapun.


Disya menatap Caisar dnegan pandangan rumit.” Kamu pikir aku kekurangan uang?” Caisar terdiam mendengar pertanyaan Disya. Jika melihat kondisi keuangan, jabatan serta milik Disya ia tak yakin, bahkan baju yang Disya pakai sekarang meskipun hanya kaos oblong, ia yakin itu harganya puluhan juta. Jangankan itu,, sandal jepit yang Disya kenakan saat ini Caisar yakin harganya belasan juta.


“Maaf..” Gumam Caisar pelan.


Disya menghela nafas, ia mengerjab pelan, ternyata Caisar belum mempercayainya dan belum mencintainya. Bukan masalah, lagi pula itu wajar, ia datang dengan cara mendadak, langsung masuk dan berstatus sebagai kekasih. Mencintai seseorang tidak semudah itu, apalagi Caisar tidak pernah memikirkan tentang perasaan terhadap lawan jenis. Ia terlalu memikirkan cuan cuan cuan untuk adik-adiknya.


“ Kau tak usah bayuar dengan uang, aku tau kau tak punya uang dan kau tak akan mampu.." Disya mengatakan hal itu tanpa beban dan wajah tak berekpresi.


.


.


.


.


Semangat yah akuuu

__ADS_1


__ADS_2