Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Disya 1


__ADS_3

Tatapan tajamnya Caisar menatap monitor yang dihadapanya. Sudah satu Minggu ia belajar dengan tlaten bagaimana caranya meretas akun. Bagaimana caranya dia untuk berusaha, investasi, dan banyak lainnya. Dalam satu Minggu pula ia sudah bisa belajar sedikit demi sedikit hingga sekarang ia sudah sngat pandai dalam banyak hal. Ia menatap monitor laptop yang ada didepannya,laptop dari sekolahnya yang baru diberi. Ia memang di beri lagi sebab rumahnya kebakaran membuat sekolah memberikan kompensasi.


...----------------...


“Disya..!!!! “ Teriakan mengema disnaa membuat sosok yang dipanggil menguap dan melirik pintu kamarnya. Disana ada sosok papanya yang menatapnya tajam dan bedecak pinggang masih lengkap dengan baju kerjanya yang terlihat berantakan.”Apa-apaan kamu ha?? Domana dokumen perusahaan nenekmu?”Tanyanya disana dengan tega.


Disya melirik tak minat menarik satu alis kanannya dan berkata,.”sudah ku jual. Kenapa? Mau marah?”Ia menjawab dengan sangat datar tak ada sopan santun yang ada. Itu memancing kemarahan ayahnya yang tadinya sudah hendak meledak sekarang sudah siap meliuncurkan larvanya yang menggelora.


Tadi saya pun menatap anaknya semakin tajam, tangannya terkepal erat dan juga melangkah mendekati anak yang sedang duduk di atas sofa sembari menonton televisi tak segan ia mengambil remote televisi nya dan mematikan siaran televisi yang sedang ditonton oleh sang anak yang tak lain adalah dua bocah kembar yang sedang bermain bersama teman-temannya


"Makin hari makin kurang ajar kamu, di Disya papa bicara sama kamu." Tegas kepada anaknya.


" Yaaah terus yang bilang papa bicara sama semut siapa??" Pengen santai kepada sang ayah seakan-akan sangat menyebalkan sang ayah.


Ayah Disya mati-matian tidak membentak sang anak, ia menarik nafas dan menahannya , memejamkan matanya menetralkan aliran darah yang ingin meledak seakan-akan ingin menghancur dan mencabik-cabik sama anaknya "Sekali lagi ayah tanya dimana dokumen dan berkas perusahaan nenek kamu? ! "Ia bertanya tanpa basa-basi lagi dan juga menekankan semua pertanyaan dan pernyataan yang sedari tadi ingin Ia pertanyakan.

__ADS_1


Dia sangat kaget ketika tahu bahwa berkas dan dokumen dari perusahaan dari sang mertua bisa hilang di brankas milik istrinya, brankas itu hanya bisa dibuka oleh istrinya dan juga Disya tapi tadi terbuka tak lagi terkunci. Sedangkan dirinya tidak tahu karena memang memiliki kata sandi yang tidak ia ketahui. Lalu bagaimana ia mengetahui jika dia mengambil dokumen tersebut? Ia mengetahuinya dari CCTV kamarnya Yang terselip di guci kecil yang hanya Ia yang tahu.


Disya terkekeh "Sudah saya katakan jika berkasnya dan juga dokumennya sudah saya jual."Ia terkekeh Remeh kepada sang ayah.


"Disya!!!" Tentang ayah kepada anaknya tangannya terangkat untuk menampakkan wajah sang anak yang telah membuat emosinya sangat-sangat terpancing.


Disya menatap sang ayah tajam tadinya sekarang menutupi matanya karena kaget, Tapi beberapa detik yang tidak merasakan pipinya perih lalu ia membuka matanya untuk menatap sang pelaku yang ternyata ayahnya yang malah menampar dirinya sendiri. Disa disana tersenyum miring dan berkata "Tidak usah sok baik atau menjadi seorang ayah seperti dongeng, Tampar saja aku bila perlu bunuh seperti kau membunuh ibuku." tekannya.


