
Ricauan tak jelas yang diberi Disya ketika membersihkan toilet menggema dilorong. Ini pertama kalinya ia membersihkan suatu hal.”Untung pangeran yang nyuruh. Kalo orang lain, udah gue sunat dua kali.”Ujarnya menendang-nendang pelan didepannnya kasar.
“Gue nggak bisa ngepel ya Tuhan.”Gumamnya prestasi dan menggusap kepalanya. Ia memilih duduk diatas wastafel dan memegang kepalanya yang berdenyut.
Hidup dengan keluarga yang selalu memberikan apapun untuknya membuat ia tak bisa melakukan apapun, bahkan menyapu saja ia tak paham apalagi mengepel. Jangankan memeras air pel atau mmemengang sapu itu. Rasa jijiknya mempengaruhi otak liciknya itu. Sungguh bukankah hal itu sangat menjijikan? Memegang air penuh kuman atau tangkai gagang pelan atau sapu dipegang banyak orang. Aaakhh maafkan Disya yang lupa betapa menjijikannya darah yang selalu ia sukai itu.
Dibalik pintu sesoerang melihat Disya pun terenyah. Biasanya Disya selalu menyuruhnya jika ada hukuman, kenapa sekarang tidak? Ia meremas tanganya takut memberanikan diri masuk mendekati Disya. Disya yang merasa ada yang mendekatpun mendongak menaiikan satu alisnya. Sosok yang suka ia suruh-suruh tapi tak pernah ia bully. Akhh lebih memperbudak si.” Ngapain?” Tanyanya. ia lupa namanya tapi ia selalu memanggilnya Cupu.
Sosok itu memilin rok bawahnya.”Anu- kam-kamu nggak mau nyuruh aku buat bersih-bersih ini?”Tanyanya dengan pelan, suaranya habis dimakan angina. Andai saja telinga Disya tertutup kuman pasti sudah dimakan kuman sebelum masuk kegendang telinganya,
Disya mengernyit. “Mau si. Cuma kali ini nggak, soalnya gue bakal bersihin sendiri.”Ujarnya disana dengan malas, ia mengusap rambutnya kebelakang dan mengambil dasinya, ia mengikatnya sembarangan menggenakan dasi itu.
Sosok cupu itu menatapnya kaget, ada rasa kecewa didadanya. “Ke-kenapa?? Bukannya biasanya kamu nyuruh aku?”Tanyanya lirih. Disya merasa pana stelinganya.”Loe kok brisik banget si. Mau banget gue budakin?? Sana pergi kepala gue sakit liat loe.”Ujarnya memijit kepalanya sakit.
__ADS_1
Sosok Cupu itupun menunduk.”Ma-maaf. Ak-aku Cuma na-nanya.”Ujarnya disana lalu memilih pergi. Disya melihatnyapun menjadi diam mengernyit. Caisar tadi tidak melarangkan jika ada yang membantunya? Setidaknya ada yang mengajarinya? Jika dia sendiri kapan selesainya membersihkan ini semua?
“ Diem disana.”Ujar Disya disana. Sosok cupu pun tersenyum lebar dn berbalik. Disya menjadi ngeri melihat senyum yang sangat lebar itu.
“Nggak usah sneyum selebar itu, gue jadi ngeri takut gigi loe jatuh,”Ujar Disya namun tak diapik oleh dia karena terlalu senang.
“Loe bantuin gue dan ajariun gue cara megang sapu, tapi loe harus beli sapu yang baru dikoprasi. Gue nggak sudi megang sapu dari tangan kotor orang, pelan juga gue mau yang baru.”Ujar Disya disana dengan tak senang,,
Sosok itu mengangguk semangat. Disya mengeluarkan uang disakunya,”Tuh ambil, sisanya up loe kayak biasanya.”Ujar Disya memberikan uang tiga ratus ribu.
Disya disana mengernyit menatapnya aneh.”Manusia gila, dibudakin malah seneng, padahal orang mikirnya gue yang jahatin dia padahal dia sendiri yang nyerahin diri. Sialan..”Gumamnya tak senang, tapi meski begitu ia bersyukur sebab ada orang yuang suka rela ia suruh-suruh. Ia tau sebabnya.
