Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Dava dan Disya 2


__ADS_3

Disya mengangguk plan saja. “ cerdas. Farel cerdas yey.” Farel bertepuk tangan dan Dava tertawa lirih. Tawa bercampur senang dan juga sedih. Senang kembarannya sudah jauh lebih baik dan sedih kembarannya mendapatkan keadana buruk begini. Ini kabar buruk.


Farel memang sudah bisa duduk dan juga main di kamarnya, belajar beberapa hal, tapi ia belum di sarankan untuk bediri karena pemulihan tulang. Jadilah kali ini mereka fokus untuk membuat Fariel sembuh dan belajar bicara normal. Dava memang sekarang tidur di kamar yang sama dengan Fariel. Mulai dari apapun yang Fariel lakukan, mandi dipagi hari, sampai tidur Dava yang membantunya,


“Bagaimana penyelidikan terakhir Dava?”


Tanya Disya mengambil tempat di karpet dan mengambil bantal. Disya memilih tidur di dekat Farel dan Dava yang main.


Dava melirik disya dan terdiam sejenak, agak takut bicara.” Beberapa hari ini Dava tidak banyak melakukan pergerakan. Marvin sangat rapat menyembunyikan bukti.” Jelasnya tenang.


Disya mendengarnya berdehem tau, memang malvin sangat bisa menyembunyikan bukti, bahkan harusnya Disya pergi ke rumah satu satu warga yang punya CCTv sekalipun malvin belum tentu bisa ditangkap, sebab memang semua nya tidak mengarah kepada Malvin, jejak ke pusat mobil dimana Malvin membeli sekalipun sudah tidak ada. Malvin curiga jika keluarga Malvin ini bukan dari keluarga sembarangan, atau bisa dikatakan mafia? Tapi disya tidak juga percaya, sebab di tulisan author satu ini tidak membawa kerena di sana. Hanya dirinya orang paling jahat disini.


Disya berdehem pelan melihat dava yang kikuk. “ hanya ada dua pilihan lagi itu sih Dava.” Jelasnya pelan. Dava melirik disya dnegan serius. Disya menatap dava dalam dan serius.” Loe harus tinggal bersama orang tuamu beberapa hari untuk menemukan bukti atau kamu ikut heeem gue buat kasih pelajaran ala gue.” jelas Disya tersenyum miring.


Disya menaiki satu kakinya di satu kaki lain.” Gue sih udah dapat jadwal Malvin. Kalo loe mau opsi ke dua loe tinggal siapin diri loe nanti malem kita lakuin yang gue bilang tadi.” Jelasnya tersneyum miring.


Dava terdiam sejenak. “ yah gue sih hmm sebenarnya nggak nyaranin loe ikut gue., gue juga nggak mau jadiin loe ikut serta dalam kelakukan buruk gue. seenggaknya loe bisa tau gimana penyiksaan Malvin di tangan gue. itu aja. Kalo semisal jalur bikti dan memasukin dia kepenjara nggak bisa. yah jalur kematian bertindak. Yah kan? lagian loe nggak lupakan kalo uang bisa beli apapun yang ada di dunia ini?” Tanya Disya kepada Dava lagi tidak memaksa.


Tapi Dava melihat disya serius, ada rasa keraguan di hatinya Dava, takut jika dirinya melakukan pembunuhan atau pembullyan. Dava bukan orang jahat yang bisa melakukan sesuatu hal buruk. Ia selalu di ajarkan baik dan pemaaf oleh caisar. Di posisi saat ini, Dava juga di berikan pilihan dendam atau sakit hati. Hampir saja ia kehilangan Fariel, kembarannya dan saudaranya. Ia juga hampir saja kehilangan Cleo karena keegoisannya kedua orang tuanya ini. mereka melakukan kesalahan-kesalahan teramat fatal. Di depan mata bagaimana keadaan Fariel bersimbah darah. Jika diingat lagi dava tak akan kuat. mereka bahkan Harris berpisah dengan Cessy demi biaya hidup Fariel. sampai detik ini cessyy tidak tau bagaimana kabarnya.