"Saya bukan pembunuh Disya. Ibu meninggal dikarenakan dia bunuh diri bukan karena kehendak Saya. Lagi ke sini menanyakan tentang berkas dan juga dokumen perusahaan bukan malah mencari ribut dengan kamu, tinggal jawab aju susah banget kamu. " yang menekan semua kata-katanya menegaskan bahwasanya dia bukan pembunuh dan juga tujuan dia kemari, tanpa disadari Disya jika hati kecil sang ayah masih tetap terasa tertusuk mendengar semua tuduhan sang anak yang sangat sangat membenci dirinya sedangkan dirinya sangat sangat menyayangi anaknya.


" disya jaga ucapan kamu..Plak... "


Nafas ayah bisa naik turun... ucapan Disya sangat sangat menyakiti hatinya sebagai seorang figur ayah, dia merasa sangat sangat diremehkan dan juga sangat tidak dihargai oleh sang anak. mungkin semua ayah di muka bumi juga akan merasakan apa yang ia rasakan jika merasakan jika mendapatkan penghinaan dari sang anak... apakah dia serendah itu di mata sang anaknya?.


Disya sempat kaget ketika bibirnya ditampar oleh ayahnya namun sedetik nya ia tersenyum menyeringai menatap sang ayah. '' Kenapa hah? bukankah semua yang aku katakan itu adalah suatu kebenaran, lantas kata-kata yang mana yang kasar dan juga menyakiti hati anda! kata-kata yang kasar atau kamu yang baru sadar jika kenyataannya memang apa yang sudah saya katakan kamu hanya sampah. Lagi pula Mama memang orang bodoh bukan? Jika dia tidak Bodoh, Dia tidak mungkin mencintai Anda juga mengakhiri hidupnya hanya karena laki-laki yang tidak pantas untuknya seperti anda!!!" yang menekan semua kata-katanya menatap ayahnya tajam tanpa berniat untuk membalas lantaran sang ayah. masih berbaik hati untuk tidak melakukan kekerasan terhadap ayahnya.

__ADS_1


"Bisa berhenti menghina papa dan ibumu kami tetap orang tua kamu dan kami orang yang membesar kanmu seharusnya kamu bisa menghormati saya sebagai ayah kamu dan Dia Mama sebagai ibumu, kamu benar-benar tidak pantas mengatakan hal yang kasar seperti itu kepada kami, bagaimanapun kamu tetap sama saya dan saya berhak atas semua apa yang kamu lakukan dan semua dokumen file yang kamu miliki saat ini sebelum kamu bisa mengendalikan yang juga memegangnya dengan benar!!!" Jawab ayahnya.


Disya menggeleng " lalu jikukan bodoh apa namanya? beg0 bucin atau sebagainya semua kata-kata pembodohan ada untuk mama dan semua kata-kata kejahatan itu ada pada diri Anda jadi tidak ada pembelaan ataupun pembenaran dari apa yang saya katakan untuk kalian berdua." yang memberi jeda dan juga mengambil nafas dalam untuk menahan tidak meletup di dadanya "dan meskipun Anda ayah saya ada tidak sama sekali berhak atas apa yang saya miliki Dan saya lakukan, karena bagi saya kalau Ayah saya sudah mati setelah umur saya 10 tahun yang lalu di mana Saya tahu bahwasannya nya ada yang sudah merebut semua kebahagiaan saya ya dan juga membunuh orang bodoh dan sialnya itu adalah ibu saya yang tak lain adalah istri anda sendiri..!!" bisa kembali tersenyum miring menatap sang ayah seakan akan berkata hei kamu benar-benar Bukan lawan saya untuk berkata-kata ataupun untuk membela diri Bahkan kamu tidak memiliki suatu hal yang pantas untuk dibela dalam diri kamu mu.


Ayah Disya terdiam mendengar ucapan sang anak. semua Pernyataan nya menyakiti hatinya seorang ayah, ulu hatinya sangat sakit semua sendiri di tubuhnya rasa-rasa, air mata yang terasa ingin melebur dengan keadaan yang nyata apakah dia seburuk itu di hadapan anaknya?


Disya senyum miring bangkit dari tempat duduknya menatap sang ayah lalu menunjukkan pipinya yang penampakan bekas tamparan dari sang ayah yang menghasilkan warna merah dan juga bibir yang berdarah, matanya merah menatap sang ayah nya tajam


"Dan ayah yang mana tega memukul dan menghukum sang anak kandungnya sendiri hanya karena selingkuhannya!!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2