Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Pria Asing


__ADS_3

Lelaki paru baya yang memiliki usia memasuki usia 47tahun, sudha tua? Usia memang usia tapi tidak dengan raga dan jiwanya, lelaki yang memiliki iris coklat dan kulit putih itu sangat-sangat memiliki ciri khas orang barat. Rambutnya yang selalu tertata rapi dan tubuh tegap. Tatapan tajam dan juga wajah dingin. Saat ini sudah dua hari dilewatkan dirinya menjalankan pemulihan,


Dan kabar baiknya ia akan kembali ke Indonesia untuk menjemput anak yang membantunya dimalam itu. penampilannnya tetap kece dengan balutann baju kasual miliknya. Akh tepatnya bukan casual tapi kemeja yang ia anggap casual, baju kemeja hitam dan celana bahan hitam, mengenakan sepatu mengkilat dan duduk dikursi roda miliknya.


Ini baju paling simpel yang ia miliki.


“Tuan sudah cukup cari perhatian dengan gadis-dgadis itu. kita harus berangkat sekarang.” Bawahannya memutar bola mata malas melihat sang tuan yang terus-terus menebar pesonanya pada gadis-gadis uyang gila sugarrdady. Tolong tuannya memang type ideal sugar dady,. tapi ingatlah dirimu sudah cukup tua jadi tidak pantas jadi sugar dady lagi tapi lebih ke pada kakek sugar hoho..


Karen yang diperingatipun menatap Gibran songong.”Bilang saja kau iri he. Aku hanya kalah usia bukan pesona, kau saja yang masih muda kalah pada pesona milikku Dagunya dinaik katas menatap lawannya sombong. Itu semakin membuat suara para pemudi berteriak histeris menatapnya yang sangat tampan bagi mereka. Karen semakin tersenyum sombong seakan berkata-kata hay lihat pesonaku sangat besar bukan? Hoho.


Gibran menatapnya tak suka.”Hey tuan lihat ini.”Ia disana menunjukan pesonanya. Merapikan dasinya dan menatap gadis-gadis yang melihat mereka serai tadi ia tersenyum dan mengedipkan satu matanya.


Kyaa... suara seperti ar hujan menghujami mereka disana. Gibran tersenyum bangga pada sang tuan menunjukan aksinya. Seakan berkata. Hey tuan lihat. Aku laku bukan?? hoho


Karen disana mengejek. "Aku juga bisa. liat ini.”Ia pun menatap para gadis disana dan mengedipkan satu matanya juga..


Kyaa...... sugar Dady..!!!


Teriakan seperti air hujan kembali menyambar mereka. Gelak tawa mnya Karen terdengar sangat kental. Ia menaik turunkan alisnya menatap Gibran seakan menunjukan. ‘Hey bung aku tidak kalah. Kan sudah ku katakan aku hanya kalah umur bukan pesona..’


Gibran disana mengeleng-geleng saja.” Sebenarnya tuan kata orang-orang jika terlalu percaya diri itu tidak baik. Tapi karena kau sudah tua dan aku masih muda aku harus mengalah bukan?”Tanyanya sopan namun bernada mengejek tuannya.


Tuannya menatapnya mendelik.”Aku hanya tua umur tapi tidak dengan pesonaku..!!!” Ujarnya menjilak kepalanya Gibran namun tidak terkena kepala hanya mengena angin dikarenakan dirinya yang terduduk.


Gibran disana menatapnya dengan mengejek.”Tydak kena..!!!” Ejeknya lalu mengelak. Karen menatapnya tajam dan Gibran yang mengejeknya dengan bibirnya yang di buat penyok.

__ADS_1


Karen hanya menahan tawanya saja melihat ekspresinya Gibran yang seperti bocah usia lima tahun bergelut dengan temannya.


Jika kalian pikir Karen dan Gibran itu seperti orang kaya lainnya yang memiliki wajah datar,. Humor yang rendah, dingin, tak tersentu kalian salah besar. Karen itu bukan sosok yang begitu, dia menyukai humor, dia menyukai bercanda dan juga ramah pada orang yang ia kenal. Ingat hanya pada orang-orang tertentu tidak dengan orang yang tidak ia kenal, sepertinya rata-rata manusia begitu kan? begitu juga dengan Gibran. Dia bukan sosok yang seperti lelaki tangan kanan lainya yang memiliki aura gelap, dia itu auranya pemalas dan juga tak ramah. Dia cerewet dan julit.


