
Ditengah jalan Disya terdiam sebentar melihat ditokoh baju ternama disana, tokoh yang tertutup kaca membuat ia bia melihat siapa yng membeli, “Disya..!!!” Teriakan Jefff yang sudah disampingnya Disya. Nafasnya naik turun.”Maafin kakak yah kakak salah.”Ujar Jeff.
Namun tak ada sahutan dari Disya. Ia melihat dimana tatapan Disya hingga tatapannya tertuju pada insan yang Disya lihat. Sosok yang Disya lihat pun tertegun ketika mendengar nama yang familiar itu..
Dugh... matanya tertabrak dengan tatapan itu, tatapan yang tajam dan juga penuh kebencian.
Sedangkan disisi lain sosok pria paru baya yang sedang berada ditokoh dikagetkan dengan seseorang yang memanggil nama putrinya. Ia sangat familiar akan suara dan segera ia menatap asal suara..
Dugh... matanya melotot menatap didepannya ada sosok yang sangat ia kenali. Itu putrinya dan putranya..!! jarak mereka sangat dekat hanya beberaoa meter saja dan dihalangi oleh kaca saja.
“Sayang.. aku mau yang ini bolehkan?” Kesadarannya ditarik paksa oleh suara seseorang disisinya. Sosok wanita itu menggelayut manja didada bidangnya dan mencium pipinya. Itu semakin membuat ia kaku, ia mengangguk pelan saja dan menatap kearah anaknya. namun anaknya sudah tidak ada lagi disana. Darahnya berdesir takut, denyut nadinya melemah entah bagaimana getaran jantungnya lebih berdebar dar biasanya. Dimana anaknya tadi?
Dilain sisi sosok Disya sekalipun terdiam mengepalkan tangannya, ia membenci ayahnya.!!! Itu tadi ayahnya yang bersama wanita lain.
“Disya... dekk kamu nggak apa-apakan?”Tanya Jeff khawatir,. Disya disana diam saja dengan pandangan merah dan kosong. Sedangkan pikirannya kemana-mana dan lebih parahnya bertuju untuk membunuh ayahnya
__ADS_1
Jeff disana gusar meluhat Disya yang kosong,ia ingin meminta bantuan tapi dengan siapa? Ia sejujurnya sudah tau ayahnya memiliki kekasih. Iapun tak memiliki masalah akan hal itu hanya saja entah kenapa Disya tak setuju. Ia bahkan mengancam ayahnya jika berani menikah lagi maka ayahnya harus angkat kaki dari rumah meningalkan semua asset keluarganya. Ayahnya yang awalnya mau menikah lagi jadi tidak berani.
Apakah kalian befikir kenapa ayahnya tidak membunuh Disya saja? Hoho dia tetaplah seorang ayah yang tidak tega membunuh anaknya. Tapi alasan lainnya karena semua usaha dan asset keluarga Disya sudah ada ditangan orang kepercayaan keluarganya. Jika Disya mati maka itu akan pindah kepada Jeff dan jika jeff meninggal maka akan diserahkan pada panti asuhan. Itu tidak bisa digangu gugat membuat ayahnya Disya tak berkutik sama sekali.
“Dek berhenti egois..!!” Bentak Jeff pada Disya dutengah loby menuju parkiran. Disya mendengarnya terdiam menatap kakaknya. Jeff menatap adiknya marah.”Ayah berhak bahagia. dia berhak nentuin pilihannya. Loe jangan egois deh, dengan loe kayak gini loe pikr loe hebat dan loe berkuasa? Gue muak sama loe. Gue muak sama kelakuan loe yang semena-mena.. mama udah lam—“
“DIAM..!!” Bentak Disya keras memotong ucapan Jeff. Jeff diam menatap adiknya yang ikutan marah. Tangan Disya terkepal, matanya memerah, dadanya kembang kempis karena menahan gejolak memukul kakaknya.”Loe enggak tau apa-apa.. loe enggak tau apa-apa jangan sok tau dan seakan gue yang paling salah disini.. “Ujarnya berteriak pada Jeff.
“Gue ngingetin loe dek.. ayah berhak punya pilihan. Loe mau ayah hidup dengan kesepian, dia lelaki dewasa yang butuh kehangatan dan enggak selalu sendiri. Dia butuh seseorang dek.”Ujarnya Jeff lirih mencoba mengerti kan adiknya.
