
Gadis itui tersenyum masam mendengarnya.”Yaampun Caisar ini bisa dimakan nanti dirumah loh. Aku juga bawa kerupuk ubi dan tela-tela loh Caisar. Jadi nanti bisa dicemilin. Terima yuk.” Satu gadis lagi datang membawa dua bungkus keripik yang bisa Caisar tebak itu dibeli tapi mereka pindahkan kebungkus buatan. Ia tau ini bukan bikinan anak-anak. Licik sekali padahalkan diharuskan masak sendiri.
Ia menggeleng pelan. mau menjawab " Ka---"
”Kak Cai kok rasa pekempek kalian keras banget yah kak? Tadi kami buang ke dinding langusng mental saking kerasnya.”Ujar gadis yang datang membawa kotak pekempek yang dijual itru polos dan juga tersenyum manis lebih tepatnya caper.
Caisra mengernyit mendenarnya. “Bukan gue yang bikin. Tanya aja sama Santi dan kawan-kawan yang buat jadi jangan Tanya gue,.”Ujarnya disana dingin.
Santi yang dipanggil menatap sang pembeli.”Yah kami kan buat sendiri nggak kayak kalian yang beli terus jual lagi.”ketusnya Santi.
Gadis gadis disana menatap caisar.”Apa si kan kita bicaranya sama Ciasar bukan loe. Caper. Ayo dong Cai ambil ini..”Ujar gadis yang membawa coklat cake tadi memberikan tepat didepannya Caisar.
" Pergi...!!!" Caisar menggeleng menolak dan....
Brak..
Caisar disana tertegun melihat cake coklat itu di tepuk dan jatuh dikaki gadis tadi mengenaskan. Lalu dua gadis tadi terdiam melihat siapa pelakunya. Caisar mendongak melihat siapa pelakunya. Ia melotot melihatnya.
Disya yang membawa besi bisbol yang ia taruh dipundak menatap gadis itu tajam. Ia tak menatap Caisar sama sekali.”Mau cari mati loe?!!” Tanyanya datar kepada gadis pemberi coklat dan juga keripik
Gadis pemberi cake coklat gemetar. Kedua temanya yang juga memberi tadi mundur dan hendak kabur tetapi jadi diam ketika mata Disya menatap mereka satu satu. Sampai pada tatapanya pada Caisar yang bangkit melihatnya. Ia kembali menatap gadis itu dan.
Bugh... argg. Semua kaget pas Disya dengan keras memukul kakinya dnegan tongkat besi bisbol itu pada sang gadis yang hendak kabur. Gadis pemberi keripik.
“Disya kamu ngapain?”Caisra panic menarik dan menahan Disya menjauh. Disya disana diam menatap caisar tajam.
“Kenapa?”Tanyanya Disya pada Caisar pelan. Sangat pelan.
Caisra menatapnya nanar.”Kenapa apanya? Kamu yang kenapa? Apa-apaan si kayak gitu?” Ia melirik gadis yang memegang kakinya mengenaskan. Ia sudah terisak menangis kakinya membiru dan juga terkoyak saking kuatnya Disya memukulnya. Kakinya terasa patah. Bisa dipastikan bagaimana rasanya.
Disya diam menatap Caisar datar.”kamu kenapa Belain dia?” Tanyanya. Ia sudah melihat semuanya.. bukan sekali dua kali mereka mendekati Caisar. Bukan ia tidak tau, ia sangat tau hal itu. ia sudah muak jadilah begini. Kan sudah dikatakan ia jahat dan ia kejam.
__ADS_1
Caisar menatapnya dalam,.”Disya aku bukannya membela mereka tetapi aku tidak mau kamu terkena masalah..”Ujarnya jujur.
Disya mendnegarnya menatapnya tajam mencari kebohongan tetapi tidak ada, lagi pula sejak kapan Caisar berbohong dan juga membual. “Jangan pernah menyakiti siapapun didepanku Disya.. jangan. Aku tidak suka kamu terluka atau melukai orang lain.”Ujarnya pelan pada Disya nanar. Ia kaget melihat aksi nekat Disya.
“Jadi kalo nggak didepan kamu boleh?”tanyanya pelan pada caisar matanya bergelenyar menatap mata Caisar membiarkan mereka jadi tontonan geratis. Gadis yang ia celakai satupun tak ada yang berani membantunya. Mereka tau konsekuensi mencari gara-gara atau mencampuri urusan psikopat satu ini. Mata Disya menatap sang korban.”Dan loe denger? Pangeran gue bukan bela loe tapi dia nggak mau gue kena masalah. Dia juga nggak mau gue lukain loe depan dia jadi tunggu gue pulang nanti. Habis loe ditangan gue.”Ujarnya datar.
" Bukan gitu maksud aku Sa..."
