
Perkembangan Rafa tidak ada sama sekali, dia masih bagai manusia yang tak bernyawa. Caisar dan Cessy bolak balik kerumah sakit, tubuh tak terawat hingga lima hari ini. Disya dua hari sudah tidka kemari karena kejadian terakhir menghajar Farel, padahal Caisar sama sekali tidak marah karena tau jika yang Disya lakukan pasti ada alasan.
Tetapi Hari ini Disya datang, wajahnya sangat kusut menemui Caisar dan Cessy. Dua hari tidak sekolah, tidak ada dimana-mana dan sekarang dia datang dengan keadaan penuh luka lebam disekeliling wajahnya dan juga berdarah disudut bibirnya. Caisar yang melihatnya kaget pastinya.”Yaampun Si. Kamu kenapa?”Tanyanya mendekati Disya segra mengusap pipi kekasihnya.
Cessy juga disanapun segera pergi mencari kotakl p3k. Disya meringis ketika Caisar memegang lukanya. Caisar terlihat sangat khawatir sudah menjadi obat yang nyata bagi Disya. Ia tersenyum lebar dan menggeleng.”Maafkan aku yah. aku tidak bisa mendapatkan informasi apapun untuk Dafa. ”Ujarnya lirih.
Caisar disana mengernyit mendengarnya. “Jadi ini gara-gara kamu mencari dia?? Yang nabrak Dafa?”Tanyanya nyeri. ia tidak suka Disya terkena imbas begini. Ia sama sekali tidak suka sungguh. Ia menggeleng liirih tak terima.
Disya disana tersenyum cerah.”Bukan kok. Ini gara-gara aku kesel jadi yah datengin preman buat melampiasian kesel ehh nggak taunya mereka banyak jadinya gini deh.”Ujarnya dengan tanpa beban seakan yang ia ceritakan adalah hal yang menyenangkan.
Plat... auuu.
Keningnya dijitak oleh Caisar.” Kebiasaan deh. Kalo nggak cantuk lagi nanti gimana??”Tanyanya pelan.
Disya mendengus.”Yah ngapain mau cantik lagi? kan udah ada pangeran.”Iua menyenggol bahu Caisar dengan kekehan pelan akan ucapannya yang aneh.
“Kalo aku tidak mau sama kamu yang udah jelek gimana?”Tanya Caisar menggoda.
Disya menatap Caisar dengan remeh.”Oh tidak bisa.. mau atau tidaknya kamu dengan aku, maka aku akan paksa meski menentang langit dan bumi sekalipun.”Ujarnya percaya diri yang teramat besar.
Caisar terkekeh disana.” Setidaknya jangan terluka lagi yah. aku tidak suka kamu terluka lagi, kamu terluka saya ikutan merasakan sakit..” Ujarnya Caisra lirih. Matanya menyirat kekhawatiran yang mendalam menatap Disya. Ini jujur bukan drama atau apa. Disya sudah masuk kedalam hidupnya dan mengajarkanya tentang orang lain yang bisa ia percaya.
Disya menghela nafas mengangguk.”Nggak janji tapi.”Ujarnya. caosar hanya diam, mentapnya sendu.
Caisar sendiri bingung bagaimana ia harus menghentikan Disya dalam hobinya melukai dirinya sendiri dan orang lain. Apa yang membuat Disya begini.? Ia selalu bertanya-tanya, ingin bertanya secara langsung dengan orangnya. Tapi ia sadar ia harus menunggu harus Disya yang bercerita duluan. Ia tidak mau dengan dirinya bertanya Disya malah semakin tertekan. Mungkin Disya sendiri belum menerima dirinya dan mempercayai dirinya sepenuh hati.
__ADS_1
”Kak obatin dulu lukanya.” Ujarnya Cessy memberikan kotak obat. Diambil Caisar dan Disya barengan.,”Ciee... barengan kek jodoh yah.” Cesys sekarang memang suka sekali mengoda keduanya.
Ia juga sudha mengangap Disya kakaknya sendiri. Disya sangat baik meski kasar dan juga keterlaluan. Ia tau jika memang Wajahnya begitu. Caisar juga sudah mengingatkan dirinya untuk menerima Disya apa adanya. Cessy pun setuju saja dikarenakan kebaikan Disya selama ini. selama kakaknya bahagia,
Disya tersenyum menepuk kepala Cessy pelan sebagaimana hoby Caisar menjadi hobbynya juga.” Jangan sok akrab.”
Memang tindakan berbeda dengan mulutnya. Cessy bengong melihatnya. Sedangkan Caisar disana malah terkekeh. "Lain di mulut lain di hati yah Sa..." Sembari membasahkan kapas, membersiihkan uka Disya.
