
Gaya haha maafkan aku yang salah up hehe... Btw emng kmren lagi nggak ada sinyal jadi lelet bngt buat bukan NOvel Toon... Itu aja aku makek thatring mbak. wkwkwk...
E BTW tadi udah aku perbaiki jadi baca lagi aja yahhh.
.
.
Tatapan tajam Ardian menatap proposal Caisar pemuda yang baru saja sudha selesai presentasi tadi. Sekarang semuanya sudah bubar, ia masih mengecek proposal yang tadi ia pegang. Ia melirik tangan kanannya.,” Herry kau yakin jika dia benar-benar yang membuatkan projek ini???" Pada Faktanya proposal itu hampir sempurna, bahkan tidak mungkin dibuat oleh orang yang masih sangat muda dan bermultitalenta nya Caisar. Yang faktanya baru saja terjun didunia perbisnisan.
Herry tangan kanan yang berusia 2tahun itu melirik proposal yang Andri tanyakan.”Saya sudah mencari tau tuan tapi memang benar adanya itu dia sendiri yang bikin, dan sekarang dia yang menjadi presedir utama dari Perusahaan Grambel.” Ia sudah mencari informasi dimanapun dan itu fakta yang ia dapatkan. Ia sendiri sejujurnya juga tidak percaya jika itu yang membuatnya adalah caisar tetapi fakta lain membuat ia kaget. Itu memang benar-benar Caisar punya.
Andrian mengangguk lalu memberikan proposal itu pada tangan kanannya.”Beri dia projek ini. aku cukup tertarik dengan dirinya.”Ujarnya lalu meminum kopi yang diatas mejanya. Ia menghela nafas entah kenapa ia bisa percaya pada anak yang bahkan usianya masih usia puber. Tetapi pesona dan pemikiran Caisar baginya bukan main sangat bagus. Tak banyak yang berfikir luas tetapi caisar sudah memikirkan banyak hal. Caisar itu cukup berpotensi.
__ADS_1
Herry menengarnya mengerjab.”Tuan, saya akui jika proposal dana projeknya sangat bagus, tapi apakah tuan tidak ingin berfikir lebih untuk hal ini? ini menyangkut prokjek besar kita tuan. Jika kita salah pilih kita akan rugi besar... maaf bukannya saya menghina dirinya atau apapun itu tetapi dia belum memiliki pengalaman yang bagus untuk hal sebesar ini.”Ia mengatakan hal yang benar. Proyek ini menghabiskan modal lebih dari ratusan miliyar bayangkan jika gagal? Apakah itu tidak akan rugi besar?
Andri menatap bawahannya tajam.”Percayakan padaku. aku tau yang mana bisa dipercaya dan yang mana yang tidak.. “Ujarnya tegas, ia sosok yang tidak suka dibantah. Lebih tepatnya hampir semua bos besar itu tidak suka dibantah atau diselisi oleh bawahanya sebab meraksa jika dirinya jauh lebih perhitungan dan penuh pertimbangan.
Herry hanya menghela nafas dan berkata.”Baik tuan, saya akan kirimkan berita ini dipertemuan berikutnya..”Ia sebenarnya tidak setuju melihat usia Caisar yang masih sangat muda dan lagi bahkan Caisar belum lulus dari sekolahnya. Ia jadi kurang yakin hemm.
Lagi lagi ia harus sadar jika dirinya hanyalah bawahan. Hey dia tidak memiliki kekuasan yang besar untuk pilihan.
Disisi lain sosok yang dibicarakan kembali menghela nafas saat pulang kekosan ia mendapatkan Disya yang tidur dikasurnya, dengan wajah yang lagi-lagi penuh lebam dan juga penuh luka. Entah mengapa ia merasa sakit melihat gadisnya begini terus.. ada apa gadisnya ini? ia ingin tau tapi ia tidak bisa bertanya.
Disya yang merasa dingin dan ada yang menyentuhnya bangun segera, ia menghela nafas saat tau jika itu Caisar. Caisara melihat Disya bangunpun diam membersihkan luka Disya.” Pangeran udah pulang? Maaf yah aku ksini nggak kasih kabar malah langsung tidur tanpa izin.”Disya mengatakanya sedikit merasa bersalah karena melihat wajah Caisar yang suram dan terlihat marah.
