Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Perasaan


__ADS_3

Suara Disya sangat kuat.”Tolong panggilkan semua orang kemari cepat..!” Teriaknya.


“Nona mau apa?”Tanya dokter pelan Dengan wajah heran.


Disya terdiam sebentar hingga banyak yang berkumpul. Disya menghela nafas dan berkata.” Saya membutuhkan donor darah untuk orang didalam. Apakah ada yang mau membantu? Dan saya akan membayar darah kalian. Darah—“ Ia melirik dokter menanya darah apa.


Lalu dokter yang paham pun angkat bicara. “ Darah golongan O.” Ujarnya.


Disya disana mengangguk” Saya akan bayar mahal...!!!” tekannya penuh ketegasan saat ini.


Semua disana berbisik-bisik melihatnya ”Mohon maaf sebelumnya nona, jika bisa tolong jangan membuat keributan, takutnya konsentrasi para dokter yang sedang menangani pasien didalam terganggu.”Ujar dokter tadi.


Disya disana meliriknya datar sebagimana wajahnya biasa. Lalu menatap pasien lain dan juga pengunjung yang sedang berkumpul.”Saya O.”Satu orang maju dengan wajah penuh harap.”Tapi saya mohon beri saya uang istri saya butuh uang untuk persalinan. Saya janji akan memberiklan sebanyak apapun darah yang dibutuhkan asalkan istri dan anak saya selamat.”Ujarnya pelan. Terlihat wajah penuh putus asa, baju yang memudar terlihat using dan nafas kelelahan.


Disya disana melirik lagi kearah lain lalu salah satu maju.”Darah saya O dan daya juga mau mendonorkan darah saya, saya butuh uang..”Ia terlihat antusias dengan wajah kumuhnya.”Ibu saya sakit dan perlu ditangani tapi saya tidak punya uang untuk membayar uang disini sedangkan Kartu kesehatan yang katanya untuk rakyat miskin tidak dikenakan disini dikarenakan ini rumah sakit ternama dan bukan dalam naungan pemerintah, sedangkan dirumah sakit lain kami sudah ditolak berkali-kali dikarenakan katanya ruang pasien sudah penuh. Tak ada ruang, saya mohon beri ruang ibu saya dan saya akan menyumbangkan darah saya.”Ujarnya pelan.


Disya terdiam, ternyata ada banyak yang membutuhkan uang dan membutuhkan kesehatan, bukankah dia cukup beruntung memiliki kesehatan dan juga uang? Disya melirik dokter disisinya. ” Bawa mereka, periksa siapa yang cocok dengannya, aku akan menyuruh orang-orang ku membawa kalian sebagaimana kebutuhan kalian jika darah kalian cocok.. “Ujarnya berlalu membuat semua terdiam disana.


“Nona saya juga mau---“ Teriak salah satu lagi namun Disya disana tak mengubrisnya.


Kakinya ditarik dan juga sosok itu bersujud. Disya bergeming melihat tangan itu, terlihat sangat mengenaskan.”Aku darah golonganya O, tapi tolong beri aku uang... ibuku sakit.”Ujarnya lirih.


Disya disana diam dan melirik dokter tadi”yah. Bagi yang masih mau silahkan cek sama dokternya siapa yang cocok dia yang beruntung.”Ujarnya lalu pergi.

__ADS_1


Gadis tadi terisak dan juga berdiri. Ia tak tau harus apa dan mengikuti dokter tadi. Terlihat ada. berapa juga yang ikut tes kecocokan darah dan kesehatan.


Dijalan Disya terkekeh dengan dirinya sendiri.”Aku membenci diriku yang menatap orang lain iba orang lain. Aku benci.”Gumamnya. ia manusia biasa yang memiliki hati, tak tau sengaja atau tidak hatinya tersentil melihat hal tadi. Tapi ia juga mempertahankan satu hal. Uang bisa mengabulkan empunya.


Tatapannya tertuju pada repsionis disana lalu mengetuk pelan. Resionis itu menatap Disya dengan gugup meski terlihat masih kecil dan muda tapi aura Disya bukan main.. Apalagi ia tau siapa Disya. Anak orang tersohor dan kaya-raya” Jika ada yang mencari pasien bernama Rafael dan Farel.. jangan beritahu apapun, jika tidak bersiaplah rumah sakit ini aku BOM.”ujarnya dengan dingin lalu berlalu.


Tapi berselang beberapa detik ada ibu-ibu datang dengan wajah cemasnya.” Nona.. nona... saya mau bertanya,. Anak saya ada yang dirawat disini tidak? Dia bernama Rafael dan Farel??? Kabar dari sekolah saya katanya anak saya tertabrak mobil didepan sekolahnya dan dilarikan kerumah sakit.”