Cessy pun terkekeh"Kebesaran gengsi kak." Sahutnya. Caisar mengangguk setuju.
Disya diam disana merasakan peri diwajahnya. Sejujurnya ini bukan luka yang ia dapatkan dari preman, ia mendapatkan ini karena ulah ayahnya Caisar, ia mencari semua bukti yang membuktikan jika Cleo mendapatkan tindakan asusila dari keluarganya. Dengan adanya Cleo yang telah ditemukan dua hari yang lalu oleh Caisar bersama dengan Fadly.
Back..
“Kai gue mau bengong serius sama loe..!!” Fadly menatap Caisar dengan tatapann dalam dan juga penuh mengintimidasi. Caisar yang baru saja senang karena dapat bantuan menatapnya dengan tatapan tanda tanya. Ada apa? Apa Fadly tidak menerimanya juga? Atau dia punya salah?
“Yah?” Tanya Caisra tenang.
fadly disana menghela nafas mengepalkan tanganya." Loe bener-bener nggak tau Cleo dimana?”Tanyanya pelan.. sebenarnya ingin langsung memukul Caisar tapi ingat perkataan Caisar tadi membuat ia bertanya terlebih dahului. Ia tak mau semakin memperkeru suasana yang sudah jerni begini.
Caisar terdiam menatap Fadly. Ingin bertanya pada diri senidri apa tidak apa jika dia berkata pada Fadly soal ini? soal keluarganya? Ia takut nanti malah dibilang cari muka atau mau diibahi dikasihani kan oleh orang lain.
Puk.. bahunya ditepuk Alfi pelan. Alfi sebagai anggota intelegensi tau wajah tertekanya Caisar pun berkata.” Bilang aja sejujurnya. Kita pasti bantu kok.” Ia mempelajari banyak ilmu fisikologi, bagaimana gerak tubuh manusia. Ini tugas dan pekerjaannya.
Alfi sendiri bekerja sejak dari kelas 1SMA, sejujurnya awalnya ia hanya diberi tugas oleh pamannya tapi oh tapi nih ternyata baginya menjadi intelgen cukup menyenangkan dan ia suka. tugas pertamanya yaitu mencari dua anggota Napi yang kabur disuatu daerah dan tertangkap. Eh karena terasa seru ia pun melanjutnya hingga sekarang mau memasuki dua tahun lebih.
__ADS_1
Caisar yang tak punya pilihan lain pun menjawab.” Gue sama adik gue hidup berlima selama ini dan loe tau kan Fad.”Ujarnya Caisar memilih duduk. Semuanya ikut duduk melihat caisar yang bercerita. “ Dan beberapa bulan lalu mama sama papa gue dateng ngambil adik-adik gue dengan dalih mau memperbaiki problem yang mereka buat sama kami. Tapi gue nolak dan adik pertama gue nolak, jadi Cuma tinggal kami berdua dirumah. “Ujarnya pelan. “Gu-“
“Tunggu dulu. Bukanya loe bilang bonyok loe udah meninggoy?”Tanyanya Fadly menyela, ia masih sangat ingat ucapan Caisar saat ia dirumahnya dikalah itu. Jadi yang dimaksud Caisar mama papa siapa nih? Apa dia berdusta kemarin jika orang tuanya meninggal?
Caisra menatapnya dalam. “Mereka hidup Cuma raganya doang enggak sama hatinya.”Ujarnya Caisar dengan berat. Faro dan Alfi diam menatapnya serius.” Kami ditinggal pas kami usia kecil. Saat gue usia 8tahun, adik pertama gue 5tahun, adik ke2 sama 3 gue umur 2 tahun dan terakhir adik gue belum satu bulan dipasar malam. Mereka nyuru gue jual mereka.”
Semua tertegun mendengarnya.
Caisar mengepalkan tangannya.” Gue ngebesarin adik-adik gue sendirian dulu dibantu sama nenek Ana tapi Cuma dua tahunan selebihnya gue berjuang sendiri. Tapi mereka tiba-tiba datang mau bilang buat memperbaiki semuanya. Gue ngak jau tapi adik-adik gue mau.”
“GUE HARUS APA?”Jedanya menatap ketiga teman barunya.
” Gue nggak ada pilihan. Mereka orang kaya sedangkan gue nggak punya apa-apa. Mereka punya banyak uang jadi wajar mereka milih mereka disbanding gue yang nggak punya apa-apa ini.” Lanjutnya mengebu.
.
.
.
.
Ini sebenarnya nggak mau aku masukin scan. cuma nambah-nambahin part. cuma berhubung takutnya nanti kalian bingung kenapa mereka tau jadi aku masukin aja soalnya nanti ada dialog tentang hal yang bersangkutan....
Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak-banyak yah!
__ADS_1