“ jangan terlalu banyak berfikir Dava.” Disya menatap jamnya yang menunjukan angka enam sore.” Sekarang sudah jam enam. Jam delapan kita sudah harus otw. Sekarang kita harus mencaricara agar kamu bisa keluar dan siap siap. Gue juga harus mandi dong masa pakek baju seragam sekolah gini?” Tanya Disya segera duduk karena harus pergi.


Dava menatap Disya nanar dan takut.” tapi gue takut. kalo kita ketahuan polisii gimana?” tanyanya kepada disya.


Disya tersenyum miring. “ yah paling kabur.” Bisiknya terkekeh.

__ADS_1


Dava semakin takut dibuatnya. Disya terkekeh.” Malah biasanya kalo ketahuan itu lebih seru, ada adrenalin nya yang bikin kita semakin teruji. “ jelas disya lagi penuh semangat.


‘ gila.’ Dava mendesis melihat disya yang berbinar., mana ada yang suka ketahuan saat melakukan kejahatan. Hanya Disya deh kayaknya,


“ gue...” Dava melirik Disya gugup. Disya mengiap pelan.” gue ,mau..” Bisiknya pelan. pilihannya tetap akan membuat malvin merasakan apa yang mereka rasakan.


Disya tersenyum miring, menepuk pelan kepala Dava.” Good Boy. Gue suka nih yang gini.” Ia tersenyum miring.” Gue jahat banget yah ngajarin orang baik kayak loe ngelakuin kejahatan.” Disya terkekeh dengan ucapannya sendiri. Mana ada orang yang mengajarkan kejahatan. Harusnya mengajar bagaimana caranya menjadi orang pemaaf, baik dan bertaubat. dirinya malah mengajarkan hal buruk.


Dava menggeleng pelan.” posisinya aja sih. Gue juga nggak pernah mau ngelakuin kejahatan kecuali dia ngelakuin kejahatan. Gue sama kembaran gue sama sekali nggak ada kesalahan sampek dia harus ngelakuin hal buruk itu. syukur Tuhan masih sayang kembaran gue dan adek gue Cleo. kalo nggak gue nggak tau lagi gimana kak Kai ngerasa bersalah. kalo dibilang gue ngerasa paling tersakiti itu gue, gue munafik.” Jelas Dava tegas.” Jelas yang paling terpukul dan yang paling sakiti dalam hal ini adalah bang Kai. Bang Kai besarin dan beri kami yang terbaik. panas,dingin, hujan bahkan badai dia kerja demi adek adeknya bisa makan dan sekolah.” Jelas Dava nanar mengingat dirinya hidup bersama kakak nya dulu. Jangan sampai adik-adiknya kelaparan, jangan sampai adik-adiknya tidak jajan sekolah.


Dulu Caisar sering kali siang pulang sekolah harus ke pasar menjadi kuli panggul, pulang di magrib hari untuk makan, Cessy yang masak, di saat jam sembilan Caisar harus kerja di café sebagai pelayan ada juga saat dimana ia menjadi pengisi bensin di pom bensin sip malam hingga subuh.. subuhnya ia harus siap siap menyiapkan pakaian dan peralatan adik adiknya sekolah. Jika ia ingat bagaimana pengorbanan Caisar untuk menghidupi mereka.


Dava sangat merasa bersalah.


“ gue ngerasa bersalah pun bukan ke kembaran gue aja. tapi gue ngereasa bersalah udah ngikut mereka, orang tua kami, Sedangkan gue tau disini yang paling berjuang tentang hidup kami Caisar.” Bisiknya pelan. andai dulu ia tidak mengikuti ayah dan ibunya, andai ia tidak egois dan mendengar kata kakaknya Caisar. Semua ini pasti tidak akan terjadi.,


” Jadi loe juga benci sama orang tua loe dan mau balas dendam juga sama mereka?” Tanya Disya lagi pelan kepada Dava.


Dava menggeleng pelan.” sebenarnya mereka nggak terlalu jahat, tapi ambisi mereka aja yang buruk.” Gumam Dava pelan dan nanar menatap Fariel yang diam mendengar mereka saksama. Dava mengusap kepala Farel pelan.” di sana kita dikasih makan yang sama, kendaraan yang sama, bahkan uang jajan yang sama. Cuma memang tujuannya yang beda dan jahat buat kita, begitupun sama orang tua tiri kami. “ jelas Dava. Benar ibunya tidak begitu jahat jika dikatakan jahat.,” keadaan kayak gini itu ulah saudara saudara tiri kami. Itu yang bikin kami kayak gini. Jadi focus dendam gue sama malvin, sama saudara saudara tiri. Selebihnya enggak terlalu.” Jelasnya Dava lagi pelan. Dava tidak pernah dendam salah sasaran. Tak mau menambah masalah lain,


“ tapikan orang tua kalian udah buang kalian?” Tanya Disya bingung.


