
Yaampun makin lama makin dikit yah yang baca. jadi mo cepet tamatkan rasanya, hahaha.
.
.
“ kak.” Dava bertanya pelan menatap disya menatapnya sekarang.” kalo semisal kak Kai nyakitin kakak apa kakak juga bakal nusuk atau bunuh dia?” Tanya Dava pelan. takut jika Disya akan melakukan hal serupa kepada kakaknya.
Disya berdehem pelan mengetuk pelan jarinya diatas karpet.” Yah.” jelasnya. Dava menegang menatap Disya yang mengangguk.” Yah Disya bakal bunuh Kai dan buat Kai mati.” Jelasnya. Jantung dava mencelos mendengar ucapan disya.” Tapi setelahnya Disya juga bakal bunuh diri. Soalnya Kai itu ibaratkan rumah Disya. Kalo Kai mati Disya nggak punya rumah, kalo Kai nggak mati Disya sakit. Jadi sama sama mati saja biar tidak ada saling menyakiti. Disya sayang sama pangeran, dan Disya tidak mungkin bisa hidup setelah bunuh pangeran.” Jelasnya sendu kepada Dava.
Dava mendengar ucapan Disya menjadi terdiam, tak tau bicara apa, rasanya kelu. Disya merapatkan kakinya dan menaruh kepalanya di atas lutut.” Kalo pangeran pergi Disya sendiri. Disya nggak mau sendiri, sendiri itu sakit, sepi. Disya nggak mau sendiri lagi.” biskk Disya lirih dan nanar. sampai air mata Disya jatuh saat usia mengatakannya.
Sebelum bersama Caisar. Ia selalu sendiri, di rumah ia sendiri usai bertengkar kepada ayahnya, lalu di sekolah ia juga sendiri karena tidak ada orang yang mau berteman dengannya. Ada kakaknya jeff yang takut kepada Disya dan mengatakan Disya aneh, tapi Jef tidak tau sumber masalah kematian ibunya, itulah alasan Jef selalu mnengatakan jika Disya kelainan. Saat Disya mengatakan kepada dia sejujurnya tentang kematian orang tua alias ibu mereka. Jeft akan marah dan mengatakan jika disya tidak bisa menerima kenyataan jika mama mereka sudah meninggal.
Tapi saat bersama Caisar, mau bagaimanapun sikap dia. Caisar akan selalu memeluknya, membujuknya. Saat pertama kali diberi bekal tanpa diirnya minta Disya merasa ia tidak lagi sendiri. Dulu pertama kali ia bersama caisar mungkin karena paksaan, tapi selebihnya ia nyaman. Bukan hanya sarapan, Caisar juga menyetrika bajunya dan mencucinya padahal bajunya banyak darah usai ia berkelahi.
Tapi saat itu Caisar bukan marah dirinya berkelahi, melainkan ia bertanya apakah Disya terluka? Lalu mengatakan pelan ‘ jangan bertengkar lagi, aku enggak mau kamu terluka,’ itu kalimat yang selalu Disya nantikan,.
Bukan malah diomel dan bentak, tapi Caisar selalu memberikan dirinya pengertian dari sebuah kata jangan dengan hal yang lebih halus.” Disya berantem terus, kalo ada apa apa Caisar sedih. Kalo Disya sakit Caisar juga sakit. |’ dari sana Disya tau jika ia punya seseorang yang bisa memberikan dirinya pengertian untuk tidak melakukan hal hal yang di ucap Caisar.
Pernahkah kalian mendengar Disya melakukan pembulyan atau bertengkar usia bersama Caisar? Pernah hanya saja itu karena mereka yang duluan, bukan dirinya yang memulai kan? karena Disya tau jika ia melakukan semua itu Caisar akan ikut khawatir dan sedih.
Disya punya papa, tapi saat ia berkelahi papanya akan marah dan membentaknya. Ia punya kakak, saat dirinya melakukan kesalahan kakaknya hanya akan diam dan membiarkannya saja,. Rasanya beda. Disya punya hal yang ia sayangi, harus ia peluk dan jaga. Disya tak ingin kehilangan pangeran bagaimanapun caranya.