Ahh sedangkan sosok yang disuruh itu bernama Isa, dia terkenal anak yang lumayan kaya karena memiliki kebun sawit yang lebar dan juga tokoh kelontong, namun sayang tak ada yang tau kita itu sudah tak lagi semenjak dua tahun lalu. Karena ayahnya yang berjudi menghabiskan harta mereka, ayahnya tertangkap karena kasus mengenakan obat terlarang. Semua hartanya habis yang tersisa hanya ibunya dan adik-adiknya. Ia memiliki ibu yang tak mengurusnya semenjak ayahnya pergi, lebih tepatnya lepas tangggung jawab. Hingga kedua adiknya ia lah yang menanggung biayanya. Ibunya pergi dengan menjual rumah satu-satunya membuat ia harus pergi. Tapi untungnya ia memiliki satu rumah perumnas atau tepatnya rumah kecil yang sempat ia beli dari tabungannya dan itu ditinggalin oleh mereka. Ia kerja mejadi salah satu pelayan di Bar sebab hanya disana yang menerima pekerja dimalam hari, siang ia tak bisa karena harus mengurus dua adiknya dan sekolah.
__ADS_1
Alasan kenapa ia mau-mau saja dibudaki oleh Disya setiap hari karena Disya bukan hanya menyuru-nyuruhnya saja. Lebih tepatnya ia dibayar. Biasanya Disya akan membayarkan sekitar seratus atau dua ratus ribu setiap ia dihukum, ia hanya perlu membersihkan WC kadang, atau ruang kepala sekolah, atau lagi dilapangan. kadang Disya tak segan memberinya uang lima ratus ribu dalam sehari membuat itu sangat membantu keungan dirumahnya.
Sejujurnya Disya melakukan itupun karena tau keadaannya, dulu Diisya pernah ke Bar bertemu dengannya. Disana Disya mengancamnya jika tak menuriuti perkataanya maka Disya akan menyebarkan rumornya. Isa dulu pernah marah dna kesal akan Disya yang bertindak semena-mena, namun ketika Disya memberinya upah dalam pekerjaanya ia sangat bersyukur dna menjadikan ini sebagai pekerjaannya. Yah jangan salahkan Isa yang selalu berharap Disya melaklukan keonaran.. yap ia adalah pendukung keonaran yang dilakukan disya haha.
Malam sudah menampakkan diri, Farel bekerja dicafe menggantikan kakaknya yang menyanyi, Cessy menggantikan Caisar ditempat Caisar bekerja. Mereka memang diberi tugas yang sama, namun bedanya mereka mengambil shif dari jam 5 sampai jam 10 saja dan akan pulang dijemput oleh Caisar, Caisar sendiri memilih mencari pekerjaan lain dimalam hari, ia sedang berusaha tetapi mengingat ia menjadi ketua osis selalu disuruh dan diberi tugas ia tak bisa berbuat banyak. Ia akan bekerja dihari libur saja.
Tok..Tok.Tok... ketukan diluar membuat Caisar yang sedang menyalin proposal lama dan baru untuk diserahkan keguru mengernyit., Cessy dan Farell sudah pulang kah?? Rafa disampingnya melirik sang kaka, ia baru saja mengajarkan sang adik mengernyit bingung.” Siapa yah kak? Apa bik Jina mau ngasih makanan kayak biasa?”Tanya. yah tetangganya sangat baik selalu berbagi makanan.
Caisar menggeleng.”Biar kakak yang buka. Kalian tunggu disini.”Ujar Caisar. Rafa menganguk dan mulai mengajarkan lagi Cleo. Rafa memang kebagian menjaga Cleo tak bekerja.
Caisar menghela nafas, membuka pintu.. “Siap-a?”Tanyanya dengan pelan namun terdiam.
Sosok didepannya tersenyum padanya. Sosok yang mengingatkannya pada masalalu, tubuhnya terasa kaku, darahnya mendiri, jantungnya berdegub kencang.. matanya terasa ingin menyemburkan larvanya tapi ia harus menahannya, ia mengepalkan tanganya erat disana.
__ADS_1
“Kamu sudah besar sayang?”Tanya wanita itu ingin mengelus kepala Caiisar yang tinggginya sudah diatasnya, namun terhenti ketika Caisar menghindarinya. Ia terenyah menatap Caisar kaku. Matanya pun menjadi bergetar. Apalagi menatap tatapan tajam dari Caisar, ia tak kuat.