Disya tergelak kencang. Suaranya menggema dilobby membuat beberapa orang yang masuk dan keluar meliriknya. Suara tawa itu terhenti dengan wajah datar.”Gue ulangin sekali lagi. loe enggak tau apa-apa jadi diam..!!! gue emang jahat, gue yang paling sok berkuasa. “Ujarnya dingin penuh penekanan.
Disya disana mengangkat bahunya” Gue enggak peduli. Yang penting nggak ada alasan buat mereka bahagia, termasuk ayah..!!! tua Bangka itu jika mau menikah saja kenapa juga menunggu gue. gue nggak peduli juga..Ujarnya pelan meningalkan Jeff. Jeff mengepalkan tangannya erat menatap sang adik menjauh.a adiknya terlalu egois, adiknya selalu menghalangi kebahagiaan sang ayahnya maupun dirinya sebagai kakaknya. Disya terlalu egois.
.......
__ADS_1
Pagi ini berbeda dengan pagi biasanya. Hari minggu membuat Caisar dan para adik dirumah. Caisar hari ini berniat akan kerja seperti biasa dihari libur. Yah dia bekerja menjadi tukang parkir dipasar dikarenakan disini paarnya seminggu sekali. Yaitu dihari sabtu saja, sedangkan dihari minggu Caisar akan bekerja menjadi kuli panggul. Itu cukup menghasilkan uang. Nah jadi kuli panggul itu ia memang ditengah pasar, tapi itu pasar berada dikota. Ia harus mengenakan angkot beberapa menit dan baru bisa sampai. Disana biasanya Caisar lumayan mendapatkan uang di area pasar loak atau elektronik yang kekurangan pekerja. Alasan kenapa Caisar tidak bekerja tetap disana dikarenakan Caisar tisak bisa setiap hari. Jadi yah gini setiap sabtu dan minggu pasti ia akan kerja serabutan.
Nafas Caisar terasa berat merasakan perutnya lapar tak terisi, ia pagi ini tak makan sarapan karena tau jika berasnya hanya ada dua gelas yang artinya tak akan cukup untuk mereka berlima, itu hanya cukup untuk adik-adiknya sedangkan ia tak punya uang, akh bahkan adiknya saja mungkin tidak cukup. ia tadi hanya memakan nasi gosong yang ada dipinggiran panic yang ia masak lalu ia rendamd engan air lalu ia makan. Hanya itu tapi hari ini sudah pukul dua tapi ia belum makan. Rasanya sangat sayang jika makan dua kali sehari ini sedangkan ia butuh beras dan lauk pauk. Maklum ini kahir bulan jadi uangnya sudah banyak habis.
Sudah biasa..!
“Dek.. kalo capek istorahat saja dulu, jangan dipaksain nanti kamu sakit.”Ujar ibu-ibu penjual ayam disampingnya Caisar yang baru saja mengangkat barang ibu-ibu.
Caisar tersenyum.”Iya buk,, sekali pelanggan lagi hehe.”Ia baru mendapatkan uang 40ribu, jika ia makan nanti akan kurang uangnya jadi ia berniat mendaatkan satu orang lain baru bisa makan.
Yak berselang lama iapun membantu ibu-ibu yang mau meminta bantuannya. Ia harus pulang sebelum jam 4, karena nanti malam ia harus bekera diipom bensin mini depan rumahnya. Biasanya malam minggu ini pemiliknya akan meminta dirinya menjaganya dikareakan akan mengapel kekasihnya.
Keringat Caisra bercucuran, ia memilih berjalan menyelusuri jalan menuju rumahnya. Diperjalanan ia tak sengaja melihat satu bapak-bapak yang dihajar oleh empat orang.
Bragkk...
__ADS_1
Matanya mengerjab melihatnya.. matanya melihat situasi yang sangat sepi disini.. yah wajar lah sebab jalanan ini jalan hutan yang menuju rumahnya alias jalan pintas. Ia ingin maju membantu tapi sepertinya bukan waktu yang tepat menjadi pahlawan kesiangan bisa-bisa ia mati dnegan kebodohan bukan???
Apalagi mereka terlihat kekar dan mengenakan senjata