Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Balas dendam


__ADS_3

Ia memberikan juga masker. Yopi dan jaket kepada Dava, Dava mengernyitkan dahi pelan.” ini jaket buat loe pakek. Mau ketahuan?” Tanya Disya pada Dava. Dava melihatnya tergugup dan menggeleng pelan. Segera ia kenakan dan melangkah mengikuti kemana disya pergi.


“ eh kalian mau kemana?” Dwi meliuhat Dava dan Disya yang bareng pergi bersama heran


Disya melirik Dava jang gelagapan.” Mau cari udara tante. Caisar lama pulangnya.” Jelas Disya.


Dwi berdehem.” Nanti bawa martabak telur yah. mama mau makan martabak lah rasanya.” Ujar Dwi pada Disya,


“ ay ay captain.” Ujar Disya memberi hormat.


Dwi terkekeh menepuk pelan kepala disya segera pergi meninggalkan keduanya.


Dava menghela nafas melirik Disya yang berjalan santai keluar. Keduanya memasuki mobil yang dirinya tidak tau mobil siapa, sebab disya tidak pernah membawa mobil ini sebelumnya. “ kak kita mau kemana?” Tanya Dava merinding.


“ bersenang senang.” Ujar Disya terkekeh.


Dava meliriknya takut.” kamu tidak usah takut. katanya mau balas dendam.” Jelas disya lagi. Dava hanya bisa berdehem pelan di sana ikut kemana Disya pergi.


Mereka berhenti di tempat balapan. Disya di sana tersenyum miring duduk di dalam mobilnya. Di sebelahnya ada Dava yang diam mengamati kedepan.” Di sana ada Malvin yang sedang balapan. Kita tinggal tunggu dia pulang.” Jelas Disya kepadanya tenang.


Dava melirik Disya dan berdehem. Dua jam mereka menunggu di sana. Tiba tiba Disya menghidupkan mesin mobilnya dan melaju kencang. Dava mengeratkan pegangannya di pegangan atas mobil.


Bram.. Brak. Dava terdiam gemetar melihat Disya malah menyerempet mobil Marvel. Dava melirik Disya yang malah tersenyum miring. Berselang beberapa saat mobil Marvel berhenti menabrak pembatas jalan hingga hancur


****. Disya menghentikan mobilnya dan segera turun. Dava masih gemetar ketakutan melirik disya yang turun dan melihat Marvel yang terbatuk dan berusaha keluar dari mobil. Disya melangkah mendekati Marvel dan tersenyum miring


Marvel begitu kaget data dimana mobilnya tiba tiba terserempet dan dirinya tidak bisa mengendalikan mobil menabrak pembatas jalan. Ia melirik Disya yang mendekat dengan nanar.” tolong.” Jelansya nanar sebab kakinya terhimpit mobilnya yang sudah penyok.


Tapi Disya malah membuka bagasinya dan mengeluarkan tongkat bisbal. Marvel melihatnya melebarkan mata, tubuh bagian atasnya sudah banyak darah yang menyebar di seluru bagian wajahnya. Kepalanya terantuk dasborrt mobil cukup kuat sebelumnya.


Disya membasahi bibir bawahnya mendekati marvel.” Mau bantuan?” Tanya disya pelan.


Marvel meringis mengangguk lugu, masih berfikir fositiv. Disya terkekeh pelan,” oke.” Disya mengangguk dan mengayun tongkat bisball itu ke arah kaki Marvel kuat. Marvel berteriak kuat, bergema di seluru hutan yang terlihat kelam, hanya lampu dari dua mobil yang menyinari di sekitarnya.


Marvel benar benar merasa kehilangan perasa dari kakinya. Kecuali rasa sakit dan tulangnya hancur. Disya di sana tersenyum lebar.” Maksud gue gue bantu buat loe bisa nemuin Tuhan lebih cepat.” Lanjut disya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Marvel yang merasa dadanya menyempit terasa sakit.

__ADS_1


Disya menarik tongkat bisbal yang ia bawa dan menatap marvel lebih dingin, melirik arah pintu ada Dava yang memucat menatap tindakan Disya dan jeritan Marvel. Diya mendekati dava dan memberikan tongkat padanya.” Mau coba?” tanyanya. Dava terlihat gagap melirik disya. Sangat menakutkan. Ia tidak berani.