“Ehemmm maaf tuan pesawatnya sudah selesai disiapkan. Mari..”Satu dari banyaknya penjaga maju kesana menemui tuannya.


Tuannya disana berdehem sebentar lalu mengangguk. Gibran disana terkekeh melihat tuannya. Ia berjalan dengan duluan membuat Karen mengerjab pelan. “Gibran sialan. Dorong kursiku..!!!” Teriaknya mengema melihat Gibran yang berjalan tanpa dosa.,


Giobran menepuk keningnya pelan.”Yaampun maaf lupa tuan kalo tuan sekarang cacat..” Gumamnya berbalik.


Karen menatapnya tajam.” AKU AKAN MENJAHIT BIBIRMU NANTI. TOLONG INGATKAN AKU...!” Tekanya berteriak. Gibran terkekeh saja berjkalan mendorong Karen. Ini sudah kesekian kali Karen mengatakan hal yang sama padanya tapi tidak pernah terjadi.. ujung-ujungnya nanti gajinya yang akan dipotong paling.


“Dan gajimu akan ku poting 50% dibulan ini karena bersikap kurang ajar pada atasan. Kau harusnya belajar etika lagi nanti.”


Karen Disana menatapnya dengan tatapan tak kalah mendelik. ” Aku bosnya jadi tidak usaha berlagak jadi tuan.” Karen bercetus membuat Gibran cengengesan.


“ Dasar tua Bangka bau tanah.”Bisiknya.


“Gibran..!!!”


Perjalanan menuju Indonesiadilewti cukup lama, bahkan mencapai 24 jam lamanya. Tetapi pesawat yang ia kenakan adalah pesawatt pribadi, disana ada kamar, tempat tidur, makanan. Semuanya lengkap tenang saja jadi tidak usah khawatir jika ingin buang air besar atau buang air kecil oke...


Setelah menghabiskan waktu yang sangat lama Karen dan Gibran mengalami Jet Lag yang karena perputaran waktu yang berbeda membuat ia sakit Maklum dinegara yang mereka tempati itu memiliki wkatu berenda dnegyan Indonesia selama 8jam, mereka yang sampai ke Indonesia pun ketika sudah malam. Disini sudah sangat gelap.


Gibran menyiapkan kebutuhan Karen untuk keluar pesawat dibantu beberapa peragugari cantik. Saat turun dari pesawat ada banyak bodyguard yang menunggu dan ikut membantu turunnya sang tuan dari pesawat yang terpaksa harus digendong dulu oleh Gibran.

__ADS_1


Jujur Gibran dan Karen sendiri geli jika bgeini tapi mau bagaimana lagi? Karen masih sangat lemah dengan menapakkan kakinya dilantai. Terasa ada yang menusuk dijantungnya dan membuat ia sesak nafas. Itu mungkin karena luka tembakan dan juga tusukan yang parah dibagian perut dan jantungnya


“Gibran kita langsung saja menemui orangnya. Aku tidak sabar.”Ujar Karen saat dipindahkan dikursi roda.


Gibran disana menggeleng.”Besok saja tuan. Ini sudah sangat malam jadi lebih baik tuan pulang dulu untuk istirahat.”Ujarnya melawarang tuannya. Bukan melarang lebih tepatnya memberikan saran. Hey dia tu pelayan.


Karen disana menggeleng tegas.” Tak ada bantahan kali ini. lagi pula aku sudha cukup istirahat dipesawat. Aku disana tidak kerja hanya tidur dan makan saja jadi tidak lelah bodoh.” Ujarnya ketus.


Gibran menghela nafas akan tuannya yang berkata tak bisa dibantah.”Biak tuan.”


Ia mendoring kursi rodanya “Maaf aku harus menanyakan kabar dari penjaganya dulu..” Ia melepaskan kursi roda pada salah satu penjaga. Dan ia berjalan disisi lain menelpon seseorang. Karen hanya mengangguk berjalan menuju ke mobil yang sudah disiapkan diluar bandara.


Tak memakan banyak waktu satu mobil hitam pekat dengan harga milyaran itu beryenti didepannya Karen. Lalu ada dua mobil hitam yang jeff dan juga satu mobil sport yang sama mahalnya dibelakangnya. Itu mobil untuk para penjaganya. Terlihat Karen dibantu oleh penjaganya masuk lalu disusul oleh Gibran duduk disampingnya.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak yah!

__ADS_1


__ADS_2