Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Penolong


__ADS_3

Karena kemarin nggak up. hari ini aku up buanyaaak. dua kali lipat Yee ...


.


.


.


. Happy reading.....


.


.


.


.


Ringisan kecil keluar dari bibir mungilnya Farel terbangun dari pingsannya. Ia melirik kearah tembok yang bercat warna putih dan ada gorden penutup. Ia yakin ini ruang rawat rumah sakit, ia meringis memegang kepalanya mengurangi rasa nyeri kepalanya. Sangat sakit.


Tapi ingatannya mencari kenapa ia bisa disini saat ini... dan dugh... ia terenyuh akan ingatannya, ia menggeleng pelan. Tulangnya terasa lemas, tubuhnya gemetar ketakutan, dadanya bergemuruh kencang..


“Kakak..”Gumamnya mericau takut.


Darah... wajah yang berdarah.. tabrakan. Semua memenuhi kepalanya. Ia memegang kepalanya takut, bibirnya mengigit bibir bawahnya dnegan gemetar ketakutan. Sungguh ia takut. Tangisannya jatuh.


”Ini nggak mungkin. Ini Cuma mimpi kan? ini Cuma mimpi yah mimpi..”Ujarnya pelan.


Ia menatap kedepan dan terkekeh. Puk.


“Bangun..!!” Bentaknya memukul kepalanya sendiri untuk membangunkan dirinya berharap jika ini hanya mimpi.. Bugh..”Bangun Farel bangun... ini mimpi buruk..!! Farel bangun..!!!”Teriaknya nanar pada dirinya.


Ahkkk... ia berteriak kencang merasa tamparan dan pukulan itu menyakitkan dirinya,, tapi dirinya tak juga kunjung sadar,.,” Kak Rafa enggak mungkin pergi.. Kak Rafa nggak mungkin pergi Farel bangun..!!” Teriakannya menggema terdengar sangat pilu. Ia kembali memukul dadanya dan kepalanya.


Beberapa orang diruangan itu tertegun melihatnya, “Dok pasien dok..”Ujar salah satu dari keluarga pasien disana takut keluar mencari dokter. Terlihat farel mengila memukul dirinya sendiri dna berteriak. Siapa yang berani melihatnya menggila begini???


Beberapa dokter dan perawat datang mendekatinya.. “ Dek..” Panggil salah satu dokter lelakinya. Farel menatapnya dengan tatapan Tanya.”Ini mimpikan? Dimana kakak saya? Saya mau pulang.. saya mau pulang gimana caranya pulang?? Gimana saya mau ketemu kembaran saya dok.. saya mau ketemu kakak saya mau minta maaf udah melawan dan membantah dia dok.”Ujarnya lirih dan penuh harap.


Dokter itu mendekatinya dan juga memeluknya. Tapi Farel menolak.”Dok saya nggak mau dipeluk. Saya mau pulang. Bangunkan saya dok tolong bangunkan saya..!!!” Teriak farel Mendorong dokter hingga terjatuh. Dokter itu meringis melirik beberapa perawat untuk memberikan suntikan penenang pada pasiennya.


‘”Kalian ngapain? Lepasin saya, saya mau bangun.. saya mau pulang...!” Teriak farel tak terima ketika beberapa perawat yang melakukan tugasnya. Salah satu menyuntik bagian lengannya pelan dan Farel tersadar. Ia menepisnya hingga tangan pasien itu terlepas dari suntikan dan suntikan itu nyangkut lengan Farel.


Farel mencabut suntikan dari lengannya dan membuang suntikan disembarang arah membuat pekikan semua orang terdengar.


Farel berdiri dan terasa goyah.”Tolong bangunkan saya.. akhh.”Ia meringis kepalanya kembali sakit. Dan Bugh.. ia kembali jatuh.

__ADS_1


Untungnya bius itu tadi beraksi cepat dan kembali membuatnya jatuh pingsan.


“Tolong bantu saya.”Ujar dokter tadi lalu kembali menaruh Farel ketempat tidurnya.


Dokter menatap Farel dengan tatapan sendu dan juga sedih. Ia mengusap kepala Farel yang bakan masih bergumam ingin bangun dari mimpi. Padahal ini bukan mimpi..,!! tapi bagi Farel ini mimpi terburuk di hidupnya.. “Kamu pasti sangat terpukul.”Gumam dokter itu lirih.