Caisar kehilangan kata-kata dibuatnya. Bukan itu maksudnya. Bukan berarti Disya boleh melukai orang lain dibelakangnya. Disya disana menatap semua yang menonton jadi langsung bubar tak ada yang berani melihat. Disya menarik tangan Caisar menjauh Caisar menatap gadis tadi kasihan tapi tetap diam menenangkan Disya. Disya tidak pernah main-main dengan ucapannya bukan karena takut tapi ia lebih memilih diam saja. Diam bukan karena lemah tapi karena tau jika bicara tidak ada gunanya.
Disya menarik tangan Caisar ditaman, ia mendudukkan diri dirumput dan segera merebahkan tubhnya disisi Caisar. Caisar melihatnya diam. Disya meletakkan tongkat bisbolnya yang entah ia dapat dari mana disampingnya dan memejamkan matanya. caisar diam menatapnya dengan teliti. Ia mengusap pipi Disya. Disya terdiam tak bergerik.
"pipi kamu kenapa? Berantem lagi? ".
Caisar bagaikan ditengah novel yang bercerita seorang perempuan yang berpacaran dengan lelaki yang suka berkelahi atau badboy. Tetapi sekarang dirinya menjadi perempuannya dan Disya laki-laki bad nya yang suka berkelahi dan posesif. Jika dipikir-pikir lucu yah hehe,.
Disya menggeleng.”Ditampar sama papa.”Jawabnya pelan.
Caisar diam mendengarnya”Kenapa ditampar?” Tanyanya lagi.
“Dia gila..” Jawabnya berbisik.
Caisra menghela nafas bangkit dari sana. “Mau kemana?”Tangannya ditahan oleh Disya yang sudah membuka matanya.”Temenin Sasa.”Ujarnya lirih.
"Cuma mau ke UKS ambil obat buat kamu."
" Nggak usah. disini saja....!!!"
Caisar menatapnya menggeleng. Ia mau bertanya lebih lanjut tapi jawaban Disya yang singkat membuat ia ragu bertanya. Ia memgambil plester yang ada disakunya dan menempelnya dipipinya.
Disya membuka matanya.”Udah diobatin kan?”Tanyanya pelan. Disya mengangguk menatap Caisar dari bawah.
__ADS_1
Caisar jika dilihat dari bawah dia bagai peri yang bercahaya. Hidung mancung, wajah tampan dan juga hati yang bersih.”Kenapa bawa plester? Kamu terluka?”Tanyanya pelan. Jarang sekali Caisar membawa plester jangan-jangan dia terluka mangkanya dia bawa kan?
Caisar Menggeleng pelan.”Kamu setiap bertemu aku selalu terluka, jadi aku bawa untuk ancang-ancang takut kamu terkluka lagi. yah ternyata sama., kamu tetap luka tanpa aku tau apa penyebabnya setiap luka kamu.”Ujarnya pelan menggela nafas.Kadang aku membenci diri aku yang tidak bisa mencegah wajah cantik kamu terluka setiap saat. Apa hobby kamu terluka?”Tanyanya pelan. Disya diam tak menjawab sama sekali. Entahlah kenapa tapi ia hanya diam.
Caisar menghela nafas mendongak menatap buah rambutan yang sudah banyak matang diatas pohon.”Kamu mau makan buah rambutan?”Tanyanya pelan.
Disya mengernyit mendengarnya.”Rambutan? buah apa tu?”ia belum pernah memakan buah yang namanya aneh begitu.
Caisar terkekeh menunjukan diatas kepalanya yang sebuah pohon besar. Disya mengangkat stau alisnya.”Itu buah dimakan?”Tanyanya pelan.
Caisar mengangguk bangkit dan memanjat pohonnya.”Pangeran nanti kamu jatuh. Turun kita beli saja.”Ujarnya tak senang.
Caisar menggeleng.”Kamu tidak tau saja jika buah yang gratis dan hasil curian itu lebih nikmat.”Ujarnya terkekeh. Ingat masa kecilnya juga suka mencuri buah dari kebun orang-rang untuk adik-adiknya jadi ini bukan pertama kali ia melakukanya.
Cessy disana menghela nafas ia menatap Caisar intens. Sampai Caisar menjatuhkan banyak buah ia pun bangkit dna memungutnya menjadi satu.”Sudah Pangeran, ini sudah banyak dan lebih dari cukup.”Ujarnya pelan.
Caisar menatapnya mengangguk., sudah sangat banyak.
Hap. Ia melompat dan tersenyum kjepada Disya. Ia duduk disampingnya Disya yang mengumpulkan buah-buah itu.”Kamu benar-benar belum memakannya? Ini buah sejuta umat loh Dis. ? buah musiman juga?”Tanyanya yang dijawab Disya gelengan jujur.
.
.
.
.
.
Happy reading..!
__ADS_1