Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Hampir


__ADS_3

Happy Doble Up ..! Yee author yang bikin nangis dia bab ini .. Jadi kalo nggak nangis brrti hidupnya pahit hikshiks


.


.


”Apakah masih ada harapan buat adik kami selamat?”tanyanya. ia sudah menganggap Rafa adiknya meski ia pernah dihina.


Dokter menatap Disya dengan nanar. Ia mengusap air matanya. Dadanya ikut sesak melihat kakak-beradik ini. "Nona, kemungkinan selamat sangat kecil, jikapun beliau selamat kami tidak tau sampai kapan beliau akan bangun, itu dikarenakan jantungnya yang sudah sakit terguncang parah mengakibatkan kecacatan Dalam berkerja dan menjadikan penghambatan dalam bernafas dan aliran darah. Dan jikapun beliau bangun, kami tidak bisa jamin beliau akan sama seperti dulu lagi,. setidaknya beliau akan cacat dan juga geger otak.. Otak beliau tak akan berfungsi dengan baik lagi.. bahkan tak bisa mengunyah makanan dnegan benar. Karena rusaknya otot otak yang bekerja." Ujarnya dokter bergetar. Sebenarnya ia tak tega mengatakan ini. tapi ini kenyataannya.


Disya tak kuat Caisar dan Cessy yang mendengarnya tak kuat. Cessy jatuh pingsan karena tak bisa menerima kenyataan. Disya melihatnya kalang kabut .


Caisar menarik nafasnya pelan.”Yatuhan.. apa salah adik saya Tuhan..”Gumamnya memukul dadanya pelan. Rasanya nafasnya saat ini sangat suah ia hirup. Sangat susah untuk ia bernafas.


“Dok tolong bantu adik kami dok.. bawa keruang rawat dok.”Ujar Disya. Caisar seperti kehilangan dunianya, ia bahkan tak sadar Cessy pingsan, tatapannya kosong. Nafasnya tersendat-sendat tak bisa menerima kenyataan. Entah rasanya sangat sulit. Dunianya seakan runtuh.. Disya melihatnya menepuk pelan pipi Caisar. Ia takut.


"Pangeran.. hey bangun.. pangeran..!!” Ujarnya gemetar takut.

__ADS_1


Caisar disana menarik nafasnya pelan.”Sakit.. rasanya sempit banget Sa..a aku nggak bisa nafas Sa.”Ujarnya Caisar dnegan tatapan kosong menepuk dadanya pelan. Disya melihatnya sangat takut. Caisar kehilangan jiwanya. “Sa sakit sekali Dis.. Tolong ini rasanya sesak..”Ia menangis dengan dalam sampai tak lagi bersuara dan terhenti dengan wajah yang sudah diluar kendalinya. Seakan tak lagi bernyawa.


“Dokter..!! dokter... tolong dok..!!! dokter..”! Teriak Disya membawa Caisar mendekat. Ia sagat panik lebih panik dari Rafa tadi. Caisar merasa jantungnya berhenti berdetak, berhenti bernafas saking sakit dirinya mendengar kabar. Disya kalut hingga dokter baru sudah menangani Rafa didalam keluar.. disya disana menatapnya penuh perintah.” Bawakan dia.. tolong bantu aku.. dia kehilangan nafasnya dok..!!” Teriaknya brutal.


Dokter disana mengangguk membantu Caisar membawanya ke ruangannya. Disya menggigit bibir bawanya lapu mengusap kepalanya. Ia mengusap rambutnya dengan gemetar. Ia berjalan menuju kearah ruangan dokter tadi, disana Caisar ditidurkan dan dokter memencet dadanya. Disya melihatnya dalam nanar dan juga rasa takut..


Takut hari dimana ia kehilangan orang yang paling ia sayang itu kembali, ia sangat takut kembali ditinggalkan oleh orang yang paling ia sayangi, ia tak lagi bisa berdiri tegak. Ia duduk bersandar didinding menggigit kukunya menatap Caisar yang ditangani. Tangannya gemetar takut tapi ia bersuara bertahan.


Terlihat Caisar disana diberi nafas buatan dan juga dadanya terus ditekan untuk memancing jantungnya untuk kembali berdetak. Dokter tak segan memberikan beberapa kali nafas buatan.


Tapi bayangan itu menghantuinya. Ia tak kuat, ia harus peri mencari cara untuk menyadarkan diri. Yah toilet. Ia segera berlari dengan kaki yang seperti jelly. Telinganya berdengung seperti mesin rusak.