Disya terkekeh pelan. Melirik Marvel yang berusaha mengeluarkan kakinya menatap Disya tajam.” siapa loe bangsat? Loe cari mati ha?” teriak marvel sangat nyaring. Dirinya kesakitan. Tatapannya sangat tajam melihat Disya dan Dava yang menggunakan jaket yang sama, dan juga beberapa atribut yang menyembunyikan wajah asli mereka.


Disya menggeleng pelan.” loe terlalu kotor buat tau nama gue.” Disya menunjuk kepala Marvin menggunakan tongkat bisball.


Plak. Argh. Marvel berteriak kuat merasa kepalanya pecah. Sangat sakit. Disya memukulnya kuat hingga telinganya berdengung.


Plak. Argh. Marvin berteriak histeris. Kembali bagian belakang kepalanya di pukul kuat menggunakan tongkat besi bisbal oleh wanita yang tidak ia kenali ini.” hentikan. Ampun.. argh.” Terik Marvel melindungi kepalanya.


Disya tersenyum lebar. Masih memukulnya berkali kali, bukan hanya kepala, tapi juga bagian ginjal dan semua tubuh Marvel yang bisa terkena. Disya tidak tanggung. Dimana bagian yang bisa dirinya pukul ia pukul. Bagi disya tidak akan ada ampun orang yang berhadapan dengan dirinya.


Disya menarik kuat kaki marvel yang tersangkut. Marvel terpekik nyaris keluar urat dari lehernya. Tak berperasaan. Kaki Marvin mengeluarkan banyak darah. beberapa bagian terkoyak akibat di tarik paksa, daging putih menculur dan bercampur noda darah yang mengerikan. Disya mengambil air dari bagasinya dan mendekatinya lagi.


buagh. Arghh.


Teriakan Malvin lebih kuat dari sebelumnya. Sebab air yang di siram oleh Disya adalah air keras. Marvin berteriak lebih kencang berharap bisa lepas dan juga melepaskan rasa sakit dari disya. Disya tidak peduli. Dia malah tersenyum senang dan juga berbinar menatap malvin. Disya menatap air keras yang masih tersisa setengah. Menatap wajah Malvin tajam,.


Malvin mundur menatap disya nanar. tubuhnya terasa remuk. Disya mendekatinya lebih dekat.” Kalo ini di siram ke muka Loe pasti lebih seru Malvin.” Bisiknya.


Malvin meringis tiak bisa mundur.” Jangan.. hiks jangan tolong.” Bisik Malvin kesakitan. Semua tubuhnya seperti patah tulang.,


“ tunggu..!!” Dava yang diam saja tadi menghentikan Disya yang hendak membawa mobil.


Disya menatapnya dengan bingung. “ kenapa??” Tanya Disya pelan. Disya pikir Dava tidak akan mau menghabisi malvin, sebab hatinya kan sehalus tisu dan juga semurni susu.


Dava keluar dari mobil. Disya menatapnya tajam, dava ingin membantunya kah? Dava mendekati Malvin dan menatap Malvin sulit. Malvin di sana tidak menatapnya lebih jauh sebab rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dava meremas kuat tangannya sendiri dan..


bughj. Arghh teriakan Malvin menggema di sana sebab kakinya yang disiram air keras oleh Disya di injak kuat oleh Dava. Lalu Dava pijak kuat dan ia putar kakinya.


Dava mengambil ancang ancang dan bugh,. Menendang kuat wajah Malvin hingga Malvin terkapar tak berdaya. Disya yang keluar mobil hendak menghalang Dava tersenyum lebar. Dava menatap Malvin rumit.” Itu balasan karena loe udah hampir bunuh kakak gue.” tegasnya di sana nanar. tiba tiba lampu yang bersinar dari belakang membuat Disya menyipitkan mata.


Disya melebarkan mata. Mendekati Dava yang masih mau menghajar malvin.” Polisi.” Teriak Disya. Dava di sana menatap kedepan dengan degub jantung yang luar biasa. Tak tinggal diam. Disya yang melihat Dava mematung menarik tubuh Dava dan mendorong kuat ia untuk masuk kedalam mobil.


Segera Disya memasuki mobilnya dan menancap gasnya cepat. Dava disana masih shok melirik kebelakang mobil yang tadinya ada berhenti melihat keadaan malvin. Lalu di susul oleh beberapa mobil lain di belakang mobil tersebut mengejar mereka,

__ADS_1


Disya terkekeh pelan. dava melirik disya yang malah terkekeh.” Kak kalo kita ketahuan gimana?” Tanya Dava nanar. Tubuhnya bahkan reflek tak terkendali karena gemetar.


