Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Malam


__ADS_3

Malam semakin larut, kedua orang tua Caisar sudah pulang sedari dua jam yang lalu. Caisar memilih tak memasuki rumah, ia memilih duduk dikursi dekat pohon mangga didepan rumahnya, cukup diterangi oleh rembulan dan remang-remang lampu yang masih menyalah. Ia tak bisa menghentikan air matanya. Sama sekali tidak bisa, mau bagaimana ia menahan air matanya ia tak bisa menahannya. Rasa sakit hidupnya maish sangat melekat tapi ibu dan ayahnya baru datang.


Tujuh tahun bukan wkatu yang singkat baginya, bukan karena dia dendam atau membenci, tapi sungguh rasa untuk kembali dengan mereka sudah tak ada dibenaknya. Mengingat dirinya ditinggal ditengah keramaian tanpa bekal apapun, tapi malah diberi beban yang begitu berat. Ia tak sanggup untuk menengok kebelakang.


Diarah lain ada Cessy yang berdiri didepan pintu melihat bahu kakaknya bergetar, ia tak kuat melihatnya. Ia ikut menangis merasakan sakit didadanya melihat hal itu, tadinya ia mau kedapur mengambil air untuk minum, kebiasaan Cleo jika malam akan suka bangun karena haus. Tapi ia malah melihat pintu depan rumah terbuka, ia kira ada maling eh tidak taunya ia malah melihat kakak tertuanya duduk didepan rumah dengan isak tangis yang terdengar lirih.


Dengan pe;an ia mendekati kakaknya, ia memilih duduk disamping Caisar, dikursi bekas kayu yang Caisar dapatkan itu,, Caisar yang sadar ada sosok lain duduk disisinya melirik kesamping nya. Dugh.. Cessy tak kuat melihat wajah kakaknya yang begini. Cessy diam menatap kakaknya dnegan dada yang sesak. Cessy tak bicara banyak langsung memeluk kakaknya sayang. Caisar disana diam tak membalas, ia malah menahan air matanya supaya tak jatuh. Dia memang lelaki tapi ia tak bisa menahan tangisan ini. padahal sudah bertahun-tahun ia tak menangis, tapi akhir-akhir ini ia suka sekali menangis.


“Kakak..”Gumam Cessy lirih, Caisar tetap diam tak bergeming.”Kakak inget nggak pas SD kita suka tukeran sepatu pas sekolah karena kita Cuma satu sepatu, “Ujar Cessy terkekeh.”Kakak selalu beli sepatu yang kekecilan supaya aku bisa pakek sepatu yang pas, kakak enggak mau aku jatuh karena sepatu kebesaran tapi kakak lupa diri kakak, kaki kakak lecet-lecet karena sepatunya kekecilan.”Air mata Cessy jatuh tak terbendung mengingat masa sulitnya. Caisar tak bergeming, ia masing sangat. Mana mungin ia lupa.


Cessy menatap kakaknya dan menggigit bibir bawanya. “ Kakak inget nggak dulu kita ngak mampu beli baju olaraga, jadi kita kalo olaraganya tukeran pakek bajunya, karena baju olaraganya Cuma satu. Hehe lucu pas kita olahraganya barengan, karena itu kakak satu semester dapet nilai merah karena pakek baju kaos biasa yang warna item.”Lirih Cessy masih tetap menangis,

__ADS_1


Baju olahraga disekolahnya dulu itu suka berganti warna sesuai angkatan, nah Karena Caisar tak mampu membeli baju olahraga, disini memang seragam beli sendiri meskipun sekolah SD geratis, Caisar dikalah itu tak mampu membeli baju olahraga tapi mengingat adiknya sekolah membuat ia berusaha keras banting tulang hingga uangnya terkumpul. “Baju Cessy baru-baru semua sedangkan kakak baju-baju bekas yang dikasih tetangga.”Gumam Cessy. Caisar diam mengeratkan genggamannya tak kuat.


