Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Rafael


__ADS_3

Sudah dua jam perjalanan Caisar mereka baru mendarat caisar yang baru pertama kali naik pesawat melirik Andri karena tak tahu harus apa.


Andri yang ditatap Caisar tak paham pun menatap Caisar. “Kamu kenapa jetlag?”Tanyanya Andri memegang kepala Caisar disampingnya untuk mengecek suhu. Ia pikir Caisar sakit kepala.


Caisar menatap mata Andri bingung. Andri menatap mata Caisar menatap matanya menjadi kikuk. Ia menarik tangannya dari kepala Caisar dan berkata.” Hem pusing, iya pusing karena perjalanan udara.” Ujarnya berdehem sebentar menetralkan jantungnya yang terasa sedikit tidak normal.


Caisar paham, menggeleng.”Tadi aku cukup pusing disaat landas pertama, tapi sekarang tidak terlalu.”Ujar Caisar pelan.


Andri mendengarnya mengangguk.” Iya, lagi pula penerbangan kita tidak menimbulkan perubahan waktu disuatu tempat kadi biasanya efeknya tidak terlalu terasa. mungkin kamu hanya kurang terbiasa saja.”Ujarnya Pelan.


“ Pesawat sudah sampai cukup lama pak. Mari turun.. “ Keduanya mendongak menatap Deon yang bicara dan juga Bian yang datang mereka asisten Caisar dan juga Andri.


Andri mengangguk.”Yah..” Caisar ikut bangkit lalu merekapun turun. Tapi Caisar merasa mual dan pusing hampir jatuh.


Andrian melihatnya pun memegang pundaknya dan memapahnya. " biar saya bantu."


Caisar menatap Andri tak enak sebab merepotkan dirinya.


Andrian berjalan santai keluar menuntun Caisar. saat turun Caisar sedikit terpukau, angin menerpa wajahnya sanat kencang. Andri melirik Caisar yang tersenyum ikut tersenyum. Mereka turun dengan pelan.”Pak maaf.. Biar pak kai saya yang bawa.”Ujar Deon tak enak. Ia dari tadi ingin mengajukan diri, tetapi keadaan tidak memungkinkan.


Andri menatapnya dingin.”Tidak usah.”Ujarnya, Deon hendak menolak tapi Andri seakan tak memberi dirinya ruang membantah. Beberapa saat mereka sampai di lobi, disana sudah ada yang menjemput.


Caisar melirik Andri pelan.”Pak terimakasih, saya sudah cukup ebih baik kok.”Ujarnya pelan karena tak enak.


Andri menatapnya mengangguk melepaskan Caisar pelan, ia melirik mobil dan berkata”Kita akan berangkat. Ayo.” Ia memegang tangan Caisar untuk masuk.


Caisra kaget diam menuju mobilnya. Andri berwajah datar seakan tak masalah. Caisar menghela nafas. ia bersyukur Andri sosok yang hangat.


“Kamu.. dengan pacarmu sudah berapa lama bersama?”Tanya Andri pelan saat mobil sudah melaju. Deon dan Bian dimobil belakang.


Caisar meliriknya “ Hem tiga bulan.”Gumamnya.

__ADS_1


Andri mengangguk.” Dia tidak cantik, kenapa kamu suka dia?” Tanya Andri menatap jalan.


“Doa cantik kok.” Ujar Caisar membantah.


Andri melirik Caisar, mendekati wajahnya pada wajah Caisar. Caisar kaget mundur karena reflek.


“Kamu katarak parah, kita harus ke dokter sepertinya.”Ujarnya mendengus.


Caisar menghela nafas menetralkan rasa kagetnya.”Bapak kenapa terlihat weperti tidak suka dengan Disya?”Tanya Caisar ragu.


” Saya tidak bilang tidak suka pacar kamu,” Tegasnya Andri pelan.


Caisar mengernyitkan dahinya.” Terus bapak suka dengan dia?”” Tanyanya pelan.


Andri menatap Caisar jijik.” Tidak akan..”


“Terus kenapa bapak terlihat cemburu? Bapak tidak mungkin suka saya kan mangkanya cemburu haha.” Caisar tertawa garing dengan ucapannya.


Andri? Ia terdiam sesaat menatap Caisar tertawa keras, terlihat semakin menawan bak Peri, pantas saja Disya m namakan dirinya pangeran. ia memang pantas.


Caisar menghentikan tawanya menatap Andri. Andri menatapnya.”Haha," jeda tertawa lagi


"haha iya.. tidak mungkin aku suka kamu. Kamukan laki-laki haha.”Tawa Andri terpaksa.