Disya berdehem melirik dava.” Kamu diam yah.” jelas disya pelan. Disya paling suka saat dimana dirinya hampir ketahuan. Rasanya ada bagian menantang membuat drinya senang.


Dava menguatkan pegangannya di mobil Disya. Menatap kebelakang sudah banyak mobil yang mengejar mereka. Cukup jauh dan disya mengendarai mobil secara ugal ugalan. Disya melirik dava dan melirik kebelakang sudah sangat banyak. Disya kembali menatap kedepan.


” Dava.. pegang tangan gue oke.” Ujar disya dan berdiri mendekati Dava. Tapi mobil terus melaju meksipun melamban.,


Dava semakin merasa gugup dan takut tapi Disya malah tersenyum senang. Segera Disya peluk dava dan “ loncat dava. Gue itung sampek tiga loe harus loncat dan pegang tangan gue erat erat. Mobil ini bakal masuk ke sungai.” Jelas Disya kepada Dava,.


Dava semakin memucat. Disya melihatnya segera menarik paksa hingga Dava segera berdiri dan melompat dengan disya yang memeluknya erat tanpa hitungan. Mobil melaju dan keduanya terjatuh di bagian rerumputan yang berada di sana. Dava hampir berteriak sebab tertiban Disya. Disya menutup mulitnya kuat dan merunduk membuat dava diam melihat beberapa mobil polisi lewat.


Semua habis Disya melirik kebelakang. Disya membasahi bibirnya. Mobilnya Masih melaju kencang dan memang dataran paling depan masih menurun sehingga mobil masih akan tetap berjalan meksipun dirinya tak mengendarainya. Disya segera berdiri dan menatap Dava.” Are you oke?” Tanya disya kepada Dava.


Dava diam meringis memegang lututnya. Disya melihat lutut Dava berdarah pun berdehem pelan,.” Hadiah buat pengalaman pertama loe. “ jelas Disya terkekeh pelan.


tatapan Disya melirik ada cahaya berikutnya. Segera ia tarik Dava menuju semak belukar yang ada di sana. Dava diam disana melirik disya yang terlihat kesakitan berjalan menariknya. Dava terlalu shok dengan apa yang ia lalui hari ini. tidak tau harus apa.


Pyuss. Mobil itu melaju kuat dan meninggalkan disya dan Dava yang di semak semak. Disya menghela nafas pelan dengan keringat menyucur dari lehernya. Mengambil ponselnya dan menatap jangka dimana Delon. Tapi Delon sudan dekat. Ia segera menyipitkan mata menatap tajam mobil yang melaju. Disya segera melambaikan tangannya dna mobil itu segera berhenti.


Disya menarik Dava dan menggendongnya di bahu. Dava terdiam merasa Disya menggendongnya tak berotak.


Dava semakin malu saat disya membuka pintu dan memasukan dirinya. Disya pun ikut masuk dan mobil segera melaju. Disya menghela nafas menarik jaket miliknya dan membuka topi dan masker. “ sial... “ gumam Disya pelan menghela nafas.


Ia melirik Dava yang diam saja.” Loe nggak apa apa?” Tanya Disya lagi. dava dari tadi diam saja dengan muka pucat. Panik dirinya.


Delon hanya melirik disya dna dava terkekeh. “ Dia terlalu shok ngeliat sisi iblis kakak iparnya mubgkin.” Jelas Delon melirik Disya dan Dava dari kaca atasnya.


Disya melirik Dava yang mengusap kepalanya dan membuka topinya pelan. “ gilak. Jantung gue rasanya pindah ke lambung.” Gumamnya pelan memegang jantungnya.


Disya dan delon mendengar ucapan Dava malah terkekeh pelan. Dava membuka pelan bajunya. Bisa dilihat tangan dan kaki dava gemetar tak terkendali akibatnya. Disya menepuk pelan pundak dava.” Itu namanya tantangan hidup. “ jelas disya terkekeh pelan.


“ tapi Malvin mati nggak?” Tanya Dava kepada Disya.


“ mungkin bisa jadi. Emang kenapa?” Tanya Disya menaiki satu alisnya.

__ADS_1


Dava menggeleng.” Soalnya kayaknya lebih baik dia masih hidup deh dengan muka buruk rupa. Biar tau rasa.” Jelas Dava di sana terkekeh.


Disya mendengarnya menggeleng pelan.” dia bisa oplas. Duitnya banyak. Tapi yang jelas dia udah tau gimana rasanya cacat ” Jelas Disya kepada Dava tenang. Iya cacat. apa lagi yang di harapkan?


__ADS_2