“Argh..”Ia menahan nafasnya pelan memasuki toilet. Mengambil satu bilik dan terduduk diatas closed. Ia mengeluarkan satu Carter yang selalu ia bawa didalam bajunya.. ia menatapnya dan juga me,buka perutnya. Ternyata ada banyak luka disana.”Sadar Sa sadar. Ini bukan masa lalu... Caisar nggak bakal ninggalin loe.”Gumamnya gemetar. Tangannya gemetar menekan Carter itu diperutnya sampai ia bisa merasakan rasa sakit tapi bersamaan dengan rasa nikmat baginya.


Argh... ada rasa lega. Desiran darahnya terasa mengalir mengalihkan kehilangan jiwanya. Ia terkekeh dan tersenyum pelan, ia menatap darah itu dengan bahagia lalu kembali menggoreskan tangannya.. ini menyadarkannya jika ia masih hidup dan dia didunia nyata. Dia sudah besar.. yah ini yang ia gunakan ketika dia masih teringat masa kecil yang suram itu..


Ketika sudah lega ia bersandar didinding. Tubuhnya terasa lemas, ia mengatur nafasnya dengan pelan menatap darah yang terus jatuh. Ia mengambil tisu dan menaruhnya diatas perutnya.. ini enak. Lalu ia mengambil air dam menyiram lukanya. Sangat sakit tapi ia butuh rasa sakit ini untuk menyadarkannya sebelum kewarasannya hilang. Ia butuh rasa sakit untuk meyakinkan dan mempertahankan kejiwaannya

__ADS_1


Tak berselang lama rasanya sudah selesai. Mungkin menghabiskan tiga pulih menit ia pun keluar dengan wajah datar. Ia menutup lukanya dna menekannya. Ia tersenyum, rasa bebas dan sudah bisa mengendalikan dirinya. Jiwanya kembali. Ia disana dnegan pelan mengenakan bajunya dan roknya. Ia menekan lukanya dengan tisu setelah darahnya kembali mengeluarkan darah meski tak sebanyak tadi. Ia mengambil hansaplas disakunya. Ia menaruhnya diperutnya supaya tak berdarah lagi. barulah ketika sudah beres ia pergi menemui Caisar.


Ia menyusuri jalan dengan sedikit susah merasakan perih diperutnya, tapi ini obatnya. Sampai didepan ruang dokter ia melihat Caisar yang dibaringkan keranjang dengan oksigen yang menutupi alat pernafasannya. Ia mendekat ketika dokter memberikan suntikan.”Bagaimana keadaannya dok?”Semakin cemas dirinya semakin lalu tekan luka itu intuk mengendalikan dunia jika dia baik-baik saja.


Dokter lihat tersenyum.”Untunglah nona tidak terlambat.. andai terlambat sedikit saja kita akan kehilangan nyawa dari pasien.”Ujarnya Cessy disana tegang namun juga ada sisi lega, tegang karena takut kehilangan Caisar dan lega Caisar tidak kenapa-napa.


“Lalu ?”tanyanya mencoba tenang


Dokter menyuntik Caisar pelan. Ia menghela nafas.,


” Dia mengalami tekanan yang berat ternyata. Nona tau?”tanyanya. Disya Menggeleng kaget.”Dia mengalami tekanan berat dalam hidupnya,. Dan tekanan itu semakin membuat ia tertekan setelah mendengar kabar yang membuat dirinya merasa dirinya tak lagi hidup. Ia sesak nafas dan ia mengalami perhentian jantung secara mendadak karena kabar yang dia terima menghantam dirinya begitu berat. Batin dan fisiknya tidak menerima kabar tersebut sehingga membuat dirinya tak bisa mengendalikan diri dan rasa tekanan itulah yang mengendalikan dirinya. Psikisnya sedikit terganggu nona,. Tapi syukurlah tadi kita tidak terlambat.”Ujarnya pelan menjelaskan pada Disya.


Disya mengangguk dengan pelan, ia tak tau apa-apa mengenai Caisar. Ia baru tau Caisra memiliki tekanan. Kenapa semua dari mereka tertekan? Farel? Cessy? Oh yah. bagaimana mereka berdua? Apa mereka baik-baik saja?


“Jika begitu saya permisi dulu nona,, sebentar lagi waktu kerja saya selesai. Nona dan temanya bisa diruang saya dulu sebab jika mau ruang pasien tadi tidak memungkinkan, saya takut terlambat, sedetik saja teman nona bisa kehilangan nyawanya. Saya mau pulang dulu. Jika membutuhkan sesuatu nona bisa memencet bel yang berwarna merah disana.”Ujarnya menunjukan bel merah dekat meja.


Disya mengangguk.”Terimakasih pak.”Ujarnya lega. Ia memilih duduk ketika dokter tadi pergi menyusun alat-alatnya. Disya menatap jam yang ternyata menunjukan jam setengah 10. Akh wajar saja mereka pulang. Memang sudha waktu pulang toh..

__ADS_1


__ADS_2