Disisi lain tadi ada seseorang yang menatap kejadian itu, itu Disya... ia melihat semuanya namun tak mendekat. Apa pedulinya? Meksi itu adik Caisar ia tak peduli. Selagi itu bukan Caisar ia tak akan turun tangan. Ia hanya diam menatap Farel adik Caisar yang bahkan pingsan.


Ia mengingat kejadian tadi, dimana ia yang taks sengaja melintasi jalan yang sama dimana tragedy terjadi.


Flashback....


Disya yang didalam mobil menatap luar jendela. Ia merasa haus.”Pak berhenti entar di indobeli yah pak. Soalnya saya mau beli minum,”Ujarnya pelan.


“Baik non.”Ujar supirnya patuh.


Berselang lima menit Disya berhenti didepan SMP yang pernah ia tempati tapi ia dikeluarkan karena sudah membully hingga orang tersebut terlena sakit mental alias jiwa. Iya dia sekejam itu. Ia mengangkat bahu acuh dan melangkah kearah pusat perbelanjaan disana. ia menatap banyaknya minuman.


Hey dia sama saja dengan wanita lain yang jika dihadapkan pilihan akan bingung, ia menghela nafas lalu mengambil minuman bersoda satu, minuman teh rasa apel satu, air mineral Dan juga susu strawberry satu. Ia juga tak lupa membeli satu kopi yang untuk supirnya nanti. Ia diam kembali kearah lain yang tak lain adalah jajanan. Ia menatap makanan yang berbentuk lidih yang berlumuran coklat. ia mengambilnya satu, lalu kembali kerak beberapa jajanan asin.


Ia mengambil beberapa bungkus jajanan keripik singkong yang berwarna hitam. Yah dia menyukai rasa pedas. Ia bukan maniak pedas bahkan bisa dikatakan ia level bawah dari orang yang penyuka pedas, tapi baginya ia makan sudah sangat pedas haha..


Ia menuju kasir disana dan mengantri. Hingga bagiannya ia memberikan jajanannya.”Totalnya 98ribuk kak.”: Ujar dari kasir. Disya pun memberi kan uang berwarna merah pada kasir.


”Sisanya seribu mau mbak sumbangkan ke pelayanan kita peduli lingkungan kak? Ini akan disa-“


" Sabar mas.. cewek cantik memang gitu hehe... sombong.”Ujar salah satu pria yang dibelakang Disya mengantri tadi. Mas Indobeli pun hanya terkekeh. Ini tugasnya. Mau orang sombong mau tidak ia harus tetap ramah. Pembeli adalah raja.,


Kembali dengan disya, ia sudah masuk kedalam mobilnya, dan menutup pintu mobilnya.”Jalan pak. Ini kopi buat bapak.. “Ujarnya memberikan kopi yang ia beli tadi.


Supirnya tersenyum.”Terimakasih nona.”Ujarnya pelan mengambil minuman itu.


Bugh... Arhjjj


Namun belum jalam mobil mereka mereka dikagetkan dengan suara keras dihadapan mobil mereka,tak jauh tapi jelas dilihat, tak jauh dari sana ada dua orang yang salah satunya tertabrak dan satunya lagi mematung kaget. Mata Disya melihat lagi BD mobil yang menabrak hingga matanya kembali melihat langsung tubuh sang tertabrak tadi kembali dilindas Mobil muncratan darah kembali menyadarkan Disya..


“Ada kecelakaan non.”Ujar supirnya. Disya tak bergeming, ia meneliti semuanya. Matanya menatap sang yang terlindas. Sangat jelas banyak darah diwajahnya.. dan dugyh... ia menajamkan matanya memutar ingatannya. Ingatannya jatuh pada adik-adiknya Caisar..


”pak bantuin cepat.!” Ujar Disya cepat.


Supir itu mengangguk dan turun. Meski bingung baru kali ini nona nya sangat peduli dengan orang lain, biasanya mau sujud orang dihadapannya ia tak akan mau membantu, malah ia akan menginjak kepala orang itu. Ia tak ambil pusing meski senang tuannya peduli dengan orang lain.