Dava melirik Disya nanar.” mereka berhak buang kami, nggak masalah, selagi kami masih bersatu sama-sama, sama kak Caisar. Cessy. Farel dan cleo. Bagi gue itu jauh lebih baik. Nggak meski ada mama, papa, tapi yang harus ada itu kasih sayang satu sama lain. Itu aja udah sangat cukup..” Jelas Dava tersenyum.


Disya terenyah mendengarnya,. Ada sirat sedih dimatanya. Dava sadar jika ada hal yang salah. Dava berdehem sejenak.” Dan ada yang tinggal. Kami harap kak Disya jadi bagian dan selalu ada untuk kami, soalnya kami udah sayang sama kak disya.” Jelas Dava agak giugup dan pelan.

__ADS_1


Diosya tersenyum tipis, meksipun tipis ada ketulusan di sana. Ia mendekati Dava dan memeluknya tiba tiba. Dava dipeluk disya menegang sesaat. Disya menepuk pean pundak Dava.” Disya juga sayang kalian. Kalian tu kayak adik adik kak Disya tau. Kalo ada apa apa bilang sama kak Disya biar kak Disya bunuh yang ganggu kalian.” Ujarnya dengan lembut.


Dava disana tidak tau harus terharu atau takut. Disya bicara sangat enteng ingin membunuh. Tapi dava tetap memeluk Disya balik dan berdehem pelan. disya melepaskan pelukanya dan tersenyum kepada Dava.” Akhirnya Disya punya keluarga. Disya sayang kalian.” Jelas disya lagi terkekeh.


Dava mendengarnya terunyah. Oh jadi Disya tidak punya keluarga? “ kak? Emang keluarga kak Disya kenapa?” Tanya Dava pelan. takut sebenarnya bertanya.


Disya berdehem pelan.,” Mama gue udah meninggal bunuh diri karena papa selingkuh, sampek sekarang papa masih sama selingkuhannya. “ jelas disya santai. Dava mendengarnya menatap disya sedih. Disya ditatap begitu mengibaskan tangannya.” Nggak usah tatap gue gitu. Gue enggak sedih lagi kok, Cuma kadang mau tusuk papa aja pakek pisau. Cuma karena disya anak baik jadi enggak dilakuin deh. soalnya papa lebih pantas hidup menderita ketimbang ketemu mama.” Jelasnya tersenyumlah lebar.


Dava mendengarnya merinding.” Kak kepiskiater yuk.?” Jelas Dava pelan.


Disya menatap Dava dengan tatapan murit.” Udah ribuan kali.” Jawabnya.


Dava terdiam mendengar Disya. Disya menghela nafas pelan.” tapi nggak bisa, ibaratkan Disya terlalu takut di sakitin mangkanya kalo ada yang nyakitin Disya., disya rasanya mau bunuh dan tusuk aja dia biar dia mati dan Disya nggak akan sakit lagi.,” jelas disya lirih.


Benar, Disya terlalu trauma dengan rasa sakit, jadi sewaktu waktu jika ada orang yang ia rasa mengancamnya, menyakitinya atau bagaimana itu, ia akan membunuh, melakukan yang diluar manusia normal. Semacam melakukan perlindungan untuk diri sendiri.


Mungkin menurut orang dirinya tidak normal. Tapi bagi Disya selagi dirinya aman dan apa yang dirinya miliki aman. ia akan melakukan semua hal yang tak normal.


“ kak.” Dava bertanya pelan menatap Disya menatapnya sekarang.” kalo semisal kak Kai nyakitin kakak apa kakak juga bakal nusuk atau bunuh Kak Kai?” Tanya Dava pelan. takut jika Disya akan melakukan hal serupa kepada kakaknya.


.


.


.

__ADS_1


terharu banget liat komentar kalian. sayang banyak banyak


__ADS_2