Yang dikatakan Cessy benar. Caisar tidak pernah mengenakan baju baru selama sekolah SD, semuanya bekas dari tetangga karena kasihan padanya tak punya baju, sedangkan Cessys emuanya baru, Caisar selalu bekerja untuk adik-adiknya sampai melupakan dirinya. Meski Cessy harus menunggu sampai kelas 3baru bisa pakek baju baru tapi Caisar berusaha keras supaya adiknya tidak dihina karena bajunya jelek. Sesayang itu Caisar pada adiknyanya sampai melupakan dirinya, bahwa dirinya sendiri.


Caisar tak sanggup, ia memilih bangkit meninggalkan Cessy.”KAKAK..!!” Cessy menangis menahan tangan Caisar.. “Kakak hiks hiks. Cessy tau kakak adalah kakak terbaik sedunia ini. Cessy enggak butuh apapun kak kecuali kakak. asal kakak selalu ada sama Cessy Cessy enggak pernah takut hadapin apapun didunia ini hiks hiks.”Ujarnya menangis pilu. Wajahnya penuh air mata disana. Caisar diam mendengarnya tak tega.”Kakak orang tua Cessy. Kakak rumah buat Cessy pulang,, dan kakak adalah nafas Crssy.. tolong kak jangan tinggalin Cessy. Cessy enggak bisa bayangin gimana hidup Cessy tanpa kakak.”Gumamnya dengan pelan tak bertenaga akibat sesak didadanya semakin membesar.


Caisar mendengarnya menatap Cessy. Ia menatap adiknya khawatir karena suaranya lemah. Cessy disana mendekat menatap Caisar.”Kakak maafin Cessy enggak bisa tahanin adik-adik buat jauh dari mereka kak. Maafin Cessy, mereka punya pilihan mereka kak dan Cessy enggak bisa menghalang Meski tadi kita udah ribut. Mereka mau kakak bahagia, mereka terlalu sakit melihat kakak yang berjuang demi kita kak.”Ujarnya lirih pada Caisar. Sangat lirih.


Iya tadi Cessy sangat marah ketika Rafa membawa orang tuanya kerumah, tapi Rafa malah bilang jika ini jalan supaya Caisar tidak susah lagi, supaya Caisar bisa memiliki kebahagiaanya bukan malah selalu memikirkan kebahagiaan mereka. Mereka hanya mendahului kakaknya. Jujur dari mereka tak ada yang menerima ibu kecuali Rafa, tapi mengingat mereka membutuhkan uang mereka mengalah. Mengingat Caisar yang terus mengalah demi mereka, mereka mengalahklan ego supaya kakak mereka bisa bahagia.


“Kaa---“ Cessy hendak kembali bicara. Tapi Caisar nenahan bibjrnya dengan satu telunjuk kananya, matanya menghunuskan pada mata Cessy, ia menghapus air mata Cessy, ia sama sekali tak lagi menangis, bukan tak ingin tapi ia malu pada adiknya untuk terlihat lemah. Caisar mengusap pipi adiknya dan tersenyum.

__ADS_1


Cessy disana terdiam menatap kakaknya sayu. “Kebahagiaan mana lagi yang kalian cari untuk kakak sedangkan kebahagiaan kakak ada didiri kalian???” Tanya Caisar disana pada Cessy pelan.


“kebahagiaan mana lagi yang kalian maksud itu selain senyum kalian?? “Caisar menggeleng dengan pelan.” Enggak ada yang kakak harapkan didunia ini selain melihat kalian kayak anak lain, bermain, tertawa lepas, hidup tanpa merasakan lapar, belajar tanpa memikirkan uang, kalian segalanya bagi kakak. kakak enggak mengharapkan apapun kecuali kebahagiaan kalian, sama sekali enggak.”caisar disana menatap Cessy dalam. bibir Cessy sudha bergetar menahan tangisan mendengarnya. Caisar memalingkan wajahnya setlah mengatakan itu, ia tak mau menangis.


“Tidurlah, hari sudah sangat malam, kakak akan pergi bekerja malam ini.”Ujarnya memilih pergi meningalkan Cessy yang kembali menangis disana.


.


.


.

__ADS_1


.


Jan lupa tinggalkan jejak ya!


__ADS_2