Disya disana menatap Farel pingsan dan juga Dafa yang sudah berlumpur darah. Terlihat jika tubuhnya sangat mengeluarkan banyak darah.”Pak bantuin cepat.. kalo mereka kenapa-napa mati kalian ditangan saya..!” Tegas Disya kepada mereka.


“Tapi Mbak. Mereka ketabrak. Apa ngak kita panggil ambul—“

__ADS_1


" Kalian lama bangsat..!!” Terik Disya menarik Dafa dan menggendongnya,ahhh dia kuat. Ia membawanya dnegan tangannya tak mempedulikan tubuhnya terkena banyak darah, semua terdiam karena sebenarnya bukan ,melarang disana. mereka hanya tak berani jika nanti mereka yang jadi tersangka bagaimana??? Kan nanti ada penyelidikan dan sebagainya.


“Manusia biadab kalian. Orang mau mati kalian video in. apa rasa manusia kalian hanya sebatas terkenal dan viral..!!!! “ Disya yang sudah membopong Dafa masuk kemobilnya keluar lagi mau membawa Farel. Memang dunia sekarang penuh tipu muslihat. Banyak yang terlihat peduli didunia maya, tapi lihatlah jika berhadapan langsung? Bahkan mereka sibuk memvideokan mereka. Sisi lain sebenarnya lebih kepada rasa takut. Dimana Negara hukum ini ada peraturan, jika mereka yang menjadi tersangka padahal mau membantuku bagaimana? Atau bisa jadi tindakan mereka membuat korban semakin cidera. Bukankah membantu korban itu butuh tata cara yang baik dan benar. Itu hal utama? Itu jika dilihat dari sisi positifnya tapi sisi negatifnya mereka lebih mementingkan video dan berteriak.


Tak ada yang berani bergerak termasuk supirnya.semua sibuk memvideokan dan itu membuat Disya muak. Ia mengatur nafasnya dan menaruh lagi Farel dikedepan. Ia disana menatap supirnya yang ternyata sudah pingsan itu mendengus. Ia tak peduli. Ia memasuki mobilnya dan membawanya kerumah sakit meninggalkan semua orang tertegun.


Disya membawa mobil ugal-ugalan hingga menerabas lampu merah, beberapa mobil mengelaksonnya dna Disya mengelakson keras.. tak sampai lima belas menit mereka sampai kerumah sakit. Disya itu aish dibawah umur jadi ada beberapa polisi juga yang ikut dengannya sampai kerumah sakit.


“Nona Disya...” Panggilan menyadarkan Disya pada pikirannya yang tadi. Ia menatap dokter yang tadi menenangkan Farel. Terlihat dokter menghela nafas berat beberapa kali ia memanggil membuat nya kesal Disya tak peduli. Disya diam membuat dokter angkat bicara.”Saudara Farel memiliki guncangan yang kuat pada tubuhnya seperti trauma, ia merasa seakan-akan dunia ini adalah dunia mimpi dan tak ingin ada disini. Ia sangat trauma, saya takut ia tak bisa menerima kenyataan dan merasa ini bukan dunia nyata dan ingin bangun membuat ia berlaku nekat sejenis membunuh dirinya sendiri. Tadi saja ia tak sadar memukul dirinya hingga lebam-lebam.” Ujar dokter tersebut.


Disya mengangguk paham., wajahnya penuh darah. Tubuhnya. banyak sekali darah tapi ia masih tetap stay dengan wajah datarnya. “ lalu bagaimana dengan saudaranya dok?”Tanyanya pelan. Suaranya sangat renda sekali.


Dokter tersebut menatap Disya suram.” Pasien masih dirawat dan sedang diatasi oleh dokter ahli, tapi melihat kondisinya sangat mengkhawatirkan. Dan jikapun ia masih hidup, ia tak akan hidup dengan normal lagi.”Ujarnya masam pada Disya.


Disya mengernyit.” Apa yang akan terjadi jika ia hidup?”Tanya Disya pelan. Sangat pelan.


Dokter pun menjawab.” Ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup dikarenakan tulang ekornya yang remuk, dan juga tulang pangkal paha sampai pinggangnya patah.. dan kondisi lain saya belum tau sebab saya bukan dokter ahlinya.”Ujarnya.