Disya terdiam ditempatnya berselang dua meter dari ibu tersebut, melirik ibu-ibu beserta anak lelaki., ia memicing matanya, ingatannya tak salah bukan? Ia itu pintar masih sangat ingat wajah lelaki itu yang berada dispion yang menabrak Rafa. Tangannya terkepal, darah ingin membunuhnya naik tapi ia tahan. Ia melihat ibu-ibu yang berpakaian glamor, ia memakai dress marun dan make up yang terlihat mahal.. itu ibunya caisar? Bukankah mereka tak punya orang tua???


Repsionis menatap Disya sekilas dnegann gugup dibals tatapan taja,m.”Ma-maaf ibu, disini tidak dada pasien yang bernama yang seperti ibu sebutkan. Mungkin ibu salah rumah sakit.”Ia memaksakan tersenyum pada ibu-ibu tersebut.


Ibu-ibu itu mengusap wajahnya. Lalu melirik anak disisnya.”Ibu bagaimana jika aku mencari dirumah sakit lain saja supaya lebih cepat mencarinya?”Tanyanya dengan raut wajah endu dan polos.


Ibunya terlihat mengangguk mengusap kepala sang anak.”Iya terimakasih yah nak..”Ujarnya.


anak itu tersnyum lalu pergi meninggalkan ibu yang terlihat depresi disana. sedetik setelahnya anak itu menghilangkan wajah ibu itu terlihat mengeras dan mengusap wajahnya kasar.”Sial..!!! gimana bis anak itu hilang dan ditabrak? Kalo mati bagaimana? Gue nggak bisa manfaatin mereka supaya jadi pewaris keluarga gue.”Ujarnya pelan disana.


Disya terdiam mendengarnya. Ada yang tidak beres...


“Coba kau cek lagi, siapa tau sistem rumah sakit ini eror.. atau mungkin datanya belum terinput.. coba Tanya dengan rekan lain terlebih dahulu mbak.”Ujar ibu itu belum mau pergi.


Resepsionis itu merasakan kakinya lemas, ingin pup dan pipis karena tatapan datar dan dingin milik Disya yang dihadapannya. “Maaf ibu saya tidak berbohong. “Ujarnya. Ibu yang mengaku ibu dari Rafa dan Farel itu mengusap wajahnya kasar dan memilih pergi meninggalkan tempat itu. Menyisakan Disya yang menerjang menatapnya menjauh. Ia harus cari tau semuanya tentang Caisar. Apa ini salah satu alasan kenapa Caisar beberapa hari ini terlihat sangat dingin dan terlihat sangat lelah? Jika ia ia akan membantunya.

__ADS_1


Tapi sebelumnya ia harus menemui Caisar.


...----------------...


Disisi lain ada Cessy yang baru sudah menyiapkan makanan itu terkejut ketika dirinya tak sengaja menjatuhkan piring ditangannya mengakibatkan semua sayur Sup yang ia masak tumpah dilantai. Caisar yang dikamar ikut kaget mendengar suara pecahan kaca hingga ia berlari keluar, karena didalam kamar menyelesaikan laporannya.


”Lohh kamu nggak apa-apa dek?”tanyanya pelan pada Cessy dengan mendekat.


Cessy terlihat menahan gemetar kaget.”Ehh maaf kak. Cessy nggak sengaja tadi.. mangkanya licin mungkin Karena tadi Cessy nyucinya enggak bersih.”Ujarnya gugup lalu terduduk memegang kaca itu untuk dibersihkan.


Caisar disana menghela nafas memegang dadanya.”Kenapa perasaan kakak nggak enak yah dek dari siang tadi, kakak tadi juga udah salah print terus disekolah karena nggak fokus? Apa ada yang terjadi sama mereka???”Tanyanya pelan kepada sang adik.


Cessy disana menatap kakaknya penuh tanda Tanya.”Aku juga kak, dari tadi rasanya Resah banget. " Ujarnya. Caisar menatap kedepan, hari sudah malam tapi ia tak bisa tenang sedari siang tadi. Apa yang terjadi???


Cessy disana membersihkan pecahan kaca dnegan cepat. Caisar tak membantu, ia memilih duduk diatas kursi meja makan menatap sang adik, bukannya tak mau membantu itu hanya hal yang sepele jika mau membantu pasti Cessy tak akan mau.


Tok..Tok..Tok.. keduanya menoleh kearah pintu.. Dugh.. baik Cessy maupun Caisar terdiam dan tertegun menatap kearah pintu. Memang pintunya terbuka dari tadi karena tak ada kipas angin sangat panas dimalam hari. Dan ruang tamu dan ruang makan itu dijadikan satu oleh mereka.


.


.


.

__ADS_1


Jan lupa kasih semangat ya!


__ADS_2