Caisar diam mengobati luka-lukanya. Disya menatap aura Caisar yang beda mengernyitkan dahi tapi ia sendiri tdika meringis lukanya yang diobati.”Pangeran kenapa? Pangeran terlihat marah?”
__ADS_1
Caisra mendengarnya menatap disya dalam dan juga datar.”Kamu kenapa si Sa? Suka banget luka, setiap ketemu aku kamu luka, luka disini luka disana. kamu cewek loh Sa nggak baik kalo begini.” Ia mengatakanya terdengar sangat khawatir. Sungguh ia sangat khawatir.
Disya mendengarnya tertegun, jadi Caisar marah karena dirinya luka. Apa pangeranya khawatir?
“Papa mau nikah sama selingkuhan dia, jadi aku berantem dan mau pergi dari rumah. Aku dikurung tiga hari ini dirumah karena mau kabur, tadi aku mau kabur lagi papa nyuruh orang buat nahan aku. Jadinya kami berantem. ” Ia bercerita dengan pelan. ia takut,. Air matanya terasa hendak turun lagi tapi ia tahan., ia tidak boleh lemah.
Caisar mendengarnya terdiam sebentar. Ia menaruh kompres itu disisinya.. ia mengambil alih sisi Disya dan memeluk kepala Disya dalam, “AKu tidak pernah tau apa masalah kamu, tapi aku sudah menjadi bagian dari kamu Sa. Kamu bisa menceritakan semua masalah kamu biar aku bisa bantu, kamu selalu tau apa masalahku dan membantuku, akupun mau juga begitu.” Ia merasakan jika Disya seongok manusia tampa rasa, ia seperti bukan manusia normal yang bisa merasakan sakit yang terlalu dalam lagi, sebab mungkin karena hatinya yang sudah mati atau karena memang dirinya tidak menganggap manusia adalah manusia lagi?
Disya mendapatkan pelkukan menenggelamkan wajahnya didada Caisar. Bau maskulin dari baju kemeja putijh Caisar sangat membuat dirinya nyaman dan tenang, sudah menjadi candu ketika ia mendapatkan masalah. Ia menghela nafas.” Aku akan cerita..”Ujarnya.
Caisar merapikan rambut Disya yang mengganggu luka Disya. Ia mengambil ikat rambut Cessy yang memang ada banyak disana. ia mengambil sisir dan duduk dibelakangnya Disya.”Yahh ceritakan... biar kau mendengarnya.” Ujarnya.
Disya yang diperhatikan oleh Caisar begini terasa hendak menangis, jujur dirinya tidak pernah mersa sesedih ini saat dipukul, dibuang, ditampar bahkan dihina oleh orang lain. Hatinya terasa sangat busuk, akan tetapi hanya karena Caisar menyentuh wajahnya dan merapikan rambutnya menyisir rambutnya lembut. Memperlakukan dirinya seperti wanita yang sangat disayanginya membuat ia luluh, ini harapannya sedari kecil yang ia tak ungkapkan. Air matnya terasa ingin jatuh. Ia tidak pernah dibeginikan dari kecil. Ia ingin menangis bukan karena membenci melainkan kasihan pada dirinya sendiri kenapa juga dirinya bisa menangis hanya karena dilembutkan.
__ADS_1
Caisra merapikan rambut Disya dengan sisir dna juga mengucirnya tinggi. Disya menghela nafas dalam dan mengusap air mata yang jatuh. Ia tidak boleh terlihat menyedihkan.”Waktu kecil aku punya keluarga yang tidak cukup bahagia.” Ujarnya pelan ia memberi jeda bercerita mengingat saat dimana ia kecil. Ia menatap kedepan dengan tatapan dalam menatap masa lalu dan Caisar yang mendengarnya dalam diam.
Disya anak dari orang tua yang tidak bahagia, setiap hari diusia kecilnya selalu mendengar ibu yang menangis setiap malamnya, meratapi nasib, ibunya suka membentak atau memarahinya dikalah kecil dikarenakan ia yang selalu mengintip ibunya menangis. Usianya dikalah itu masih menginjak lima tahun. disya kecil yang polos tidak tau apa alasan ibunya menangis setiap harinya, yang ia tahu ibunya sangat sedih dan terpukul. Ia tau dan ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.