Disya tertegun mendengar semua ujaran dokter tadi. Dokternya sudah pergi meninggalkan Disya sendirian. Ia tak mengatakan dengan Caisar saat ini, ia takut Caisar marah. Ia takut Caisar mengamuk dan khawatir. Ia menghela nafas melihat kebawah tanpa ia sadari air matanya jatuh. Ia menangis tampa suara. Sakit sekali rasanya dadanya


Ia menahan gemetar sedari tadi, ia membenci rasa sedih begini. Ia mengusap rambut pendeknya yang ia buat layer tersebut. Lalu berdiri. Ia melihat keruangan Rafa yang masih tertutup, ia dilakukan operasi. Disya tidak tau yang ia tau tadi ia menyuruh dokter melakukan yang terbaik. Hanya itu. Lalu tadi ketika ia hendak masuk ia disuruh menuju ke ruang administrasi dulu untuk membayar uang awal untuk melakukan operasi dan rawat pasien.


Lalu ketika sesudahnya ia mau kembali keruang pasien tapi ia dicegat beberapa polisi yang tadi mengejarnya. Ia pun disana menelpon orang suruhannya untuk menenangkan polisi itu. Barulah ia kembali kesini dan mereka sudah ditangani.


Memasuki rumah sakit ini kembali mengingatkannya dimasa kecil, dimana ia menangis berlari mengantarkan ibunya kerumah sakit penuh darah. Ia menangis histeris sendirian dengan tubuh ibunya yang pucat. Ia membenci rumah sakit yang tak bisa menyelamatkan ibunya, ia membenci dirinya yang tak cepat menangani ibunya hingga mereka terpisah alam... ia membenci semua orang baik karena ibunya yang mejadi orang baik..


“Nona Disya... nona ahli atau kerabat dari adek didalam?”Tanya dokter yang keluar dari ruang menatap Disya yang diam diambang pintu menatap kesana. Disya bahkan tak sadar karena terlalu bengong memikirkan apa yang terjadi.


Disya mengangguk.”Saya kakaknya.”Ujarnya pelan. jantungnya berdegup kencang saat ini menatap kedepan.


Dokter menatap Disya dengan tatapan sayu dna lelah.”Maaf nona.. saya dokter yang menangani adik nona, terjadinya pendarahan dari pasien sangat besar hingga ia mengalami kekurangan darah drastis., syukurlah tadi rumah sakit ini menyiapkan beberapa syok darah dna bisa digunakan. Tetapi ketika kami melalukan operasi, kembali terjadi pendarahan besar hingga darah stok rumah sakit tidak cukup untuk melakukan operasi lebih lanjut. Nona bisa minta tolong panggilkan orang tua atau sanak saudara mona kemari yang daranya cocok dengan pasien??? Diperkirakan operasi masih pajang tapi stok darah hanya ada satu kantong lagi. tolong nona jika tidak operasi akan gagal.”Ujarnya pelan.


Disya terdiam mendengarnya. Ia bukan kakak kandung. "Maaf sebelumnya apakah nona dan adik memiiki orang tua nona?”Tanyanya pelan pada Disya. Disya disana menghela nafas tak tau harus jawab apa.


Disya disana menggeleng dna berkata.”Orang tuanya sudah meninggal.”Ujarnya. dokter terdiam sesaat tak bisa berkata lagi


Disya berbalik dan menatap semua orang yang berlalu lalang.”Perhatian semuanya.. bisa liat kesaya sebentar..!” Teriak Disya kuat. dokter kaget dibuatnya. Semua menatap Disya.


Disya sangat kuat.”Tolong panggilkan semua orang kemari cepat..!” Teriaknya.


“Nona mau apa?”Tanya dokter pelan.


Disya terdiam sebentar hingga banyak yang berkumpul. Disya menghela nafas dan berkata.” Saya membutuhkan donor darah untuk orang didalam. Apakah ada yang mau membantu? Dan saya akan membayar darah kalian. Darah—“ Ia melirik dokter menanya darah apa. Lalu dokter angkat bicara.


“ Darah golongan O.” Ujarnya. Disya disana mengangguk.

__ADS_1


” Saya akan buyar mahal...!!!” tekannya.


__ADS_2