Dava melihat Disya yang memeluk dirinya sendiri, pelan pelan memeluk Disya meski ragu. Disya menoleh menatap Dava yang memeluknya. Dava menatap lain arah.” Kakak punya Dava, Cleo juga kok. Kakak punya kami dan kami nggak akan ninggalin kakak.” jelas Dava kepada Disya.
Disya tersenyum dan mengangguk dipelukan Dava. Tiba tiba ada tangan lain yang juga memeluk Disya dan Dava. Keduanya melihat kearah tangan tersebut, ada Farel yang tersenyum lebar menatap keduanya.” Sayang sayang sayang. Farel sayang kak Disya.,” ujarnya semangat dan tersenyum lebar.
Dava menatap farel kesal.” Tidak sayang Dava?” tanyanya.
__ADS_1
Farel menatapnya rumit.” Sarang Dava juga.” Ujarnya bertepuk tangan.
Disya terkekeh pelan dan memeluk keduanya. “ Disya sayang kalian juga.” Ujar nya kepada Dava dan Farel. Farel disana tertawa keras dan menaruh kepalanya di leher disya. Disya terkekeh geli. Ini rasanya punya adek dan keluarga? Haha ternyata bahagia orang orang itu punya porsi masing masing yah? ada orang tua memang menyenangkan dan bahagia.,
Tapi bukan berarti yang tidak punya orang tua itu tidak bahagia. Mereka juga bahagia tapi dengan apa yang mereka miliki. Disya merasa tidak lagi meminta ayah atau ibunya kembali, hanya minta agar tetap seperti ini. ditengah orang orang baik, meskipun dirinya orang jahat,
Di balik pintu ada Dwi yang mengusap air mata yang jatuh. Dwi tersenyum senang, keluarga Caisar mungkin memang tidak ada ayah sebagai tulang punggung, dan ibu sebagai arahan untuk anak anaknya. tapi mereka punya Caisar yang mampu di kedua duanya. Mereka mungkin kekurangan kasih sayang orang tua, tapi seperti nya kasih sayang orang tua bukan lagi yang mereka inginkan, melainkan hidup selalu bersama dan bahagia saja sudah cukup.
Dwi melangkah masuk membuat ketiganya melepaskan pelukannya. Dwi tersenyum lebar.” Kalian pelukan kenapa ini hayo? Kok pada nangis nangis sih?” Tanya Dwi mendekat dan menauh gorengan yang ia pegang tadi di depan Disya dan Dava, Farel
Disya berdehem pelan.” ini Dava nanya terus.’' Jelas Disy pelan. Dava mendelik tapi tak mengapik, karena dirinya memang bertanya terus, tapikan bukan itu yang membuat Disya menangis. Sedangkan Dwi mendengarnya malah terkekeh.” Mama hari ini masak perkedel tahu ayam, kalian mau coba? Ini mama taro yah.” ujarnya.
Dwi memberikan gorengan juga pada Farel. Farel diam menatap perkedel yang diberi ditangannya mengerjab.” Namanya perkedel ayam tahu, rasanya enak. Kamu bisa makan.” Ujarnya dengan gaya bahasa tubuh.
Farel mendengarnya tersenyum lebar. “ dimakan?” Farel menunjuk mulutnya.
Dwi mengangguk “ iya dimakan kayak gini. Nyam nyam.” Dwi mempraktekkan memakan perkedel langsung dan Farel mengikutinya.
Dwi tertawa mendengarnya mengusap kepala Farel senang.” Iya enak.” Ujar Dwi semangat. Farel memakan satu sekaligus kedalam mulutnya tapi ditahan oleh Disya.
Disya melotot.” Nanti keselek.” Ujar disya melotot.
Dwi disana menggeleng menahan Farel.” Makannya pelan pelan, nanti batuk jadi sakit.” jelas Dwi. Farel di sana berdehem dan mengangguk. Tapi saat tangan Disya terkepas ia masih memasukan satu buah tok ke dalam mulutnya. Disya dan yang lain gelagapan dibuatnya.
Farel makan dengan semangat berhenti dan memuntahkan perkedel di dalam mulutnya. Disya dan Dwi melotot menatap Farel menjulurkan lidahnya.” Terbakar lidah farel.” Ujarnya.
Dwi Dava dan Disya tertawa terbahak mendnegarnya, yaampun Farel menggemaskan sekali. Lihat Farel yang masih mengambil perkedel yang ia lepehkan dan ia makan secara pelan pelan.