Dan Caisar tertawa canggung menatapnya. Selain ramah dan hangat. Andri sangat aneh yah?


Caisar sedikit merinding


..........


Di lain tempat. Rafael diam menatap buku ditangannya damai. Saat ini mereka mendapatkan Jam kosong. karena gurunya melahirkan memberikan ia luang untuk belajar.

__ADS_1


Brak.. Buku yang ia pegang terbuang olehnya karena kaget. Ia menatap kesamping nya dimana meja yang ia duduki ditenang keras. Ia bisa melihat siapa pelakunya. Ia melirik buku yang terbuang, dan ternyata dibawah kakinya, ia menghela nafas hendak mengambil buku yang ia punya.


“ Wah lihat si miskin mau berlutut nih guys. Aduhhh jadi terhura hiks hiks. Minta tisu dong.” Rafa berhenti membungkuk menatap sang empu, sosok yang membuat gara-gara adalah Marvel beserta dua temannya bernama Jony dan Koko. Ekduanya tertawa melihat temannya yang main hakim.


Anak tiri dari ibu kandungnya, lelaki yang sudah mencelakai kembarannya hingga koma.


“Buku apa nih.” Marvel menendang buku yang dikaki Caisar.”Wohhh terbang. Ajaib yah,” Ia menatap binar buku yang terkoyak diujung kelas karena ulahnya.


“Maafin gue yah.,”Ia memegang bahu Rafa.


Dan Rafa diam menatap lengan Marvel. Marvel menarik tangannya “EWah sory gue nggak tau kalo tangan gue kotor. Tapi nggak apa-apa kali yah. kan loe memang kotor. Tukang pungut sampah.. ups..” Marvel pura-pura menutup mulutnya puas menatap ulahnya. Tapi senyum miring nan mengejeknya masih sangat kentara.


Rafa diam menatap bahunya yang hitam karena ulah Marvel.” Boss loe bisa aja haha. Mukanya sok polos banget padahal kotor. Dia gigolo nya mama loe kan hahaha.” Suara temannya Jhoni menyahur tertawa keras.


Dari tadi Rafa menahan diri untuk tak melawan, rasanya cukup Sullit.


Rafa disana tersenyum mendengarnya menatap ketiganya mengangguk.


“Tapi ngomong-ngomong..” Rafa menjeda ucapannya mengambil atensi ketiga orang tersebut beserta beberapa siswa yang melihat kejadian.” Kalo mau bully gue jangan lupa gosok gigi yah. soalnya mulut kalian bauh bangk*.” Bisik Rafa tersenyum. “Apa lagi itu tangannya jangan lupa yah di cuci, kelliatan bangetkan siapa yang suka mulung. Ups.... maafin yah. keceplosan.” Rafa menutup mulutnya tersenyum.


Marvel mendengarnya mendadak menjadi datar dan menatapnya masam.”Loe cari gara-gara sama gue? berani loe?”Tanyanya tegas. Koko yang dari tadi diam menatapnya menggeleng.


Jhoni ia sudah menarik kera baju Rafa.”Loe mau cari rebut sini maju.. mulut kok kayak banci..!” Bentaknya keras.


Caisar diam menatap keduanya, ia menghennpaskan tangan Jhoni. “ Wah banci teriak banci nih. Cirii-ciri manusia nggak tahu malu. Jangankan manusia, semut aja tau siapa banci dan siapa yang suka cari masalah.”Rafa berkata dingin menatap keduanya.


”Kenapa? kesepian yah soalnya nggak punya ibu mangkanya rebut ibu orang??? oh atau karena jadi anak broken home mangkanya nggak ada yang ngajarin buat sopan santun.” Rafa menyeringai menatap wajah Marvel dan Jhoni yang pias. Sebab bukan hal lumrah lagi jika mereka memang anak haram dan tidak punya ibu.


“Bangsat.. Brak..."


meja kembali ditendang, kali ini jauh lebih keras oleh Marvel, Marvel menarik kera baju Rafa keras. Rafa menatapnya dengan menantang.”Loe lupa loe juga nggak punya ibu beg0, bahkan loe dibuang sama bokap nyokap loe dinjalanan haha,. Loe sampah..!! loe bahkan lebih menjijikan dari sampaj..!!!” Tegasnya keras.

__ADS_1


Rafael mendengarnya tertawa.” Sampah sampah gini gue punya keluarga bahagia bro. loe? Engak kan?”Tanyanya.


Bugh..”Sialan loe.. anjing sini loe mati..!” Teriak keras oleh Martvel meninju wajah Rafael.


__ADS_2