“ yang baru saja itu kotor.” Ujar Dwi kepada farel.
__ADS_1
Farel menahan perkedel ditangannya.” Tidak kotor, tidak ada debu dan tanah.” Ujarnya.
Disya dan Dava menatap farel berbinar. “ weah sudah banyak tau yah bicaranya.” Ujar Dwi kepada Dava.
Dava mengangguk tersenyum senang.” Sepertinya jika untuk bahasa Farel masih banyak yang tau Cuma pengulangan kita yang mengajarkannya.” Jelasnya. Dwi tersenyum hangat. Syukurlah jika begitu. Semoga farel lekas membaik.
Cessy berjalan pelan memasuki sekolahnya,. Menaruh sepeda listriknya di dekat gedung. Saat masuk ada beberapa orang yang melihat Cessy dengan binar. Cessy termasuk salah satu lelaki tertampan di sini. Hanya saja paras cantiknya tidak bisa di sembunyikan meksipun dirinya tutupi sekalipun,
“ Morgan..” Cessy melirik kebelakang., mengernyitkan dahi melihat ada Alice yang datang menghampirinya menggunakan baju sekolah yang sama dengannya.
Lalu di susul oleh Bram dan Alea yang mendekatinya. Saat ini Cessy menatap ketiganya heran dan bingung. Alea tersenyum kepada Cessy.” Pagi Morgan...Morgan Alice mau masuk skeolah lagi tapi satu sekolah dengan kamu. Kamu mau kan jaga Alice?” Tanya Alea dengan tenang.
Alice mengernyitkan dahi pelan. Alice tersenyum lebar.” Ih tidak usah di jaga Lia kan sudah besar.” Ujar Alice kepada mamanya malu.
Mamanya hanya tersenyum tipis kepada sang anak. Bram di sana juga menepuk pundak Alice. Ia menarik cessy menjauh sedikit dari alice membuat Alice menatap keduanya heran, ingin ikut tapi ditahan Alea.
Cessy diam menatap Bram yang di depannya. Bram berdehem pelan.” saya minta untuk kamu menjaga Alice di sekolah ini.” jelas Bram tegas dan juga helaan nafas rendah.
” Alice setuju akan melanjutkan pengobatannya dan oprasi di bulan depan, tapi dengan syarat ia akan di sekolahkan dengan kamu. Kami menyetujuinya.” Tegas Bra,m dengan pelan.
Bram menatap lain arah pelan menuju ke arah Alice yang menatap mereka binging. Cessyy menganggup pelan mendengar ucapan Bram. “ oprasi kali ini berlangsung Transplantasi jantung untuk Alice, “ Cessy mengerjab menatap Bram yang menatap ke depan nanar.” dan resikonya hanya dua, gagal dan berhasil. dan itu lima pulih persen masing masing resiko. Awalnya kami menolak akan oprasi ini karena kecil harapan nya. Tapi alice benar benar semangat dan ingin sembuh, ia setuju oprasi yang diopsi oleh dokter. “
Bram melirik Cessy nanar dan lembut.” Dan saya yakin tu karena kamu, Morgan saya tidak tau jika anak saya bisa jatuh cinta dengan kamu sejauh ni, tidak tau ini adalah berkah atau sebuah petaka. Saya harap kamu bisa beri yang terbaik untuk anak saya sebelum oprasi yah. “ jelasnya.
Cessy berdehem pelan. mengangguk ringan menatap Bram dan Alea.” Saya akan menjaga alice meksipun tanpa anda minta pak.” Jelas Cessy tegas. Cessy menatap Bram rumit.” Dan kalian salah paham, sebenarnya dia jatuh cinta dengan Kakak saya bukan saya.” Jelasnya pelan.
Bram mendengarnya melebarkan matanya.” kakak kamu” Tanya bram.
Cessy berdehem.” Dia menyelamatkan Alice saat alice di Indonesia waktu lalu, karena itu alice menyukai kakak saya. Untuk lebih jelasnya bapak bisa tanyakan langsung dengan putri bapak.” jelas Cessy.
__ADS_1
Cessy agak panic jika Alice menyukainya. Bukan apa apa, dirinya ini perempuan juga. Apa tidak sakit hati Alice dirinya mencintai sesama wanita? Dan Cessy juga normal. Menyukai laki laki.!